
Saat ini Zen, Fernanse, dan Irene sedang berada didalam sebuah kereta kuda. Mereka sedang menuju kekastil leluhur ke 2 untuk menghadiri pertemuan .
"Hei Zen."
"Ada Apa Fernanse?"
"Bukankah kau bilang kalau kita akan segera melihat sesuatu yang menarik. Lalu mengapa kita harus duduk disini dalam waktu yang lama?"
Perjalanan jauh membuat Fernanse merasa bosan. Ekspresi wajahnya mirip dengan saat dia mengajak Zen keluar dari kamarnya.
"Wahai Fernanse, Apa pernah aku bilang Seperti itu?"
"Aku yakin kau pernah bilang seperti itu. Kau bisa bertanya kepada nona Irene jika kau lupa."
"Irene, apakah benar apa yang dikatakan oleh Fernanse?"
"Maaf yang mulia, saya tidak ingat apa apa mengenai masalah itu."
"Kau dengar itu Fernanse. Bahkan Irene berkata kalau aku tidak pernah mengatakan itu."
"Iya, aku dengar, aku dengar."
Suasana didalam kereta menjadi hening, didalam kereta itu hanya dapat terdengar suara lembaran buku yang dibalik.
"Wahai Irene, jika aku boleh tau buku apa yang sedang kau baca itu?"
"Zen berhentilah berbicara dengan nada yang seperti itu. Kau terdengar menjijikan."
"Bukankah dengan aku berbicara dengan nada seperti itu maka akan dapat menghilangkan rasa bosanmu?"
"Tidak, kau malah membuatku semangkin bosan."
"Yang benar saja, Apa kau serius Fernanse?"
"Iya, kau serius."
Suasana dikereta kembali menjadi hening. Sama seperti sebelumnya, hanya suara kertas yang terdengar didalam kereta itu.
"Ngomong ngomong Irene, kau belum menjawab pertanyaaku. Buku apa yang kau baca itu?"
"Buku yang bercerita tentang perjalanan pahlawan."
"Oh, begitu ya."
"Ada apa Zen? Sepertinya kau menjadi tidak semangat setelah mendengar isi dari buku itu. Apa kau membenci pahlawan? "
__ADS_1
"Tidak, aku sama sekali tidak membenci pahlawan. Aku hanya tidak menyukai mereka."
"Kenapa?"
"Itu karena mereka sangatlah lemah."
Dulu Zen telah banyak membaca buku yang berisi tentang para pahlawan. Namun didalam semua buku yang dia baca, semuanya memiliki kesamaan.
Didalam semua buku itu, menurut Zen semua pahlawan sangatlah lemah. Didalam semua buku yang Zen baca, para pahlawan selalu kehilangan sesuatu yang berharga bagi mereka. Karena itulah Zen tidak terlalu menyukai pahlawan yang sangat dihormati oleh manusia.
"Kalau begitu maafkan saya yang mulia. Saya tidak tau kalau anda tidak menyukai pahlawan. Saya akan menyimpan buku ini."
"Itu tidak perlu Irene. Kau dapat membaca buku itu sesukamu. Lagipula bukankah kau menyukai pahlawan?"
"Tidak yang mulia. Sama seperti anda saya juga tidak menyukai pahlawan."
"Heh. Ini pertama kalinya aku mendengar itu."
"Bukankah itu karena saya tidak pernah bercerita sebelumnya?"
"Kalau diingat ingat kurasa kau benar."
Tiba tiba kereta yang naiki berhenti. Akibat dari guncangan karena kereta berhenti mendadak, Fernanse yang duduk dengan santai kini terjatuh.
Fernanse yang tidak tau apa yang ada diluar bertanya kepada Zen.
"Tidak, kita belum sampai kekastil leluhur ke 2."
"Jadi kenapa kita berhenti?"
"Hmm, bagaimana ya bilangnya. Mungkin akan lebih baik kau melihatnya sendiri keluar, setelah itu kau pasti akan melihat sesuatu yang menarik."
"Benarkah?"
"Ya"
Mendengar perkataan Zen, Fernanse segera pergi keluar dari kereta. Diluar dia melihat sesuatu yang membuatnya menjadi sangat senang, sangat senang sehingga dia dapat melupakan rasa bosan yang dia rasakan selama perjalanan.
Wajah Fernanse Juga menjadi terlihat lebih baik dari sebelumnya. Sebelumnya Fernanse selalu menunjukan wajah yang terlihat membosankan, namun kali ini Fernanse menunjukan wajah bahagia seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
"Zen, apakah itu asli?"
"Ya itu asli."
"Bagaimana kau bisa tau kalau itu asli? Kau bahkan masih belum keluar dan melihat mereka?"
__ADS_1
"Aku dapat mengetahuinya dari aura yang mereka keluarkan."
Selain dapat mengubah aura miliknya, Zen juga dapat merasakan aura miliki mahluk hidup lainnya dari jarak yang cukup jauh. Entah itu manusia, monster, iblis, ataupun vampir, Zen dan dapat merasakan aura mereka dan membedakannya dengan jelas.
Juga sejak awal Zen sudah mengetahui kalau perjalanan mereka akan terganggu, oleh karena itulah Zen sama sekali tidak menunjukan wajah yang terlihat bosan.
3 Naga terbang didepan kereta kuda yang Zen naiki, Fernanse Melihat mereka dengan wajah yang Kesenangan. Sedangkan untuk Irene, dia sama sekali tidak khawatir dengan situasi yang ada saat ini. Dia terus menerus membaca buku yang dia pegang.
Melihat Irene yang tetap tenang, Zen pun akhirnya keluar dari kereta kuda. Zen melihat melihat ke 3 naga yang ada didepan mereka mulai turun ke tanah. Para Naga itu memiliki warna yang berbeda beda, ada yang yang berwarna merah, hijau dan hitam.
Salah satu naga yang berwarna merah menyemburkan nafas api kearah kereta mereka. Semburan nafas api itu membuat daerah disekeliling kereta Zen menjadi tanah yang gosong, pohon pohon disekitar kereta Zen pun juga langsung menjadi butiran abu.
Meski Semburan nafas naga itu sangat kuat, namun itu masih belum cukup untuk menghancurkan penghalang yang Zen pasang.
"Uwah, bukankah akan sangat berbahaya jika kita terkena api itu?"
"Memang benar akan berbahaya jika kita terkena api itu. Tapi Fernanse, meski kau tau kalau api itu sangat berbahaya kau tetap tidak merasa ketakutan. Malahan tatapan matamu saat ini seperti sedang melihat mainan baru."
"Mau bagaiman lagi, kau tau bukan kalau dulu aku sangat jarang keluar kastil jadi aku jarang melihat mahluk seperti mereka. Bahkan setelah menjadi roh kegelapan aku hanya beberapa kali melihat mereka."
"Oh, begitu ya."
"Ya. Tetapi bukankah menurutmu 3 naga terlalu banyak untuk dilawan? Apa yang akan kau lakukan?"
"Apa yang kau takutkan? Ke 3 naga itu mungkin baru berusia 50 tahunan. Jadi mereka bukanlah masalah yang besar."
"Oh, begitu ya. Kalau begitu kau lawanlah mereka."
"Tanpa kau suruh aku juga akan melakukannya."
Zen berjalan pergi menuju kearah ke 3 naga itu berada. Zen berhenti berjalan ketika jarak antara dia dan ke tiga naga itu menjadi sekitar 10 meter. Ketiga naga itu memandang rendah Zen yang datang kearah mereka.
"Manusia,... Tidak Vampire. Apakah kau pikir kau dapat mengalahkan kami sendirian?"
Naga yang berwarna merah berbicara dengan nada yang terdengar cukup sombong. Hanya dengan melihatnya saja Zen dapat mengetahui kalau Naga yang berwarna merah itu adalah pemimpin dari ke 2 naga yang lainnya.
"Ya. Mengalahkan naga muda seperti kalian sangatlah mudah bagiku."
"Kau merendahkan kami, Dasar Vampire Rendahan!!"
Naga yang berwarna merah menyerang Zen dengan menggunakan tangan miliknya. Namun sebelum tangan naga itu dapat mendekati Zen, Zen sudah terlebih dahulu berpindah tempat. Dalam waktu yang singkat, Zen sudah berada didepan wajah naga yang berwarna merah itu.
"Makanlah ini!"
Zen memukul wajah naga yang berwarna merah itu. Akibat dari serangan itu, naga yang berwarna merah itu terhempas cukup jauh.
__ADS_1