Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Pria Tua Dipuncak Gunung


__ADS_3

Zen telah berhasil membuat Lin Yan untuk menerima apa yang dia lihat sedikit demi sedikit.


setelah itu Zen tadinya hendak mencabut belati yang menusuk tangan Qiu Ming, namun dia merasakan hawa keberadaan yang besar datang menuju ketempat nya saat ini.


Tapat seperti yang Zen rasakan dia dapat melihat 3 orang dewasa, dibelakang ke 3 orang itu Zen dapat melihat pelayan Qiu Ming yang pergi melapor tadi.


'Mereka pasti para tetua dari keluarga Qiu.'


Salah satu dari ke 3 orang itu berada dialam hidup dan mati lapis ke 4, dalam hal kultivasi dia hanya satu tingkat dibawah Zen.


Ketiga orang itu berjalan kearah Zen, mereka sedikit mengeluarkan aura untuk mengintimidasi Zen. Namun sangat disayangkan Zen sama sekali tidak berpengaruh dengan intimidasi mereka.


'Meanarik, Pemuda ini masih dapat bertahan.'


Salah satu pria yang berada di alam hidup dan mati itu sedikit tertarik dengan Zen karena dia sama sekali tidak terpengaruh oleh aura yang mereka keluarkan.


Pria itu lalu mengeluarkan lebih banyak auranya, orang orang yang ada disekitar mereka menjadi kesulitan bernafas karena tekanan aura itu.


Zen lalu melihat kearah Lin Yan, wajah Lin Yan menjadi pucat dan dia sedikit mengalami kesulitan bernapas. Zen lalu mengalirkan energi spiritual miliknya ke Lin Yan, dan Lin Yan menjadi dapat sedikit bernafas.


"Bisakah kalian menghilangkan aura yang kalian keluarkan itu, dia menjadi kesulitan bernafas."


"Bagaiman jika aku menolak?" Ucap pria yang berada di alam hidup dan mati itu.


"Maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu yang buruk kepada kalian."


"Kita berbicara dengan kekuatan bukan dengan perkataan, cobalah buktikan kalau kau dapat membuat kami bertiga menyesal karena tidak menuruti perkataanmu."


Zen mengalirkan lebih banyak energi spiritual miliknya kepada Lin Yan agar dia nantinya tidak akan terpengaruh oleh aura yang dia keluarkan.


"Baiklah, kalau begitu usahan jangan mati."


Zen lalu mengeluarkan setengah aura miliknya, lantai yang Zen pihak menjadi hancur. Sebagian orang yang berada ditempat itu langsung tidak sadarkan diri begitu Zen mengeluarkan aura miliknya.


"I.... Ini.... Tekanan yang sangat kuat."


Ketiga pria itu memuntahkan darah dari mulutnya, mereka tidak dapat mempertahankan pijakannya dan mereka bertiga langsung berlutut.


Setelah melihat apa yang terjadi dengan ke 3 pria itu Zen merasa kalau apa yang dia lakukan sudah cukup. Zen lalu berhenti mengeluarkan aura intimidasi miliknya.


"Apa ada yang ingin kalian katakan?"


Zen menatap ke 3 orang itu dengan tajam.


"Yang satu ini memiliki mata namun tidak dapat melihat gunung yang ada didepan. Maafkan yang satu ini."


"Yah, terserahlah. Jadi apa yang kau inginkan?"


"Yang satu ini ingin meminta belas kasihan untuk anak saja."


"Anakmu? Berarti kau adalah kepala keluarga Qiu?"


"Iya, saya adalah kepada keluarga Qiu. Nama saya Qiu Yang."


"Begitu ya."


Zen lalu berjalan menuju kearah Qiu Ming yang pingsan karena aura yang dia keluarkan, Zen lalu menarik kembali belati yang dia tusukkan ketangan Qiu Ming.


"Bawalah anakmu, luka itu adalah bayaran dari perbuatannya. Dan ingat jangan pernah untuk berfikir ataupun untuk mencoba membunuhku. Jika kau melakukan hal itu maka aku akan meratakan keluarga Qiu pada hari itu juga."


"Terima kasih atas belas kasih anda."


Qiu Yang lalu menyuruh kedua orang yang ada dibelakangnya untuk membawa Qiu Ming dan Cui Xie, mereka lalu pergi meninggalkan tempat makan itu.


"Ayo kita pergi Lin Yan."


"Baik."


Zen lalu pergi ketempat penjaga tempat makan ini, dan dia membayar semua biaya kerusakan yang telah dia buat.


Setelah itu Zen lalu pergi kembali ke penginapan, sesampainya disana Zen langsung memberikan beberapa pengetahuan dasar kultivasi kepada Lin Yan.


Lin Yan langsung mempraktekkan pengetahuan yang Zen berikan itu, dan dia langsung bermeditasi.


"Mungkin aku juga harus menyerap pecahan kekuatan itu sedikit lagi."


Zen lalu langsung bermeditasi, tubuhnya saat ini sudah lebih kuat daripada yang sebelumnya. Zen kali ini menyerap kekuatan dari pecahan kekuatan yang Theresia.


Zen dan Lin Yan melakukan meditasi itu selama satu bulan lebih. Hasil dari meditasi satu bulan itu adalah Lin Yan berhasil memasuki alam penempaan tulang lapis ke 2, sedangkan Zen berhasil menyerap sekitar sepuluh persen kekuatan dari pecahan kekuatan yang Theresia berikan.


"Yah kurasa ini sudah lumayan untuk saat ini."


Zen lalu mengajak Lin Yan pergi melanjutkan sebuah perjalanan. Saat dia makan waktu itu, Zen mendapatkan sedikit informasi kalau tidak jauh dari kota Yun Hai terdapat sebuah gunung yang dihuni oleh banyak monster.


Gunung yang dihuni oleh banyak monster biasanya memiliki banyak energi spiritual berkumpul disekitarnya.


Zen telah mendapatkan pil yang dia inginkan, saatnya dia menyerap lagi pecahan kekuatan yang dia dapatkan dari kuil abadi.


Setelah beberapa hari melakukan perjalanan Zen dan Lin Yan akhirnya sampai ke kaki gunung itu. Akan berbahaya bagi Lin Yan jika mendaki dengan cara yang biasa, Zen lalu mengendong Lin Yan dan mendaki gunung itu dengan sangat cepat.


Para monster yang melihat Zen tidak dapat menyerangnya karena pergerakan Zen yang terlalu cepat. Hanya dalam waktu kurang dari satu hari Zen akhirnya sampai ke puncak gunung.


Berbeda dengan kaki gunung yang dipenuhi oleh pepohonan, puncak gunung terlihat seperti sebuah lapangan besar. Bahkan dipuncak itu terdapat sebuah rumah.


Zen dan Lin Yan berjalan mendekati rumah itu, begitu mereka hampir sampai ke rumah itu seorang pria tua keluar.


Pria tua itu sedikit terkejut begitu melihat mereka berdua.

__ADS_1


"Sangat jarang untuk dapat melihat ada orang yang dapat sampai kesini. Apa tujuan kalian datang kesini?"


Tanya pria tua itu, pria tua itu sendiri tidaklah lemah. Dia berada di alam dewa lapis ke 2.


"Aku datang kesini karena membutuhkan energi spiritual yang terkumpul disini, apa kau tidak keberatan?"


"Aku sama sekali tidak keberatan, hanya saja sebisa mungkin jangan membuat banyak kerusakan."


"Itulah menjadi sedikit masalah bagiku."


"Mengapa bisa begitu?"


"Aku berencana untuk melewati malapetaka ku disini."


"Dari yang kulihat kau berada di alam hidup dan mati lapis ke 5, apa kau yakin kalau kau dapat menembus ke alam dewa?"


"Aku yakin, hanya saja malapetaka yang kulewati ini bukanlah malapetaka menuju alam dewa. Melainkan malapetaka dari alam hidup dan mati lapis pertama hingga alam dewa lapis pertama."


"Hmm, apa kau belum pernah melewati malapetaka sebelumnya?"


Pria tua itu sedikit terkejut dengan apa yang katakan, Normalnya sebelum seseorang memasuki alam hidup dan mati lapis pertama orang itu harus melewati malapetaka terlebih dahulu. Dan jika seseorang ingin memasuki lapis ke 2 maka orang itu harus mulai melewati malapetaka lagi.


"Iya, karena beberapa alasan aku menunda malapetaka ku. Jadi aku ingin menerima malapetaka ku disini."


**********


166


Pada saat menyerap pecahan kekuatan itu, Zen telah lebih dahulu memakai pil penunda malapetaka. Pil itu bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan didunia bawah ini, Zen mendapatkan pil itu dari Ling Hao.


Seperti namanya, pil itu memiliki fungsi untuk menunda malapetaka seseorang. Hanya saja pil ini hanya dapat digunakan oleh orang yang berada di alam dunia dewa atau dibawahnya.


"Apa kau yakin dapat menahan semua malapetaka itu?"


Jumlah Malapetaka tidaklah menentu, terkadang untuk menembus satu lapis seseorang harus melewati 2 malapetaka atau lebih. Semangkin banyak malapetaka yang dilewati maka akan semakin baik potensi orang tersebut.


"Iya, aku yakin. Lagi pula itu bukanlah sesuatu yang sulit."


"Begitu ya."


Pria tua itu tidak tau dari mana kepercayaan diri Zen berasal. Zen mengatakan kepadanya kalau dia akan menerima semua malapetaka nya setelah dia memasuki alam dewa.


Dengan kata lain pada saat itu juga Zen akan menerima malapetaka dari enam lapis terobosan. Kemungkinan terbaiknya Zen hanya akan menerima sekitar 12 malapetaka dan kemungkinan terburuknya Zen akan menerima lebih dari 20 malapetaka.


Meski menerima 12 malapetaka adalah kemungkinan terbaik yang akan Zen dapatkan, namun tetap saja jumlah itu terlalu banyak. Menurut pengalam pria tua itu menerima 5 malapetaka berturut- turut saja sudah cukup untuk membunuh seorang seniman beladiri yang berada dialam dewa lapis ke 1.


Hanya saja ada sesuatu yang tidak diketahui oleh pria tua itu, dahulu Zen adalah satu satunya orang yang memiliki 3 mahkota sekaligus. Bagi Zen melewati 10 sampai 20 malapetaka kecil bukanlah sesuatu yang sulit.


"Kalau begitu lakukanlah sesukamu."


"Ah, tolong tunggu."


"Bisakah kau membiarkan dia berlatih didekat rumahmu, dan jika memungkinkan aku ingin agar kau melindungi dirinya saat aku menerima malapetaka ku."


Pria tua itu kemudian melihat kearah Lin Yan.


"Siapa dia? Adikmu?"


"Tidak, dia murid ku."


"Murid yang bagus, bakatnya tidaklah buruk. Tidak masalah, aku akan menuruti apa yang kau inginkan."


"Terima kasih, ah ngomong ngomong aku masih belum mengetahui namamu. Nama ku adalah Zen Cavalier, dan dia adalah Lin Yan."


"Duan Jie, itulah namaku."


"Begitu ya, terima kasih atas kebaikamu Duan Jie."


"Tidak masalah, lagi pula aku juga ingin melihat bagaimana cara agar kau dapat menerima semua malapetaka itu."


Duan Jie berjalan kembali kerumahnya dengan Lin Yan mengikuti dirinya.


"Sekarang saatnya melakukan persiapannya."


Ditanah yang terbuka itu Zen melakukan persiapan untuk kembali menyerap pecahan kekuatan spiritual itu.


Persiapan Zen membutuhkan waktu cukup lama hingga matahari telah terbenam dan diganti dengan langit yang berbintang.


"Bintang ya, entah kenapa hubunganku dengan mereka tidak terputus bahkan setekah aku mati."


Zen melihat langit dimana terdapat puluhan bintang yang bersinar itu.


"Tidak ada gunanya memikirkan hal itu, sekarang lebih baik aku segera menyerap kekuatan itu."


Zen langsung memakai 2 pil yang dia buat dan langsung bermeditasi, pil itu sangatlah efektif. Energi spiritual dalam jumlah besar memasuki dantian Zen.


Sama seperti yang sebelumnya, kali ini Zen juga merasakan rasa sakit yang luar biasa. Hanya saja kali ini Zen tidak akan merasakan rasa sakit itu dalam waktu yang lama.


Zen menyerap pecahan kekuatan itu hingga pagi, dan diapun berhasil memasukkan lama dewa lapis pertama.


Duan Jie langsung mendatangi Zen ketika Zen telah berhasil memasuki alam dewa lapis pertama.


"Selamat, apa kau akan menerima malapetaka mu sekarang?"


"Iya, aku akan melakukannya."


"Kalau begitu aku akan menyaksikannya sambil melindungi murid mu."

__ADS_1


Duan Jie langsung kembali kerumah nya dan memang sebuah penghalang. Duan sangat penasaran dengan cara Zen menerima semua malapetakanya, dan diapun melihat Zen dari depan rumahnya.


Zen lalu langsung meminum sebuah pil pembatal penunda malapetaka. Dengan pil itu malapetaka Zen yang tadinya tertunda langsung bersiap untuk menyerang Zen.


Langit pagi yang tadinya cerah kini mulai tertutup oleh awan yang gelap.


"Malapetaka pertamaku mengandung hukum petir ya."


Dari awan itu petir petir ungu mulai berkumpul dan membentuk menjadi seekor naga (naga yang disini bukan seperti naga dalam cerita fantasi biasanya, melainkan seperti naga pada mitologi Cina).


"Itu adalah naga, dan juga itu hukum petir lapis ke 3."


Naga itu langsung menyerang Zen, Zen lalu mengumpulkan kekuatan ditangannya dan memukul naga itu. Pukulan itu membuat naga itu langsung menghilang, bahkan membuat awan gelap itu langsung tercerai berai.


"Mustahil, bagaimana bisa seperti itu?"


Duan Jie tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dia sangat tau betapa sulitnya menahan serangan malapetaka petir lapis ke 3. Namun Zen melawan malapetaka itu seperti melawan monster tingkat 2, bahkan Duan Jie sendiri mungkin harus mempertaruhkan nyawanya untuk dapat bertahan dari malapetaka itu.


Setelah naga petir itu menghilang, kini muncul pedang pedang emas besar dilangit. Pedang pedang itu mulai menyerang Zen, sama seperti sebelumnya Zen langsung memukul pedang pedang itu.


Tekanan angin dari pukulan Zen membuat pedang pedang itu menjadi hancur. Malapetaka terus muncul, dan Zen selalu berhasil menghancurkannya.


Sekarang adalah Malapetakanya Zen yang kesepuluh, puluhan api berbentuk burung beterbangan dilangit.


"Sekarang hukum api lapis ke 5 ya."


Zen melihat burung burung itu, dan Zen masih tidak dapat Merasakan kalau mereka akan menyerangnya.


Disisi lain Duan Jie sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Zen telah melawan 9 Malapetaka tanpa menerima luka sedikitpun. Bahkan semua malapetaka itu jauh lebih kuat dari malapetaka yang Duan Jie terima saat dia memasuki alam dewa lapis pertama.


"Sekarang malapetaka dengan hukum api ya, meski aku tidak tau itu hukum api lapis keberapa namun jika aku yang terkena api itu maka pasti akan langsung menjadi debu."


Burung burung api itu menuju kearah Zen dengan cepat, hukum api lapis ke 5 bukankah sesuatu yang dapat Zen lawan dengan tangan kosong. Zen pun langsung mengeluarkan pedang miliknya, dengan pedang itu Zen memotong setiap burung yang menyerangnya.


Butuh waktu yang lama bagi Zen untuk dapat menghancurkan semua burung api itu, hingga pada akhirnya dia berhasil menghancurkan semuanya.


Sekarang adalah malapetaka yang kelima belas, sama seperti malapetaka yang pertama. Awan gelap mulai muncul dan menciptakan petir emas berbentuk naga.


"Sekarang lapis ke 5 ya."


Naga itu dengan cepat langsung menyerang Zen, dengan pedangnya Zen mencoba untuk memotong naga itu. Namun berbeda dengan burung burung api yang sebelumnya, pedang Zen sama sekali tidak dapat menghancurkan naga itu.


Serangan naga itu membuat Zen merima luka yang cukup parah. Dan daerah sekitarnya menjadi hancur. Dengan kekuatannya yang sekarang Zen tidak akan dapat menghancurkan naga emas itu, dia tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan mana miliknya.


Petir dapat dihancurkan oleh angin, Zen lalu membuat sebuah angin topan yang besar. Dengan putarannya angin topan itu membuat naga itu terhisap kedalam nya dan menghilang.


Setelah itu Zen terus melawan malapetaka 5 elemen yang mengandung hukum lapis ke 5.


Tubuh Zen mendapatkan luka yang sangat parah, sangking parahnya dia bahkan hampir kehilangan kesadarannya.


Namun untungnya Zen telah menghadapi semua malapetakanya yang berjumlah 25. Zen hendak beristirahat namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.


Sebuah gate muncul di atas langit, dari gate itu muncul sebuah laser hitam. Laser itu langsung menyerang Zen, dan Zen menahannya dengan pedang miliknya.


"Dasar kehendak dunia sialan."


Leser hitam itu adalah sebuah malapetaka dari kehendak dunia, berbeda dengan dunia mana, kehendak dunia ini tidak takut dihancurkan.


Dengan Pedangnya Zen terus mengirimkan kekuatan kerusakan leser itu kedunia Medan perang. Namun leser hitam itu tidak ada habisnya, pedang ilahi Zen Tidak dapat bertahan lebih lama lagi.


Banyak retakan yang muncul akibat leser itu, namun Zen sedang beruntung saat ini. Sebelum pedangnya hancur menjadi banyak bagian, kehendak dunia telah berhenti menyerangnya.


kesadaran Zen secara perlahan mulai menghilang dan diapun langsung pingsan. Duan Jie yang melihat Zen pingsan tidak bisa membiarkannya begitu saja, diapun Dengan cepat mendatangi Zen dan membawa tubuh Zen kerumahnya.


******


Pesan dari Author, Mohon Dibaca :


Sekarang Novel ini akhirnya telah mencapai arc dunia energi spiritual. Saya tidak terlalu tau mengenai hal hal yang berkaitan dengan kultivasi Tapi karena arc ini cukup penting jadi saya harus menambahkan nya.


Mungkin akan ada beberapa hal yang akan sangat berbeda cerita yang biasanya mungkin kalian baca, mohon dimaklumi.


Jika kalian bertanya mengapa tidak ada penjelasan dalam tingkat kultivasi itu karena saya berfikir untuk saat ini saya tidak perlu memberikan penjelasannya.


Sama seperti sistem pada arc yang sebelumnya, saya juga berencana untuk membuat penjelasan tingkat kultivasi pada cerita yang selanjutnya.


Saya akan sangat terbantu jika kalian mau memberitau saya mengenai hal kultivasi melalui kolom komentar atau melalui chat grub.


Sekian pesan dari saya, terima kasih karena telah mendukung saya.


******


Petir dapat dihancurkan oleh angin, Zen lalu membuat sebuah angin topan yang besar. Dengan putarannya angin topan itu membuat naga itu terhisap kedalam nya dan menghilang.


Setelah itu Zen terus melawan malapetaka 5 elemen yang mengandung hukum lapis ke 5.


Tubuh Zen mendapatkan luka yang sangat parah, sangking parahnya dia bahkan hampir kehilangan kesadarannya.


Namun untungnya Zen telah menghadapi semua malapetakanya yang berjumlah 25. Zen hendak beristirahat namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.


Sebuah gate muncul di atas langit, dari gate itu muncul sebuah laser hitam. Laser itu langsung menyerang Zen, dan Zen menahannya dengan pedang miliknya.


"Dasar kehendak dunia sialan."


Leser hitam itu adalah sebuah malapetaka dari kehendak dunia, berbeda dengan dunia mana, kehendak dunia ini tidak takut dihancurkan.


Dengan Pedangnya Zen terus mengirimkan kekuatan kerusakan leser itu kedunia Medan perang. Namun leser hitam itu tidak ada habisnya, pedang ilahi Zen Tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

__ADS_1


Banyak retakan yang muncul akibat leser itu, namun Zen sedang beruntung saat ini. Sebelum pedangnya hancur menjadi banyak bagian, kehendak dunia telah berhenti menyerangnya.


kesadaran Zen secara perlahan mulai menghilang dan diapun langsung pingsan. Duan Jie yang melihat Zen pingsan tidak bisa membiarkannya begitu saja, diapun Dengan cepat mendatangi Zen dan membawa tubuh Zen kerumahnya.


__ADS_2