Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Kemunculan


__ADS_3

Kufa terhempas cukup jauh karena serangan dari Zen. Zen berjalan dengan pelan menuju kearah Kufa, butuh waktu beberapa saat bagi Zen untuk sampai ketempat Kufa terhempas.


Disana Zen melihat Kufa yang terduduk dibawah sebuah pohon yang cukup besar, Beberapa bagian tubuh Kufa ada yang terluka. Zen berhenti berjalan begitu berjarak cukup dekat dengan Kufa.


"Sudah cukup lama aku tidak melihat Petrius, terakhir kali aku melihatnya adalah sekitar satu sampai dua tahun lalu jika aku tidak salah. Saat itu aku memberikannya kepadamu."


Saat itu adalah pertemuan pertama antara Zen Kufa. Pada saat itu juga Zen tidak hanya membunuh beberapa rekannya Kufa, tapi Zen juga memaksa memberikan pelayan pertama miliknya yaitu Petrius kepada Kufa.


" Dan juga dia sepertinya telah menerimamu hingga titik dimana kau dapat menggunakan sebagian besar kekuatannya."


"Meski begitu kau dapat menahan serangannya dengan mudah."


Kufa berbicara kepada Zen sambil sedikit terbatuk batuk.


'Apakah aku sedikit berlebihan?' itulah yang dipikirkan oleh Zen setelah melihat Kufa yang terluka.


Pada awalnya Zen hanya ingin menguji daya tahan tubuh Kufa, namun tanpa Zen sadari niat itu membuat dia menendang Kufa dengan kuat menggunakan setengah kekuatannya.


Sebagai hasilnya Kufa yang terkena tendangan itu menjadi terhempas jauh dan mendapatkan beberapa luka ditubuhnya.


"Jadi bagainama caramu menahan serangan dari Petrius yang sangat Kuat itu?"


Kufa yang duduk dibawah pohon itu bertanya kepada Zen sambil menatap dengan tajam.


"Kalau itusih tergantung dari niat penggunanya. Tidak peduli seberapa besar kekuatan pelayan yang dapat kau gunakan, itu semua tidak akan berguna jika kau tidak memiliki niat yang kuat."


"Niat? Niat apa yang kau maksud?"


"Tak kusangka kau masih belum menyadarinya. Sepertinya dipanggil sebagai pahlawan yang tak terkalahkan membuatmu menjadi sedikit tumpul."


Menurut Zen, Kufa menjadi sedikit tumpul setelah dipanggil sebagai pahlawan yang tak terkalahkan oleh orang orang yang ada dikota perdagangan. Posisi yang tinggi membuat Kufa menjadi malas untuk mempelajari hal hal yang baru baginya.


Tapi mungkin Kufa tidak dapat disalahkan dalam hal itu, itu karena setiap orang pasti akan melakukan hal yang sama jika mereka memiliki kekuatan sebesar Kufa. Berbeda dengan orang lemah yang selalu berlatih untuk menambah kekuatan mereka, orang yang kuat akan menjadi malas untuk berlatih.


Mereka berfikir kalau kekuatan yang mereka miliki sudah cukup untuk dapat membuat mereka berada dipuncak dunia, namun sebenarnya orang yang seperti itu adalah orang yang bagaikan katak dalam sumur.

__ADS_1


"Tapi kurasa tidak masalah bagiku untuk memberitaumu mengenai niat yang kumaksud. Lagi pula kau nantinya adalah orang yang akan memimpin yang lainnya. Niat yang kumaksud adalah...... "


Zen berhenti berbicara, dia merakan niat membunuh dari samping kanannya. Zen pun langsung menggangkat pedang terkutuknya dan menahan serangan orang yang menyerangnya itu.


'Pedang terkutuk.'


Itu adalah pedang yang digunakan oleh orang yang menyerang Zen.


'Tidak kusangka dia akan muncul tanpa aku mencarinya.'


Zen menjadi sedikit tersenyum setelah melihat pedang terkutuk yang digunakan oleh orang yang menyerangnya itu. Itu adalah pedang terkutuk yang tersegel diistana kekaisaran bersama dengan pedang suci yang digunakan oleh Kufa.


Kini pedang itu muncul dihadapan Zen tanpa perlu dia mencarinya. Namun senyum Zen itu tidak bertahan lama, Zen merasakan energi sihir yang besar terkumpul diatasnya. Zen pun melihat keatas Sambil menahan serangan pedang milik musuh.


'Lingkaran sihir, milik Tiamat ya.'


Seperti yang Zen rasakan, lingkaran sihir besar terbentuk diatasnya. Lingkaran sihir itu memiliki warna ungu gelap.


Orang yang menyerang Zeb tadi kini kembali menyerang dengan kuat. Namun Zen memilih untuk menghindari serangan itu dan menjauh dari pada menahan serangan itu. Itu karena Zen tau kalau orang yang menyerangnya dengan pedang itu hanya mengulur waktu sampai lingkaran sihir selesai.


"Kufa, bagaimana keadaanmu?"


Orang yang menyerang Zen dengan pedang terkutuk itu pergi ketempat Kufa berada.


"Apa yang kau lakukan disini Sieg?"


Orang yang menyerang Zen itu adalah Sieg, dia adalah salah satu pahlawan yang terpanggil.


"Aku melihat pedang besar milikmu itu, jika aku tidak salah yang namanya Petri, Petri apa gitu."


"Petrius Bodoh."


"Aku tidak peduli dengan namanya. Kau minumlah ini."


Sieg memberikan potion tingkat tinggi kepada Kufa. Kufa pun menerima potion itu dan meminumnya. Beberapa luka ada yang sembuh, namun untuk luka yang besar hanya akan mengecil.

__ADS_1


"Sudah kuduga bahkan potion tingkat tinggi pun tidak sebanding dengan sihir penyembuh yang dimiliki Ziyun."


"Bodoh, untuk saat ini masih lebih baik kau meminum potion itu, jika tidak mungkin kau akan lebih sulit disembuhkan nantinya."


"Yah, kurasa kau benar juga. Jadi apakah kau sendiri yang pergi kesini?"


"Tidak, aku bersama seseorang."


"Jadi dimana orang itu?"


"Entahlah, dia tadi berkata kalau dia akan menggunakan sihir yang besar jadi dia memerlukan beberapa waktu untuk bersiap. Lalu aku meninggalkannya, jadi aku tidak tau dimana dia sekrang."


Tidak lama Kufa dan Sieg berbicara, orang yang datang bersama Sieg pun mulai terlihat. Yang pertama kali melihat orang itu adalah Zen, Zen dapat merakasan aura milik orang itu jadi Zen tau dimana tempat orang itu akan muncul.


"Aku sudah menunggumu Accua."


Zen sedikit menyapa Accua, namun Accua tidak merespon Zen sedikitpun.


"Sihir tadi milik Tiamat bukan? Sepertinya setelah melawan Orc King perkembanganmu menjadi sangat cepat."


Mendengar perkataan Zen itu, kali ini Accua menunjukan sebuah respon. Dia menyipitkan matanya dan menatap tajam kearah Zen.


"Kau tau mengenai Orc King itu? Orc king yang muncul dihutan sekitar beberapa minggu lalu?"


"Ya, tentu saja aku tau. Lagi pula saat itu aku melihat kau saat bertarung dengan Orc King itu. Yah bagaimana bilangnya ya? Itu adalah pertempuran yang menarik."


Accua menjadi marah setelah mendengar perkataan Zen, Accua pun langsung menarik pedangnya dan mengarah kearah Zen dengan cepat. Accua menyerang Zen dengan oedang miliknya, Zen menahan serang Accua itu dengan jarinya.


Zen memegang bilah pedang milik Accua dengan kedua jarinya, Accua mencoba menarik pedangnya namun dia tidak dapat melakukannya.


"Bukankah ini adalah pedang yang bagus Accua? Yah meskipun hanya untuk kalangan manusia biasa."


Zen mematahkan pedang Accua dengan kedua jarinya, pada momen yang singkat itu Accua tidak dapat merespon dengan cepat. Zen menarik Accua lalu menendangnya. Zen tidak menendang Accua dengan kuat, namun itu sudah cukup untuk membuat Accua terhempas sampai ketempat Kufa berada.


"Sepertinya kau masih kurang latihan Accua..... Oh iya, kebetulan karena kalian berdua ada disini mengapa kalian tidak menyerangku secara bersamaan?"

__ADS_1


__ADS_2