
*******
Waktu yang dihentikan oleh Lapis telah kembali mengalir. Iris melihat kesekitarnya, ledakan yang tadinya terjadi dimana mana kini telah tiada.
"Sepertinya gelombang pertama telah selesai."
Iris berbicara kepada yang lainnya.
"Ya, sudah selesai."
"Sihir yang luar biasa, tadi itu adalah yang kedua kalinya aku merasakan waktu terhenti."
"Aku juga sama seperti mu Sieg."
"Pada akhirnya berapa orang yang mati pada pertarungan tadi? Dan juga Ether belum kembali sejak dihempaskan tadi."
Kufa melihat kearah Ether terhempas kan, dia tidak melihat tanda tanda akan kembalinya Ether.
"Mungkin dia sudah kembali duluan, ayo kita kembali ketempat Lilfy berada."
Iris berjalan kembali ketempat awal, Kufa dan yang lainnya mengikuti dirinya.
**********
Gate terbuka dikastil milik Zen, mereka semua keluar secara bergantian.
Elizabeth dan Argares segera berjalan kesofa yang ada didepan mereka, sedangkan para bawahan Zen pergi kembali ketempat mereka.
"Lapis, bisakah menyuruh seseorang untuk membuat Teh."
"Kau sangat santai Elizabeth."
Lapis dan Zen juga menduduki sofa yang ada didepan mereka. Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka, Irene dan Fernanse langsung mendekati Zen.
"Apa yang terjadi dengan anda yang mulia?"
Dengan sedikit khawatir Irene bertanya kepada Zen.
"Tenang saja Irene, ini hanyalah luka kecil."
"Tapi bagi saya itu tidak seperti luka kecil."
Siapapun yang melihat keadaan Zen saat ini pasti akan mengatakan hal yang sama dengan Irene. Luka yang ada ditubuh Zen sama sekali tidak masuk kedalam kategori luka yang kecil.
__ADS_1
Dibeberapa tempat, meski pulih secara perlahan namun luka Zen masih sedikit mengeluarkan darah.
"Tenang saja Irene, ini akan sembuh sebentar lagi. Yang lebih penting lagi, bisakah kau membuatkan mereka teh."
"Baiklah yang mulia."
Irene segera meninggalkan ruangan dan pergi membuat teh untuk para leluhur itu.
"Dia cukup menghawatirkan mu."
"Lagi pula kami cukup dekat."
"Hehh,."
Zen menganggap Irene sebagai keluarganya, begitu juga dengan Irene. Mereka berdua saling membutuhkan satu sama lain, ikatan yang mereka miliki jauh lebih dalam dari pada yang terlihat.
"Apa kau hampir mati disana Zen?"
Dengan rasa penuh penasaran Fernanse duduk disamping Zen dan bertanya.
"Bisa dibilang begitu."
"Bukankah kau abadi, bagaimana kau bisa hampir mati?"
Zen sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Fernanse, dia memang abadi namun pada pertempuran itu dia hampir saja mati. Zen sedikit binggung menjawab pertanyaan dari Fernanse.
Pada akhirnya Zen mengelak dan berhenti memikirkan alasan mengapa dia hampir saja mati.
"Siapa gadis kecil itu? Baru pertama kali kau melihatnya."
Lapis bertanya kepada Zen karena sedikit tertarik dengan Fernanse.
"Dia adalah adik pewaris ke 5."
"Heh, berarti dia telah hidup lebih dari 500 tahun. Namun mengapa tubuhnya terlihat seperti anak kecil."
"Ada beberapa alasan untuk itu."
Zen berbicara kepada lapis alasan mengapa tubuh Fernanse terlihat seperti anak kecil meskipun dia telah berusia lebih dari 500 tahun.
Namun Zen tidak bercerita mengenai alasan mengapa Fernanse berubah menjadi roh, dan juga Zen tidak bercerita tentang dunia roh yang pernah Fernanse ceritakan kepadanya.
"Begitu ya, meski begitu aku sangat ingin tau bagaimana cara pewaris kelima itu membuat tubuhnya agar tetap hidup meski tidak ada jiwa didalamnya."
__ADS_1
Pada umumnya jika sebuah tubuh tidak lagi memiliki jiwa maka tubuh itu tidak akan dapat bertahan lama dan akhirnya akan mati. Namun pewaris ke 5 Saeliya dapat membuat tubuh Fernanse dapat hidup dalam waktu yang lama meski jiwanya tidak lagi ada didalam tubuhnya.
Untuk dapat melakukan hal yang seperti itu diperlukan pengetahuan dan kekuatan yang besar. Bahkan Lapis yang berpengetahuan luas tidak dapat mengetahui cara yang digunakan oleh Saeliya.
"Mungkin untuk dapat melakukannya diperlukan pengetahuan mengenai ruang dan waktu."
"Ruang dan waktu ya? Itu adalah keahlian Theresia, aku tidak terlalu paham mengenai hal itu."
"Iya, itu memang keahlian nona Theresia."
Mereka berhenti berbicara sesaat, keheningan menusuk ruangan itu. Kemudian Irene memasuki ruangan itu dengan beberapa gelas kosong dan satu teko yang terisi teh.
Irene kemudian meletakan gelas gelas itu dan mengisinya dengan Teh. Dan dengan anggun Elizabeth langsung meminum teh itu.
"Sekarang saatnya pembahasan utamanya, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Elizabeth telah selesai meminum tehnya, dan dia langsung membuka topik yang cukup serius.
"Kurasa kita harus mempersiapkan sebuah pertahanan."
Argares mengeluarkan pendapatnya.
"Ya itu pasti, terutama pertahan untuk kastil milik Zen."
"Lagi pula Zen adalah orang membunuh Zmei, Abrials pasti akan datang kesini untuk membalaskan dendamnya."
Hubungan antara Abrials dan Zmei cukuplah dekat, dalam waktu dekat Abrials pasti akan membalaskan dendam Zmei. Dan karena Zen yang telah membunuh Zmei maka Abrials pasti akan menyerang kastil Zen.
"Ngomong ngomong Lapis, bagaimana kabar Mabas saat ini?"
"Seperti biasa, dia sepertinya masih akan menjadi seorang pengamat."
"Begitu ya. Lagi pula kenapa kita yang harus bertahan, bukankah seharusnya kita yang menyerang mereka?"
Biasanya ras yang mendeklarasikan perang akan menjadi incaran pertama untuk dihancurkan, namun kali ini ras yang mendeklarasikan perang bukan yang diburu malah mereka yang memburu.
"Mau bagaimana lagi, selain ras Vampire tidak ada ras lain yang dapat melawan ras naga."
Jika ras manusia atau ras iblis menyerang ras naga maka kedua ras itu sama saja seperti sedang mengundang kehancuran mereka sendiri.
"Jika Mabas bergabung, Kita pasti dapat meratakan ras naga."
"Kau benar, namun sayangnya pria sialan itu sangatlah berhati hati dalam mengambil tindakan."
__ADS_1
Elizabeth dan Lapis mengambil nafas yang dalam ketika mengingat tentang sifat Mabas yang sangat berhati -hati dalam melakukan sesuatu.
Pada akhirnya mereka berhenti memikirkan tentang Mabas dan mereka semua setuju untuk memberikan bantuan kepada Zen saat Abrials datang menyerang.