
Mereka sampai ketempat ruang ilusi berada, disekitar bangunan ruangan itu terdapat banyak orang yang berkumpul. Mereka adalah para murid luar sakte ini, mereka semua melihat kearah layar yang ada dibangunan itu. Seorang perempuan berambut merah muda sedang bertarung melawan seorang pria, nama perempuan itu adalah Lin Yan.
Dia adalah perempuan yang Zen angkatan sebagai muridnya saat di dunia bawah dulu, meskipun Zen mengangkatnya sebagai murid namun Zen hanya sedikit mengajari Lin Yan teknik seni beladiri. Zen lebih tertarik dengan apa yang akan Lin Yan capai tanpa banyak Campur tangannya karena itulah Zen hanya melakukan beberapa hal kepada Lin Yan.
"Perempuan itu entah kenapa teknik pedangnya terasa sangat tidak asing."
Xia Shuang yang melihat pertarungan Lin Yan merasa kenal dengan teknik berpedang yang Lin Yan gunakan, untuk sesaat Xia Shuang berfikir dimana dia pernah melihat teknik berpedang itu.
"Bukankah itu adalah teknik berpedang kekosongan?"
Xia Shuang akhirnya tau teknik yang Lin Yan gunakan, Xia Shuang juga dapat menggunakan teknik itu namun pemahamannya tentang teknik itu jauh lebih baik dari pada Lin Yan. Gerakan Lin Yan masihlah sangat kasar karena itu Xia Shuang tidak langsung tau kalau teknik yang Lin Yan gunakan adalah teknik berpedang kekosongan.
"Apa ayah yang memberikan teknik itu kepadanya?"
"Iya, ayah yang memberikan kepadanya."
"Sangat tidak biasa melihat mu melakukan hal itu, apa ada sesuatu yang menarik dari dirinya?" Ucap Zhou Fan.
Zhou Fan memang tidak terlalu dekat dengan Zen namun selama Xia Shuang berada disakte ini Zhou Fan telah beberapa kali bertemu dengan Zen. Zhou Fan sedikit memahami tindakan yang terkadang dia lakukan, Zhou Fan tau kalau Zen tidak akan terlibat dengan urusan orang lain kecuali orang itu membuat dirinya tertarik.
"Apa alasan ayah memberikan teknik itu kepadanya?"
"Karena ayah tertarik dengan apa yang akan dia capai."
Zen tau kalau pada awalnya Lin Yan tidak pernah ingin belajar seni beladiri apalagi membunuh orang lain, namun setelah cukup lama bersama Zen Lin Yan menjadi ingin untuk belajar seni beladiri dan menjadi kuat. Lin Yan yang sebelumnya hanya seekor burung yang ada didalam sangkar kini keluar dari sangkarnya, Zen sedikit tertarik dengan apa yang akan dicapai oleh burung kecil itu.
__ADS_1
Lagi pula Zen juga membuatnya untuk menjadi kunci agar dia dapat menembus batasan surga, karena hal itu sekarang Zen ingin melihat apakah Lin Yan dapat menembus batasan surga atau tidak.
"Syukurlah, saya pikir ayah memberikan teknik itu karena dia cantik."
"Memang benar dia cantik namun ayah sama sekali tidak tertarik dengan kecantikannya."
"Baguslah jika benar begitu, jika tidak saya tidak akan tau apa yang akan ibu lakukan jika dia mendengar hal ini."
Zen langsung terkejut dengan apa yang Xia Shuang katakan, itu adalah sesuatu yang sangat tidak Zen harapan. sejak dulu Zen selalu menghindari berbagai macam hal yang berkaitan dengan ibu Xia Shuang, tentu saja Zen tidak pernah memberitahukan Xia Shuang siapa ibunya. Tentu saja Zen juga telah melarang Hao Chen dan yang lainnya untuk mengatakan apapun kepada Xia Shuang mengenai ibunya.
"Apa yang baru saja kau katakan?"
"Bukankah Theresia Avilia adalah ibuku."
Dengan santainya Xia Shuang berbicara seolah olah apa yang dia katakan bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Ke 4 orang itu adalah orang yang mengetahui siapa ibu dari Xia Shuang, Selain keempat orang itu tentu saja ada beberapa orang lain yang tau siapa ibu Xia Shuang sepertin Cheng Ning. Namun tidak ada alasan bagi Cheng Ning untuk memberitau hal itu kepada Xia Shuang bagaimanapun dia adalah orang yang membunuh ibunya.
Jadi ke 4 orang itu adalah yang paling memungkinkan untuk memberitau kepada Xia Shuang siapa ibunya, meski begitu Zen tidak berharap kalau salah satu diantaranya mereka ada yang memberitau Xia Shuang.
"Tidak ada dari mereka yang memberitahu saya, saya tau sendiri."
"Kalau begitu dari mana kau mengetahuinya?"
"Bukankah ayah merasa kalau nona Theresia yang sekarang berbeda dengan nona Theresia yang sebelumnya?"
__ADS_1
"Kau menyadarinya ya."
Theresia yang pertama kali Xia Shuang kenal adalah Theresia yang belum mendapatkan kembali ingatannya, dan Theresia yang Xia Shuang kenal saat ini adalah Theresia yang telah mendapatkan kembali ingatannya. Xia Shuang merasakan perbedaan itu pada saat beberapa Minggu setelah kematian Zen, saat itu Theresia melihat dirinya dengan tatapan yang sangat lembut.
Sebuah tatapan yang penuh kasih sayang, setelah melihat tatapan itu Xia Shuang langsung menyadarinya. Perempuan itu, Theresia Avilia adalah ibunya yang selama ini tidak pernah dia ketahui.
"Kau sekarang sudah besar jadi ayah rasa tidak ada yang aneh jika kau telah mengetahuinya. Jadi apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui ibumu yang selama ini selalu kau cari?"
"Untuk saat ini saya tidak mengetahuinya."
Meski Xia Shuang telah mengetahui siapa ibu nya namun belum ada yang berubah sama sekali, dia tidak menyangka kalau Theresia yang dekat dengan Zen itu ternyata adalah ibunya yang selama ini dia cari. Xia Shuang juga tau mengapa Theresia yang dia kenal itu bisa menjadi ibunya, itu karena sihir reinkarnasi. Menurut Xia Shuang jika Zen dapat menggunakan sihir itu maka tidak aneh jika Theresia juga dapat menggunakannya.
"Lakukanlah sesukamu, ayah tidak akan memaksamu."
"Iya."
Pada akhirnya selagi mereka saling berbicara Lin Yan telah selesai bertarung dan menang. Lin Yan segera keluar dari ruang ilusi itu bersama dengan Liu Yu.
Lin Yan langsung terkejut begitu melihat Zen berada disana, dia dengan cepat berjalan menuju kearah Zen. Seperti seorang anak kecil yang baru bertemu dengan ayahnya Lin Yan mencoba untuk memeluk Zen, namun karena Xia Shuang berada didekatnya Zen dengan cepat mengelus kepada Lin Yan agar dia tidak jadi memeluknya.
"Bagaimana kabarmu Lin Yan?"
Zen menunjukan sebuah senyuman kecil kepada Lin Yan, Lin Yan senang melihat senyuman itu. Dia sendiri telah naik kedunia atas ini beberapa tahun yang lalu, namun dengan kepribadiannya yang tertutup Lin Yan masih belum dapat mempercayai siapapun kecuali Liu Yu.
Bahkan pada saat Ling Hao menemuinya dan ingin membawanya kesakte ini Lin Yan sempat menolak ajakan Ling Hao, namun setelah Ling Hao menyebutkan nama Zen Lin Yan jadi menyetujui ajakan Ling Hao dan berharap kalau dia akan bertemu dengan Zen.
__ADS_1
Sekarang harapan itu telah terwujud, Lin Yan kini dapat melihat Zen. Berbeda dengan dirinya yang dulu kini Lin Yan sudah dapat menggunakan Ekspresinya dengan baik, sebuah senyuman yang manis Lin Yan tunjukan kepada Zen.