
'Tidak kusangka Nona Elizabeth bergerak dengan sangat cepat. Aku yakin baru beberapa saat sejak aku bertemu dengannya. Meski begitu Tapi sepertinya ada yang sedikit aneh.'
"Ngomong ngomong Irene, sudah berapa hari semenjak terakhir kali kita bertemu?"
Setelah Zen bertemu dengan leluhur ke 2 dan ke 5, dia langsung menuju ruang bawah tanah. Zen juga tidak ada keluar dari kamarnya, karena itulah Zen tidak tau sudah berapa hari dia tidak keluar.
"Apa yang mulia katakan? bukankah sudah 3 hari semenjak kita bertemu."
"Sudah 3 hari ya? Kalau begitu berarti Nona Elizabeth bergerak dengan perlahan."
"Hmm, apa yang yang mulia maksud?"
"Tidak ada. Lupakan saja apa yang telah kukatakan."
Irene sama sekali tidak dapat memahami apa yang telah Zen katakan. Untuk menutupi rasa penasarannya dia segera bertanya kepada Zen. Namun Zen tidak memberi tau kepada Irene maksud dari perkataanya.
"Lihat ini Fernanse. Sesuai dengan keinginanmu kita mungkin akan segera keluar dari kamar ini."
Zen menunjukan surat yang dia terima kepada Fernanse yang sedang tidur dipangkuannya.
"Benarkah? Tapi apa pentingnya surat itu?"
"Bukankah kau bilang kau sedang bosan saat ini?"
"Benar sekali aku memang sangat bosan saat ini. Tapi apa hubungannya dengan surat itu?"
"Dengarkan Fernanse. Dengan surat ini kau bisa melihat sesuatu yang menarik, lebih menarik dari pada melihat pembantaian pada sekumpulan monster."
"Benarkah?"
"Iya."
Memang benar apa yang dikatakan oleh Zen. Surat itu adalah surat permintaan untuk pertemuan , pertemuan yang dilakukan 10 leluhur Vampire.
Tentu saja sama seperti para raja manusia, para leluhur Vampire juga tidak terlalu dekat satu sama lain. Karena itulah jika terjadi pertempuran saat partempuran, maka itu adalah hal yang biasa.
"Kalau begitu, bacakan isinya kepadaku Zen."
"Baiklah."
Zen membuka surat yang dia terima dari leluhur ke 2. Dia membacakan isi surat itu kepada Fernanse, namun karena Irene ada disitu jadi dia juga mendengarkannya.
Isi suratnya adalah seperti ini.
__ADS_1
~Para manusia telah mencabut pedang suci yang berada dibawah perjanjian semua ras. Mereka juga telah memanggil beberapa pahlawan dari dunia lain. Jadi saya sebagai leluhur ke 2 dan sebagai salah satu dari pemimpin ras Vampire ingin mengadakan pertemuan yang akan membahas tentang masalah ini. Pertemuan akan dilakukan dikastil saya besok malam.
Leluhur yang mendukung pertemuan:
Leluhur Pertama, Zen
Leluhur ke 2, Elizabeth
Leluhur ke 5, Argares ~
"Bukankah isi suratnya terdengar sangat biasa saja? Dan juga bagaimana mungkin sebuah surat seperti ini dapat membuat 10 leluhur berkumpul dalam satu tempat?"
"Yang benar saja Fernanse, apakah kau benar benar adik dari pewaris ke 5, nona Saeliya? Kau bahkan tidak mengetahui maksud dari surat ini."
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya disini? Apa kau benar benar serius bertanya seperti itu kepada seorang anak perempuan yang berusia 10 tahun?"
"Ayolah Fernanse, Bukankah kau tadi menyangkal kalau kau bukan anak yang berusia 10 tahun? Lalu mengapa sekarang kau mengatakan kalau kau adalah anak perempuan yang berusia 10 tahun?"
Zen dan Fernanse saling beradu kalimat, Irene yang ada didepan mereka hanya diam dan melihat mereka berdua dengan tenang.
"Yang kumaksud adalah pada saat itu aku masihlah seorang anak yang berusia 10 tahun. Jadi bukankah normal jika aku tidak mengetahui maksud sebenarnya dari surat itu? "
"Yah kurasa kau benar juga. Lagi pula kau dulunya adalah anak perempuan yang sangat polos."
"Entahlah, aku hanya asal menebak saja. Tapi bukankah itu benar? Bukankah dulu kau sangat manja dengan kakakmu?"
"Tidak, tidak, tidak. Kurasa kau sangat salah disini. Sejak dulu aku sikapku sudah begini, jadi aku sama sekali tidak pernah manja dengan kakakku."
Tentu saja Zen tau kalau saat ini Fernanse sedang berbohong, melaui ingatan dari pewaris ke 5 yang merupakan kakak dari Fernanse dia dapat mengetahui sedikit mengenai masa lalu dari Fernanse saat dia masih kecil.
Fernanse yang pada saat itu tidak ada bedanya dengan anak berusia 10 tahun pada umumnya. Dia hidup dengan mengenal kasih sayang, dia juga masih tidak mengetaui tentang busuknya dunia luar. Seperti Itulah Fernanse pada saat dia masih sangat polos.
"Baiklah jika kau mengatakan itu, kurasa aku akan percaya jika dulunya kau bukanlah anak yang manja."
"Baguslah jika kau mengerti. Lagi pula untuk apa kita membahas mengenai masa kecilku? Bukankah kita sedang membahas tentang maksud dari surat itu?"
"Saat kau mengatakan itu kurasa kau memang benar. Baiklah kupikir aku akan menyerahkan tugas ini kepada Irene."
Tongkat estafet tiba tiba berpindah dari Zen ke Irena. Irene yang pada awalnya hanya mendengarkan mereka berdua kini diberikan tugas oleh Zen untuk memberitaukan maksud dari surat itu kepada Fernanse.
"Yang mulia Apakah saya benar benar harus memberitau nona Fernanse maksud sebenarnya dari surat itu?"
"Ya, mengapa tidak? Bukankah kau telah mempelajari tentang pertemuan ? Jadi sekarang adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan pengetahuanmu."
__ADS_1
'Bukankah itu bukan alasan yang sebenarnya? Yang mulia hanya tidak ingin repot repot memberitau Nona Fernanse bukan?'
Itulah kalimat yang terlitas didalam pikiran Irene. Tapi meskipun begitu dia tidak dapat mengatakannya langsung kepada Zen. Pada akhirnya bagi Irene pilihan satu satunya adalah menerima tugas yang Zen berikan kepadanya.
"Baiklah yang mulia saya akan menerima tugas yang anda berikan."
"Pilihan yang bijak Irene."
"Jadi Nona Fernanse, anda mungkin telah mengetahui apa itu pertemuan . Jika seorang leluhur ingin mengadakan pertemuan Maka leluhur itu harus mengirim surat undangan kepada leluhur yang lainnya. Isi dari surat itu sendiri tidaklah terlalu penting, yang penting adalah nama leluhur yang ada didalam surat itu. Jika didalam surat itu terdapat nama 3 orang leluhur, maka leluhur yang lainnya tidak punya pilihan selain menghadiri pertemuan tersebut. Lalu apa yang akan terjadi ketika ada leluhur yang tidak datang meskipun didalam surat itu sudah terdapat 3 nama leluhur? jawabannya adalah Leluhur itu mungkin akan segera mati. Jika anda bertanya 'Mengapa mereka akan mati?', itu karena mereka dianggap sebagai penghianat. Sekian penjelasan dari saya."
"Terima kasih atas penjelasan panjangmu Irene. Jadi Apakah kau sudah mengerti Fernanse?"
"Yah kurasa aku sudah sedikit mengerti. Tatapi ada beberapa hal yang membuatku binggung."
"Apa itu? Silahkan kau tanyakan padaku?"
"Bukankah disurat itu sudah terdapat 3 nama? Dengan adanya 3 nama itu pasti semua leluhur akan datang bukan? Jika mereka semua datang, lalu dimana bagian yang menariknya?"
"Kau mungkin masih belum mengerti Fernanse. Jika mereka semua hadir maka disitulah bagian menariknya akan muncul."
"Bagaimana bisa? Bukankah jika mereka semua hadir berarti tidak akan ada leluhur yang mati?"
Memang benar apa yang dikatakan oleh Fernanse, jika semua leluhur hadir dalam pertemuan maka pasti tidak akan ada leluhur yang mati. Lalu dimana bagian yang menariknya? Memang benar tidak akan ada leluhur yang mati, namun bukan berarti selama pertemuan tidak akan ada pertarungan.
Mau bagaimana pun juga para leluhur tidak jauh berbeda dengan para raja yang memimpin kerajaan manusia. Mereka memiliki wilayah sendiri sendiri, jadi perdebatan pasti akan terjadi selama pertemuan, dan perdebatan itu pasti akan berakhir dengan pertarungan.
"Fernanse apakah kau tau kalau dulunya aku adalah seorang manusia? Pada pertemuan nanti pasti akan ada seorang leluhur yang membahas mengenai masa laluku. Mereka pasti akan memberikan penolakan mereka padaku, jadi jika itu sudah terjadi maka hal yang menarik mungkin akan muncul."
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"Ntahlah. Tapi kau bisa memastikannya dipertemuan nanti."
"Baiklah, aku akan menunggu sampai saat itu tiba."
"Baguslah. Kalau begitu Irene, kau bersiap siaplah karena sebentar lagi kita akan segera pergi kekastil Nona Elizabeth."
"Baiklah yang mulia saya akan akan bersiap siap. Kalau begitu saya permisi dulu yang mulia."
Irene pergi meninggalkan Zen dan Fernanse.
"Sekarang saatnya kita bersiap siap Fernanse."
"Baiklah Zen."
__ADS_1