
Kemarin adalah hari yang cukup melelahkan, pada sore itu setelah ziyun menangis aku mulai mengubur semua mayat yang ada dalam satu tempat. Meski untuk membuat lubangnya adalah hal yang mudah karena aku bisa mengggunakan sihir, tapi memindahkan para mayat yang ada cukuplah susah dan melelahkan.
Meski cahaya matahari masih belum terlalu terang aku harus membangunkan ziyun karena hari ini aku harus pergi keatas gunung, tentu saja sesuai janjiku padanya aku aku membawanya besamaku.
"Ziyun, bangun ini sudah pagi"
Meski agak susah untuk membangunkannya tapi pada akhirnya dia bangun juga. Sama seperti kemarin hari ini aku juga membakar beberapa daging untuk sarapan.
"Ziyun makanlah ini, kemarin setelah menangis kau langsung tertidur jadi tidak sempat makan."
"Baiklah. Zen apa kita memang harus bangun sepagi ini."
"Ya hai ini kita akan pergi kepuncak gunung itu."
Aku menunjuk gunung yang nantinya akan kami lewati, meski pagi ini masih agak gelap tapi karena salju yang ada digunung aku jadi dapat melihat gunungnya.
"Mengapa kau ingin kita pergi manaiki gunung itu?"
"Aku mau pergi kemenara yang ada dipuncaknya, ada sesuatu yang ingin kuambil."
"Menara? Maksudmu menara tua yang ada dipuncaknya?"
Perkataan ziyun membuatnya terasa seperti dia mengetahui menara itu karena pernah melihatnya bukan dari perkataan orang lain, lebih baik aku bertanya padanya.
"iya menara yang ada dipuncak gunung, apa kau pernah kesana?"
'Aku tau ayah dan aku pernah beberapa kali pergi kepuncak gunung jadi aku pernah melihatnya."
Dia pernah kesana, ini adalah hal bagus mungkin dia bisa menunjukan jalannya.
__ADS_1
"Lalu apakah kau masih ingat jalan kesana"
"Ya aku masih ingat"
"Baguslah kalau begitu, karena kau sudah pernah kesana menurutmu berapa lama waktu yang dibutuhkan kalau dari sini?"
"Kalau lewat jalan yang biasanya kulewati dengan ayah biasanya kami mebutuhkan waktu satu hari."
Menurut perkiraanku kupikir membutuhkan waktu sekitar tiga hari lebih untuk sampai kesana, dan ziyun bilang hanya membutuhkan satu hari saja, ini lebih baik dari yang kuharapkan.
"Kalau begitu segerah bersiaplah, kita akan segera pergi."
"Baik"
Ziyun segerah pergi untuk bersiap, meski kubilang bersiap siap tapi itu bukan bersiap siap mengemasi barangnya, melainkan bersiap untuk mengujungi makam kedua orang tuanya. Lagi pula dia sendiri sudah tidak memiliki barang pribadi lagi, semua barang miliknya sudah terbakar dan diambil oleh para bandit. Tidak lama pergi ziyun kini sudah datang dengan beberapa batang bunga yang ada ditangannya.
"ya"
^^^^ ^^^^
"Ayah, ibu dari sekarang akan pergi bersama zen, semoga ayah dan ibu tenang dialam sana."
Hanya beberapa kata yang ziyun ucapkan, sepertinya dia masih belum dapat mengatasi rasa sedih yang ada dihatinya. Air matanya terus berjatuhan dari pelupuk matanya, tidak seperti kemarin dimana aku membiarkannya menangis sesuka hatinya. Kali ini aku tidak bisa membiarkannya menangis dalam waktu yang lama atau dia akan terus terjebak didalam lingkaran kesedihan karena kematian kedua orang tuanya. Aku secara perlahan berjalan mendekati ziyun yang sedang menagis didepan makam kedua orang tuanya.
"Ziyun, ayo kita harus segera pergi"
Aku mengelus kepala ziyun, untuk dirinya perkataanku mungkin sedikit kurang berperasaan. Tapi aku harus segera membawanya pergi dari sini, terlalu lama disini tidak baik untuk dirinya yang sekarang.
__ADS_1
"Baik"
Aku memegang tangan ziyun dan segera pergi meninggalkan makam kedua orang tuanya. Kami hanya terus menerus berjalan, sudah cukup jauh kami pergi meinggalan desa. Meski kami belum menaiki gunung salju abadi tapi Udara yang disekitar kami mulai dingin. Aku mengeluarkan sebuah kain yang cukup tebal dari sihir penyimpananku.
"Ziyun pakailah ini"
Aku memberinya kain yang baru saja aku keluarkan dari dalam sihir penyimpanan,dia hanya menrimanya tanpa engatakan satu katapun. Bagiku hal itu bukanlah sebuah masalah yang penting dia tidak akan kedinginan saat kami mendaki gunung nanti. Meskipun kain itu cukup tebal tapi jika dilihat dari suhu udara yang sekarang mungkin kain itu tidak akan berguna nantinya jika dipuncak gunung.
Kami mulai memasuki kawasan gunung, dimana mana hanya ada pemandangan pohon yang tertutupi oleh putihnya salju. Tidak lama setelah kami memasuki wilayah gunung salju abadi, sekelompok srigala es datang mengepung kami.
"Zen, itu apa?"
Ziyun yang sepanjang perjalanan hanya dia tanpa bersuara, kini dia merasa ketakuan karena ada sekelompok srigala es yang mengepung kami.
"Itu adalah monster srigala es, bukankan kau sudah pernah pergi kepncak gunung? Mengapa kau tidak tau?"
"Saat aku pergi dengan ayah saat itu kami tidak pernah bertemu dengan moster."
Tidak pernah menemui monster selama mendaki gunung, ada hal aneh yang terjadi disini. Nona qinyu bilang kalau gunung ini dipenuhi oleh monster yang berbahaya, tapi dia belum pernah melihat melihat monster selama mendaki dengan ayahnya. Apa mungkin ada sesuatu yang mengerikan terjadi diatas sana, terlalu banyak hal yang sulit untuk dipahami. Saat ini berfikir apa yang terjadi diatas sana tidaklah terlalu penting, bagiku saat ini menjaga janjiku dengan ziyun adalah hal yang terpenting.
"Ziyun tetaplah dibelakangku, aku akan melindungi mu."
Meskipun aku bilang kalau aku akan melindnginya, saat ini bertarung dengan tiga puluh ekor srigala es sambil melindunginya adalah hal yang sulit. Aku terus berfikir cara yang terbaik untuk bertarung sambil melindungi ziyun.
Tidak peduli berapa banyak aku berfikir aku masih belum juga menemukan cara yang paling efektif untuk situasi ini. Beberapa srigala es datang menyerang disaat aku bingung apa yang harus kulakuakan shiroki tiba tiba muncul. Dengan tubuhnya yang kecil dia berdiri didepanku, para srigala itu terus datang kearah kami dengan cepat.
Aku merasa tidak ada lagi cara yang cukup efektif untuk melawan para srigala itu jadi aku memutuskan untuk menggunakan pisau terbang untuk melawan mereka. Disaat aku akan meleparkan pisauku shiroki tiba tiba mengeluarakan aura yang sangat mengerikan, aku serentak langsung memegang tangan ziyun dan mengalirkan manaku agar dia dapat bertahan dihadapan aura yang mengeriakan itu. Para srigala yang menyerang langsung berhenti, shiroki masih terus mengeluarkan auranya.
__ADS_1
Para srigala es itu sepertinya tidak dapat menahan aura yang dikeluarkan oleh shiroki, mereka pada akhirnya pergi meninggalkan kami. Aku merasa lega karena para srigala es itu akhirnya pergi, namun perasaan itu tidak bertahan, lama karena alasan shiroki mengeluarkan aura yang mengerikan itu mungkin bukan karena para srigala es melainkan sesuatu yang ada didepan kami saat ini.