
Jauh Didalam tubuh Zen yang merupakan tempat jiwa para pewaris sebelumnya tertidur hanya Theresia satu satu yang terbangun.
'Akhirnya aku bisa terbangun sesuai dengan keinginan ku.'
Theresia melihat kesekitarnya, para pewaris pertama sampai keenam tertidur tanpa ada tanda-tanda akan terbangun dalam waktu yang dekat.
'kurasa aku harus memeriksa tubuhku sekarang.'
Theresia lalu memejamkan matanya, dia mencoba untuk merasakan kondisi tubuhnya yang berjarak triliunan mil dari tempat dia berada saat ini.
Setelah beberapa saat Theresia akhirnya selesai merasakan kondisi tubuhnya.
'Penghalang jiwa? Apakah ini perbuatan dia?'
Theresia menarik nafas yang cukup dalam. Kondisi tubuhnya saat ini sangat berbeda dari yang Theresia harapkan, dia tidak pernah menyangka kalau akan menjadi seperti ini. Penghalang jiwa itu membuat dirinya tidak dapat kembali kedalam tubuh itu.
'Ya terserahlah, untuk saat ini aku tidak perlu menghawatirkan hal itu. Saat waktunya tiba aku pasti akan dapat kembali kedalam tubuh itu.'
Theresia berhenti berfikir mengenai kondisi tubuhnya saat ini, bagaimanapun itu bukanlah sesuatu yang akan selesai jika hanya dipikirkan.
'Kurasa aku harus mengambil kembali semua pecahan jiwa milikku.'
Theresia mengangkat tangannya kedepannya, kemudian sebuah lingkaran sihir berwarna emas muncul. Diatas lingkaran sihir itu muncul sebuah black hole dengan diameter 100 cm, black hole itu terhubung dengan semua dunia kecil.
'Waktunya telah tiba, saatnya untuk mengambil kembali mereka semua.'
Lingkaran emas itu mulai mengeluarkan sebuah cahaya disusul dengan jutaan rantai berwarna emas yang keluar dari lingkaran sihir itu. Jutaan rantai emas itu kemudian masuk semua kedalam black hole itu.
Tujuan rantai emas itu adalah pecahan jiwa Theresia yang ada diseluruh dunia. Rantai emas itu akan mengikat pecahan jiwa miliknya dan membawanya kembali hadapan Theresia.
'Dengan begini tinggal menunggu serangga kecil itu muncul dan mengambil pecahan kekuatan yang ada padanya.'
Theresia merasa puas dengan semua rencana yang telah dia susun, diwajahnya terlihat sebuah senyuman yang menunjukan sebuah kepuasan yang telah lama tidak dia tunjukan. Dan semua emosi yang telah lama dia lupakan pun mulai kembali dia rasakan secara perlahan.
**********
[Istana Kerajaan Brumund]
"Tuan putri, ada seorang utusan dari kekaisaran suci yang ingin bertemu dengan anda."
__ADS_1
Seorang prajurit melapor kepada seorang gadis yang sedang membaca sebuah buku. Gadis itu adalah Iris Celemtina Brumund, putri pertama dari kerajaan Brumund, dia memiliki wajah yang manis dengan rambut yang berwarna hitam keabua abuan.
Meski dia adalah seorang putri, tapi Iris bukanlah tipe putri yang hanya berada di istana dan belajar sopan santun. Iris sendiri sangat hebat dalam menggunakan sebuah pedang, pedang yang dia gunakan adalah salah satu dari 5 pedang suci.
Selain itu Iris juga hebat dalam politik, dia bahkan diperkirakan akan menjadi pewaris tahta kerajaan Brumund yang selanjutnya.
"Dia ingin bertemu denganku? Bukan dengan ayah?"
"Utusan itu telah bertemu dengan yang mulia, namun dia juga ingin bertemu dengan anda. Dia mengatakan kalau dia ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada anda."
"Dimana aku bisa bertemu dengannya?"
"Anda bisa bertemu dengannya diruangan tahta."
"Baiklah aku akan kesana sendiri, kau bisa pergi sekarang."
"Baik tuan putri."
Prajurit itu pergi meninggalkan Iris, setelah prajurit itu keluar dari ruangannya Iris langsung menutup buku yang dia baca dan meletakkan nya dimeja. Iris kemudia berjalan kearah sebuah pedang yang diletakan didinding ruangan itu
Iris mengambil pedang itu dan meninggalkan ruangannya. Selama perhalan menuju ruang tahta Iris bertemu dengan beberapa pelayan dan prajurit. Mereka semua memberikan hormat kepada Iris, tanpa berbicara Iris hanya tersenyum kecil kepada para pelayan dan prajurit yang memberinya hormat.
Setelah beberapa saat berjalan, Iris akhirnya sampai ke pintu masuk ruang tahta. Tanpa banyak berpikir Iris langsung masuk kedalam ruangan itu, didalam Iris dapat melihat ada 7 orang pria.
'Pedang suci dan pedang terkutuk. Para utusan ini sepertinya buka orang biasa.'
Tanpa diberitahu pun Iris tau kalau pedang yang dipegang mereka bertiga adalah pedang suci dan terkutuk. Juga sebaliknya, mereka bertiga melihat pedang yang Iris bawa dan langsung tau kalau itu adalah pedang suci.
"Saya telah datang ayah. Saya dengar para utusan itu ingin bertemu dengan saya."
Iris menundukkan kepalanya kepada sang raja yang sekaligus ayahnya.
"Terima kasih telah datang Iris, bagaimanapun mereka sangat ingin bertemu dengan dirimu."
"Jadi ayah, apa yang ingin mereka bicarakan?"
"Kau bisa tanya sendiri kepada mereka Iris. Mereka tidak ingin mengatakannya sebelum kau datang."
Mendengar perkataan sang raja, Iris langsung melihat kearah Kufa dan yang lainnya berada. Iris melihat mereka dengan sebuah senyuman yang tipis.
__ADS_1
"Salam kenal tuan putri, saya adalah pemilik pelayan pertama Petrius. Nama saya adalah Kufa."
Sambil memberikan hormat, Kufa memperkenalkan dirinya kepada Iris.
"Salam kenal tuan Kufa, Saya adalah putri pertama kerajaan Brumund. Iris Celemtina Brumund."
Dengan anggun Iris memperkenalkan dirinya.
"Jika saya boleh tau siapa orang yang bersama anda Tuan Kufa?"
Iris bertanya kepada Kufa tentang identitas dari 2 orang yang ada dibelakang nya.
"Izinkan saya memperkenalkan mereka tuan putri. Dia adalah Accua, dia pemilik pelayan kelima Tiamat. Dan yang satunya lagi adalah Sieg, dia adalah pemilik pelayan ketujuh Satein."
"Salam kenal tuan Tuan Accua, Tuan Sieg."
""Salam kenal Tuan putri.""
Secara bersamaan Accua dan Sieg memberikan salam kepada Iris.
"Ngomong ngomong tuan Kufa, apa yang anda maksud dengan pemilik pelayan?"
"Tuan putri, anda benar benar tidak tau atau anda sedang pura pura tidak tau?"
"Iya, saya benar benar tidak tau."
Iris sedikit tersenyum kepada Kufa, senyuma itu berbeda dengan senyuman yang sebelumnya. Senyuman yang Iris tunjukan saat ini mengatakan kalau dia sama sekali tidak ada niat berbicara mengenai itu kepada Kufa.
Tentu saja Kufa tau maksud dari senyuman itu, namun Kufa tidak bisa begitu saja menuruti keinginan Iris. Bagaimanapun Kufa memerlukan bantuan dari Iris.
"Tuan putri, saya mohon kerja sama dari anda. Bagaimanapun anda adalah tujuan utama kami datang kesini."
Iris sama sekali tidak menanggapi perkataan Kufa, dia hanya terus diam sambil tersenyum.
"Tuan putri saya telah menggunpulkan 6 orang, sekarang tinggal anda yang tidak bergabung dengan kami."
"Tuan Kufa....."
"Apakah anda setuju untuk bergabung tuan putri?"
__ADS_1
"Bagaimana jika berlatih tanding sebentar."
Sambil memegang pedang suci miliknya Iris mengajak Kufa berlatih tanding.