
Lautan api mengelilingi sebuah desa yang merupakan sebuah desa kecil dimana para warga yang tinggal di desa itu menghidupi diri dengan cara bertani. Kini desa itu di selimuti api yang disebabkan oleh sekelompok bandit yang suka menjarah desa desa kecil. Bau darah dan mayat ada dimana mana, para mayat itu adalah para warga desa yang tinggal didesa itu.
"Cepat pergi dari sini, ibu dan ayah akan menyusulmu nanti."
Ucap seorang ibu yang ingin agar anaknya pergi dari desa dengan harapan kalau anaknya akan dapat menyelamatkan diri dari para bandit yang sedang menjarah desa mereka.
"Baik"
Gadis polos itu langsung melakukan apa yang disuruh oleh ibunya tanpa ada sedikitpn ada rasa ragu. Diselimut oleh langit malam yang gelap dan memiliki kaki yang terluka gadis terus menerus lari menjauh dari desa, dengan air mata yang berjatuan, meski dia merasakan rasa sakit yang luar biasa karena kakinya yang terluka gadis itu tetap terus belari. Sampai pada akhirnya gadis itu berhenti berlari di padang rerumputan yang luas, diselatan padang rumput terdapat sebuah hutan yang luas dan diutaranya terdapat sebuah gunung yang diselimuti oleh salju.
Meski dia dapat berlari kearah selatan yang terdapat hutan yang luas atau ke utara dimana terdapat gunung yang diselimuti oleh salju, namun gadis itu lebih memilih beristirahat disebuah batu yang berada di padang rumput itu dengan harapan kalau kedua orang tuanya akan menemuinya ditempat itu. Namun harapan yang dimiliki olehnya tidak lain hanyalah sebuah harapan palsu yang tidak akan pernah terwujud.
__ADS_1
^^^^ ^^^^
Pagi telah tiba ditemani oleh terangnya matahari pagi yang menyinari dunia yang memiliki jutaan mahluk hidup didalamnya. Aku terbangun karena terkena silaunya matahari pagi, aku meresakan kelembutan yang sedang berada diatas perutku. Aku mencoba melihat apa yang ada diatas perutku, tak terduga kelembutan yang ada diatas perutku itu ternyata adalah shiroki. Dia sepertinya telah bangun dari tidurnya, aku mengangkat shiroki dan menaruhnya didepanku.
Beberapa hari lagi aku mungkin akan sampai ketempat tujuanku yaitu menara ai, untuk sebuah perjalanan yang cukup lama tenaga yang banyak sangat dibutuhkan. Makan adalah salah satu cara untuk memulihkan tenaga yang hilang, Aku menyiapkan beberapa daging yang akan kugunakan sebagai sarapanku. Karena terbatasnya alat memasak aku hanya membakar daging itu, aku juga menyiapkan beberapa batu sihir untuk shiroki.
Selesai makan aku langsung pergi menuju gunung salju abadi, hanya dalam beberapa saat aku langsung bertemu dengan seekor monotaurus. Monotaurus itu melihatku dan dia langsung datang ke arahku dengan penuhnya, tidak seperti kemarin dimana aku melawan sekumpulan monotaurus dengan pisau terbang untuk melatih keterampilanku dalam meggunakannya. Kali ini aku akan menggukan pedangku untuk membunuhnya agar tidak membuang banyak waktu, jarak antara monotaurus itu dengan ku mulai menipis. Begitu dia berjarak hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri aku langsung menebasnya dengan pedangku, meski daging monotaurus keras dengan menggunakan pedang yang diberikan oleh guru memotong dagingnya adalah hal yang mudah meskipun tanpa melapisi pedang dengan sihir black hell.
Pertarungan antara aku dan dan monotarus itu tidak berjalan lama, hanya dengan satu gerakan tadi monotaurus itu telah berubah menjadi dua bagian. Tanpa mengambil tanduknya aku terus melanjutkan perjalanku, disaat aku hampir keluar dari hutan dan memasuki wilayah padang rumput, disitu aku bertemu dengan seekor beruang bertanduk. Beruang ini terkenal karena keganasannya, dengan bulu hitam pekat seperti malam tanpa bulan, meskipun gerakannya cukup lambat namun cakar tajamnya dapat merobek kulit manusia dengan mudah.
__ADS_1
"ah ha, sepertinya aku cukup sial hari ini."
Hari masih pagi bahkan matahari saja belum terasa cukup panas tapi aku sudah bertemu dengan dua monster, sepertinya hari ini akan menjadi hari terberat yang pernah kualami. Aku mengeluarkan pedangku dari sarungnya, dengan melapisinya dengan sihir black hell aku bersiap menyerang beruang itu. Jika dia yang menyerangku duluan maka akan cukup sulit untuk membalasnya, untung saja beruang itu belum menyadari kehadiranku. Aku mempersiapkan mantra flash dan langsung menuju ke beruang itu, dengan tubuhnya yang besar maka akan sulit baginya untuk menghindari serangan mendadak ku.
Dengan mudah aku memotong kepala dari beruang itu, disaat aku berfikir kalau itu sudah berakhir beruang bertanduk yang lain datang menuju kearahku. Akan sulit untk menghadapi beruang itu secara langsung, aku langsung menganti pedangku dengan pisau terbang. Aku melempar kelima pisau ku yang sudah dilapisi oleh sihir black hell, karena tubuh beruang itu lebih besar dari beruang yang kubunuh tadi maka akan sangat sulit baginya untuk menghindari lima pisau terbang yang kulempar dengan kecepatan yang tinggi.
Sebelum mencapaiku beruang itu telah mati karena api yang ada dikelima pisau ku membakarnya dari dalam. Aku menarik kembali kelima pisauku dan langsung pergi dari tempat itu sebelum beruang yang lainnya datang. Akhirnya aku sudah memasuki wilayah padang rumput yang mana disisi lain padang rumput ini adalah gunung salju abadi, ditengah padang rumput itu aku melihat sebuah batu besar.
Aku menju batu besar itu dengan tujuan untuk beristirahat disitu, begitu sampai dibatu itu aku melihat seorang perempuan dengan rambut pirang panjang yang terurai, bajunya yang kotor dan kaki yang terluka. Perempuan itu duduk dia dengan tatapan kosong yang terlihat dimatanya, dia memiliki pandangan seperti seseorang yang telah tidak memiliki keinginan akan kehidupan, ekspresi diwajahnya menunjukan seperti semua harapan yang paling diingikannya tidak terwujud. Dia mengingatkan ku pada diriku yang dulu.
__ADS_1
Hei, nama mu siapa?