Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Lin Yan


__ADS_3

"Nama?"


Zen bertanya sambil menatap gadis itu dengan tajam.


"Lin.... Yan."


Dengan ekspresi yang kosong gadis itu menjawab pertanyaan Zen seolah olah dia sama sekali tidak takut dengan tatapan Zen.


"Apa kau menginginkan kematian?"


"Tidak, saya tidak menginginkan hal itu."


"Tapi ekspresi mu menunjukan kalau kau menginginkannya."


"Apa terlihat seperti itu?"


"Iya, terlihat sangat jelas."


Sebuah tatapan mata yang penuh kekosongan sekaligus keputusasaan, itulah ekspresi yang terlihat diwajah Lin Yan saat ini.


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin melihat dunia luar dan menjelajahi nya."


"Meskipun ekspresimu mengatakan kebalikan dari apa yang kau inginkan?"


"Mungkin ini karena aku sudah lupa bagaimana cara menunjukan ekspresi yang tepat."


"Apa yang akan kau lakukan jika kau memiliki kesempatan untuk dapat pergi keluar dari sini?"


"Tentu saja aku akan langsung pergi keluar dari sini dan melihat dunia luar, namun hal seperti itu tidak akan pernah terjadi."


"Kalau begitu berbahagialah Lin Yan, mulai saat ini kau akan dapat melihat dunia luar."


Mendengar perkataan Zen, Lin Yan langsung melihat kearahnya dengan tatapan kosong itu.


"Apa itu sebuah kebohongan?"


"Tidak, apa yang kukatakan adalah sebuah kebenaran."


"Apa yang kau inginkan sebagai gantinya, apa kau menginginkan tubuhku?"


"Tidak aku sama sekali tidak menginginkan tubuhmu, tapi yah kira-kira apa yang harus kuminta darimu ya."


Pada awalnya Zen berniat untuk membunuh semua yang ada didalam kediaman ini, namun setelah dia melihat Lin Yan, Zen memutuskan untuk tidak membunuhnya.


Apa yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang tidak ada dalam rencana. Zen sedikit binggung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang, dia bisa saja tidak meminta bayaran apapun kepada Lin Yan.


Namun jika Zen melakukan itu dia hanya akan membuat Lin Yan berfikir kalau Zen sama sekali tidak serius untuk membuatnya melihat dunia luar.


"Bagikan jika kau menjadi murid ku saja?"

__ADS_1


"Murid?"


"Iya, dunia luar adalah sesuatu yang dipenuhi oleh pertarungan. Untuk dapat tetap hidup didunia luar kau harus memiliki kekuatan untuk melindungi diri sendiri, jadi selama aku berada didunia ini aku akan sedikit melatih dirimu."


"Kalau begitu murid ini akan berada dibawah bimbingan anda."


Lin Yan sujud didepan Zen dengan ekspresi yang masih kosong itu.


"Kalau begitu mulai saat ini kau adalah murid ku. Sebagai hadiah dariku sebagai permulaan aku akan menyembuhkan lukamu."


Zen mengelukan sebuah pil dan memasukannya kedalam mulut Lin Yan, dalam hitungan detik semua luka lukanya mulia sembuh.


"Sekarang berdirilah dan ikuti aku."


Menuruti perkataan Zen, Lin Yan langsung berdiri dan berjalan mengikuti Zen.


Mereka berjalan menuju pintu gerbang kediaman keluarga Lin, begitu sampai Zen langsung menghilangkan penghalang yang dia buat.


Diluar telah Banyak orang berdiri, bahkan Ye Xue Yun juga berada disana.


"Apa yang kau lakukan disini Xue Yun?"


"Tidak, aku hanya ingin tau apa kau benar benar membunuh semua orang yang ada didalam sana?"


"Aku tidak membunuh mereka semua."


"Baguslah kalau begitu. Lalu siapa perempuan itu?"


Zen memegang tangan Lin Yan dan langsung membawanya pergi.


"Tunggu Zen, kau tadi bilang kalau kau tidak membunuh mereka semua bukan?"


"Iya, aku mengatakan hal itu."


"Kalau begitu mengapa aku tidak dapat merasakan sedikit hawa berasalan dari dalam sana?"


Mendengar pertanyaan Ye Xue Yun , Zen langsung berhenti berjalan dan melihat kearahnya.


"Karena tidak ada lagi yang hidup didalam sana."


"Bukankah mengatakan kau kau tidak membunuh mereka semua?"


"Iya aku memang tidak membunuh mereka semua, aku membiarkan Lin Yan untuk tetap hidup."


"Bukankah itu tidak ada bedanya dengan kau membunuh mereka semua."


Xue Yun menjadi sedikit hilang kendali, pada awalnya dia percaya dengan perkataan Zen. Namun setelah mengetahui apa yang dimaksud oleh Zen dia menjadi tidak mengerti lagi ala yang harus dia lakukan.


"Xue Yun, seperti yang kubilang sebelumnya. Apapun yang kulakukan tidak ada hubungannya dengan keluarga mu, jika kau marah atas apa yang kulakukan maka angkatlah pedangmu dan bunuh diriku."


Zen merentangkan tangannya lebat lebar, tindakannya itu mengatakan kalau dia menyuruh Ye Xue Yun untuk mengangkat pedang miliknya dan tusuk dada Zen.

__ADS_1


Namun Ye Xue Yun sama sekali tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu, Zen merasa Xue Yun tidak akan melakukan seberapa lama pun dia menunggu.


"Xue Yun, jika kita memang memiliki kesempatan maka kita pasti akan segera bertemu kembali."


Zen pun segera berbalik, bwrsamya dengan Lin Yan, Zen berjalan menjauh dari Xue Yun.


********


Setelah Membawa pergi Lin Yan, Zen mengunjungi sebuah toko pakaian dan menyuruh Lin Yan untuk memilih pakaian yang dia suka.


"Bagaimana dengan pakaian ini Guru?"


Lin Yan telah memilih pakaian yang dia suka, dia menunjukkannya kepada Zen dan meminta pendapatnya.


"Seperti yang kukatakan, pilihan pakaian yang kau sukai."


"Kalau begitu saya akan memilih yang ini."


Berbeda dengan beberapa saat yang lalu, Lin Yan Kini mulai menunjukan lebih banyak ekspresi dan dia juga terlihat lebih cantik dari yang sebelumnya.


"Kalau begitu ayo kita pergi."


Zen langsung membayar pakaian itu dan pergi meninggalkan toko itu. Mereka berdua berjalan menuju kehutan.


"Kemana kita akan pergi guru?"


"Kota Yun Hai."


Pada saat Lin Yan sedang memilih pakaiannya, Zen membeli beberapa informasi dari pelayan toko. Dan Zen dapat mengetahui kalau dari kita ini ada sebuah kota yang tidak terlalu jauh.


Zen berencana untuk pergi ke kota itu dan mencari beberapa informasi.


"Apa kita akan berjalan kaki menuju kesana?"


"Mana mungkin, menurutmu berapa lama kita akan sampai jika berjalan kaki?"


"Saya tidak tau, saya tidak pernah keluar dari rumah sebelumnya."


Sejak kecil Lin Yan selalu berada didalam rumah dan semua apa yang dia perlukan selalu diberikan oleh pelayanya. Setelah dia berusia 10 tahun kehidupan Lin Yan menjadi berubah drastis.


Sejak hari itu dia selalu mendapat penyiksaan dari ibunya yang lain, ayahnya selau bersikap seperti tidak pernah melihat apapun. Semenjak saat itu juga Lin Yan tidak tau cara menunjukan sebuah ekspresi yang tepat.


"Yah aku tidak bisa menyalahkan mu."


"Jadi apa kita akan kesana dengan berjalan kaki guru?"


"Tidak, kita akan terbang."


Zen langsung mengendong Lin Yan dan terbang menuju kota Yun Hai.


Perjalanan membutuhkan waktu berhari hati, setiap malah hari Zen selalu berhenti terbang dan membiarkan Lin Yan beristirahat. Dan selama beberapa hari itu juga Zen sedikit demi sedikit mulai memahami Lin Yan dan Lin Yan Juga mulai banyak menunjukan ekspresi yang jarang dia perlihatkan sebelumnya.

__ADS_1


Setalah beberapa hari perjalanan mereka akhirnya sampai ke kota Yun Hai.


__ADS_2