Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Kekuatan Pelayan Keenam


__ADS_3

[Medan Pertempuran Disekitar Gua]


Setelah accua selesai merapal mantra dia dapat bergerak dengan sangat cepat. Jika seseorang hanya mengandalakan matanya untuk melawan seseorang yang menggunakan sihir maka pasti orang itu tidak akan memiliki kesempatan untuk menang, namun beda cerita jika lawannya adalah monster yang dapat merasakan aura orang lain.


Seperti high orc yang sedang dilawan accua saat ini, High orc yang kali ini lebih kuat dari pada high orc yang sebelumnya. Setiap kali accua melancarkan serangan pasti akan suara besar yang disebabkan oleh tumburan antara tanah dan pedangnya. Meski begitu semua serangan yang dia lakukan adalah sia sia.


'Cih, sungguh monster yang merepotkan.'


Meskipun accua sudah menggunakan sihir namun high orc yang dilawannya dapat menghidari serangannya. Alasan mengapa para high orc itu dapat menghindari serangannya adalah karena aura membunuh yang dikeluarkan accua, itulah penyebab mengapa para high orc itu dapat menghindar meskipun tidak dapat melihat accua.


'huft, jika dengan sihir ini aku tidak dapat membunuhnya dengan mudah maka sepertinya tidak ada alasan untuk menggunkannya saat ini.'


Accua menyadari kalau para high yang kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, dia membatalkan sihir nya. Kali ini dia bertarung melawan para high orc itu tanpa menggunkan sihir, dengan kata lain dia hanya menggunakan skill berpedangnya saja. Accua terus menerus menyerang para high orc itu, kali para high orc itu tidak menghindari serangan dari accua karena mereka masih dapat melihat gerakan pedangnya.

__ADS_1


'terus! terus! teruslah tahan seranganku.'


Semangkin sering para high orc itu merespon serangannya, accua menjadi semangkin senang. Sesaat accua berhenti menyerang dan hanya diam berdiri, melihat accua yang terdiam para high orc itu menyerang accua secara bersamaan. Tongkat batu yang digunakan para orc itu menghantam tanah dengan kuat sehingga menimbulkan debu yang banyak. Namun seperti serangan yang dilakukan accua sebelumnya, serangan para high orc adalah sebuah serangan yang sia sia.


Sebelum serangan para high orc itu mengenai accua, accua sudah terlebih dulu melompat keatas. Para high orc itu terlambat untuk menyadari keberadaan accua karena saat melompat accua menghilangkan auranya beberapa saat. Meski kelengahan para orc itu tidak lama, accua tidak menyianyiakan kesempatan itu. Dia segera menyerang salah satu high orc itu dari atas, menyadari aura accua yang perlahan mulai keluar berasal dari atasnya, high orc menahan serangan accua.


Tongkat batu high orc itu tidak dapat menahan serangan dari accua hingga pada akhirnya hancur dan pedang accua memotong high orc itu dari kepala sampai kedadanya.


"1 sudah mati, Sekarang tinggal 3 lagi ya."


"Mungkin lebih baik jika aku membersihkan kalian sekaligus."


Accua segera pergi sedikit menjauh dari 3 high orc yang mengepungnya.

__ADS_1


"Datanglah, pelayan keenam, 'Tiamat Albus'."


Segera mahluk menyerupai naga muncul dibelakang accua, naga itu memiliki 4 kepala. Masing masing kepalanya memiliki warna yang berbeda. Naga itu merupakan pelayan ke 6 dari 10 Pelayan yang dimiliki oleh leluhur pertama, dan juga pelayan ini diberikan bersamaan dengan sihir oleh leluhur pertama.


3 kepala dari naga itu mulai mengumpulkan sihir dimulutya. Kepala berwarna merah mengumpulkan sihir api, kelapa berwarna hijau mengumpulkan sihir angin, dan kepala berwarna biru mengumpulkan sihir es.


Para kepala itu mulai menyerang ketiga high orc yang ada didepan accua, tanpa bisa menghindar ketiga ketiga high orc itu mati dengan cara yang berbeda. Ada yang mati hangus terbakar, mati terpotong dengan rapi, dan mati seperti bongkahan es yang hancur.


Melihat ketiga high orc itu mati tanpa dapat melawan sedikitpun, accua tersenyun kecil dan segera menyarungkan kembali pedangnya.


"Baiklah, mungkin saatnya aku membantu yang lain."


Accua hendak pergi untuk membantu yang lain, namun sebelum sempat untuk melangkah accua terkagetkan oleh sosok yang ada disekelingnya.

__ADS_1


"Sial, yang benar saja hoi."


Karena dia terlalu fokus dengan perterungannya tadi, accua sampai tidak memperhatikan sekelilingnya. Hal itu membuatnya berada disituasi yang sangat buruk ini.


__ADS_2