
"Baiklah, aku akan membiarkan Ziyun ikut dalam penaklukan. Namun kalian harus menerima beberapa syarat dariku, bagaimana?"
"Apa syaratnya?"
"Kalian biarkan kami bergabung dengan penaklukan itu. Aku tidak bisa membiarkan Ziyun sendirian yang bergabung."
"Saya bisa saja membiarkan anda bergabung, hanya saja berapa jumlah tepatnya yang akan bergabung?"
"Enam orang dihitung dengan Ziyun."
"Baiklah, bertambah enam orang bukanlah sebuah masalah. Saya akan menerima syarat anda, dengan begini Ziyun akan bergabung dalam penaklukan. Kita akan berkumpul digerbang barat beso pagi, apakah ada pertanyaan lagi?"
"Tidak, aku tidak ada pertanyaan lagi."
"kalau begitu sampai ketemu besok digerbang barat."
Kufa dan yang lainnya berdiri dari kursi mereka dan pergi meninggalkan Baal dan yang lainnya.
"Maaf Baal karena membuatmu terlibat."
Ziyun meminta maaf kepada Baal karena membuatnya ikut bergabung kedalam penaklukan.
"Tidak apa Ziyun, lagi pula kami dibayar mahal untuk menjagamu."
"Betul seperti yang Baal katakan, kau tidak perlu khawatir Ziyun."
"Tapi Baal... "
"Saat ini tidak yang perlu kau khawatirkan. Lebih baik jika kita menemui yang lainnya dan membicarakannya dengan mereka."
"Benar juga, lalu siapa yang akan kita temui Baal?"
Marie bertanya kepada Baal dengan penuh penasaran. Bagaimanapun juga tidak sembarangan orang yang dapat diajak untuk bergabung. Jika Baal membawa orang lemah maka bukan meringankan beban mereka hanya akan menambah beban.
"Untuk saat ini mungkin Gran dan Sakura."
"Hanya dua orang? Bukankah kau bilang kalau enam orang yang akan bergabung? Bukankah Kita masih kurang satu lagi?"
"Ya aku tau, aku telah memikirkan satu orang terakhir."
"Siapa dia?"
"Mungkin Accua akan cocok untuk bergabung dengan kita."
* * * * * * * * * * * *
Setelah kesepakatan antara dirinya dan Baal didapatkan, Kufa dan yang lainnya pergi berjalan kearah para pahlawan yang lainnya menunggu.
"Tak kusangka surat itu sangat berguna, setelah kau menunjukan surat itu mereka mau ikut bergabung."
__ADS_1
"Meskipun masih sempat ada penolakan."
"Itu bukan masalah, yang penting mereka mau ikut bergabung itu sudah lebih dari cukup."
"Ya kurasa kau benar juga."
"Ngomong Ngomong Kufa ada yang ingin kukatakan padamu."
"Apa yang ingin kau katakan Indra?"
"Mulai sekarang bisakah kau bicarakan seperti ini selamanya. Kau yang menggunakan kata kata sopan saat bicara tadi sangat menakutkan bagiku."
"Betul, kata Indra. Nada bicaramu saat ini sangat berbeda dengan saat kau berbicara dengan sopan."
"Mau bagaimana lagi, didepan orang yang baru kenal aku harus berbicara dengan sopan bukan?"
"Jika mereka tau sifatmu yang sebenarnya mereka pasti akan ketakutan."
"Karena itulah aku berbicara dengan sopan."
"Hmp, dasar monster manusia."
Setelah beberapa saat Kufa dan yang lainnya sampai ditempat para pahlawan yang lain menunggu.
"Bagaimana hasilnya?"
Salah satu pahlawan bertanya kepada Kufa.
"Baguslah kalau begitu. Jadi kemana kita akab pergi selanjutnya?"
"Yah, mungkin saat ini kita sebaiknya pergi berkeliling kota."
"Kurasa itu ide yang bagus."
"Baiklah, kalau begitu kalian bisa pergi duluan. Ada sesuatu yang harus Kulakukan."
"Baiklah, kalau begitu kami akan pergi duluan."
Para pahlawan yang lainnya pergi meninggalkan Kufa sendirian. Setelah para pahlawan yang lainnya itu pergi, Kufa pergi berjalan kearah papan quest yang ada diguild.
"Baiklah, sekarang saatnya untuk sedikit berolahraga."
* * * * * * * * * * * * * *
"Cepat Fernase, kita akan segera pergi."
Didalam kamarnya Zen menyuruh Fernanse untuk cepat menyelesaikan pekerjaanya.
"Tunggu sebentar Zen, tinggal satu lagi."
__ADS_1
"Dari tadi kau berkata tinggal satu lagi terus. Lagi pula sejak kamarin apa yang kau tulis itu."
Sejak beberapa hari yang lalu Fernase selalu menulis sesuatu pada kertas berukuran sedang. Meski dia memiliki banyak pengetahuan dari Zaman kuno sampai zaman sekarang, Zen bahkan tidak tau apa yang sedang ditulis oleh Fernanse itu.
"Hmm, mungkin sebuah mantra?"
"Mengapa kau bertanya balik kepadaku? Bukahkan kau yang membuat itu, aku bahkan tidak tau sedikitpun mengenai apa yang kau tulis itu."
"Yah tidak mungkin juga kau mengetahuinya. Lagi pula ini bukan sesuatu yang ada didunia ini."
"Aku tidak peduli dengan itu, berapa lama lagi kau akan selesai? Kita harus segera pergi, perperangannya mungkin telah dimulai."
"Tenang saja Zen, aku sudah selesai."
"Baguslah kalau begitu, Ayo ikuti aku."
Fernanse pergi berjalan mengikuti Zen. Mereka berdua pergi keluar dari kamar Zen, mereka berdua menuju kepintu gerbang kastil. Tidak butuh waktu lama mereka telah sampai kepintu gerbang kastil. Disana Irene sudah menunggu kehadiran Zen dan Fernanse. Disana juga telah terdapat kereta kuda yang siap pergi kapanpun.
"Yang mulia saya telah mempersiapkan kereta kudanya."
"Tidak perlu, terlalu lambat jika kita menggunakannya. Kita akan menggunakan Gate. "
Zen menggunakan sihir gate miliknya, begitu gate telah sepenuhnya terbentuk Irene dan Fernanse segera memasukinya. Setelah Irene dan Fernanse memasuki gate, Zen pun juga memasuki gate. Tidak lama kemudian gate itupun tertutup.
Tujuan dari gate itulah adalah perbatasan dari dataran manusia dan dataran vampire. Gate mulai terbuka secara perlahan, Irene, Fernanse dan Zen pun segera keluar dari gate itu. Suara teriakan terdengar dimana mana begitu Zen keluar dari gate, bukan hanya suara teriakan yang terdengar ada juga suara ledakan, ataupun suara pedang yang saling beradu.
Itu semua karena gate terbuka ditengah tengah perperangan antara pasukan miliknya dengan pasukan manusia. Zen, Irene dan Fernanse saat ini berdiri ditengah tengah perperangan. Seorang prajurit manusia melihat mereka bertiga berada ditangan perperangan tanpa senjata, prajurit itupun menyerang mereka bertiga.
Prajurit itu menyerang mereka dengan menggunakan pedang miliknya, namun dia sama sekali tidak dapat menyerang mereka bertiga. Zen sudah terlebih dahulu menahan serangan prajurit itu, Zen mencekik leher prajurit itu hingga dia mati.
Semangkin banyak prajurit manusia yang melihat mereka bertiga, dan semangkin banyak pula yang menyerang mereka. Zen merasa kalau tidak ada gunanya dia melawan para prajurit itu, Zen menggendong Irene dan Fernanse sekaligus. Zen membawa mereka berdua menuju perbukitan yang ada disekitar situ.
Begitu Zen merasa sudah mendaki bukit cukup tinggi dia menurunkan Irene dan Fernase. Dari atas bukit itu Zen dapat melihat berbagai sisi, Zen juga dapat melihat pasukan yang ada digaris depan ataupun digaris belakang.
"Bukankah Pasukan manusia itu terlalu banyak. Yah meskipun untuk saat ini itu bukanlah sebuah masalah jika mereka tidak langsung mengerahkan semua pasukan."
Dari atas bukit Zen dapat melihat perbandingan antara pasukan miliknya dengan pasukan manusia. Perbedaanya cukup banyak, pasukan Zen hanya sekitar 200 sampai 300 orang sedangkan pasukan manusia ada sekitar 800 sampai 1000 orang.
"Ya betul sakali yang mulia, jumlah mereka cukup banyak. Tapi seperti yang anda katakan, pasukan mereka bukanlah sebuah masalah selama mereka tidak mengerahkan semuanya sekaligus."
Pasukan Zen tidak langsung dikerahkan semuanya oleh Jendral Taks, Taks hanya mengirim sekitar 50 sampai 100 orang untuk menuju garis depan. Begitu juga dengan pasukan manusia, yang menuju garis depan hanya sekitar 150 sampai 200 orang.
Perbedaannya cukup banyak diantara keduanya, namun karena kekuatan fisik vampire jauh lebih kuat dari manusia. Pasukan Zen dapat dengan mudah mengalahkan pasukan manusia itu.
Sebagian besar prajuritnya telah terbunuh dalam perperangan gelombang pertama, orang yang memimpin pasukan manusia pun menyuruh prajurit yang hidup untuk mundur dari gari depan.
Untuk sementara digaris depan tidak ada lagi pertempuran karena pasukan manusia telah ditarik mundur.
"Untuk saat ini pertempuran mungkin akan sedikit mereda. Namun gelombang selanjutnya mungkin akan menjadi pertempuran yang lebih besar lagi."
__ADS_1
"Mengapa bisa begitu yang mulia?"
"Itu karena, selanjutnya para pahlawan sendiri yang akan memimpin pasukan."