
"Nona Fernanse, bagaimana keadaan pertarungan yang mulia sekarang?"
Irene yang masih membaca buku dengan santai bertanya kepada Fernanse yang sedang menonton pertarungan antara Zen dan tiga naga.
"Hmm, ya bagaiman bilangnya. Kurasa cukup seru."
"Haa."
Mendengar jawaban dari Fernanse, Irene mengambil nafas yang panjang. Irene berhenti membaca bukunya melihat kearah Fernanse.
"Bukan itu yang saya maksud Nona Fernanse. Yang saya tanyakan apakah yang mulia kesulitan melawan mereka atau tidak?"
"Sejauh yang kulihat Zen sama sekali tidak kesulitan. Malahan sepertinya ke 3 naga itu kesulitan melawan Zen."
"Oh, begitu ya. Kalau begitu apakah yang mulia menggunkan pedang sucinya?"
"Ya, dia telah menggunakannya. Ya meskipun dia menggunakan pedang itu seperti pedang biasa, bukan seperti menggunakan pedang suci."
"Begitu ya."
Irene kembali membaca bukunya. Meski diluar selalu terdengar suara yang sangat kuat, namun Irene sama sekali tidak terganggu dengan suara itu. Irene juga tidak khawatir jika nantinya akan ada yang serangan yang menuju kereta mereka. Semua keyakinan itu berasal dari kepercayaannya kepada Zen, dia yakin kalau Zen telah memasang pelindung disekitar kereta mereka, karena itulah Irene dapat membaca dengan santai tanpa merasa khawatir.
"Nona Irene, jika anda merasa khawatir dengan keadaan Zen, mengapa anda tidak melihatnya sendiri?"
"Nona Fernanse, kau sepertinya salah paham terhadap sesuatu. Saya tadi bertanya karena saya berfikir 'Mengapa pertarungan itu sangat lama selesai?'. Karena itulah saya bertanya kepada anda tentang pertarungan yang mulia. Lagi pula saya sedang sibuk membaca buku disini."
"Kalau begitu, berarti kau tidak khawatir kalau Zen akan Kalah?"
"Ya, jika yang mulia kalah hanya karena melawan naga yang berumur 50 tahunan maka yang mulia pasti sudah mati dari dulu."
"Begitu ya."
"Ya."
Irene memiliki keyakinan mutlak kalau Zen pasti akan menang melawan ke 3 naga itu. Dulu dihadapan Irene, Zen pernah membunuh 2 Naga berumur 100 tahun sekaligus. Sejak saat itulah Irene sama sekali tidak pernah khawatir tentang apa yang dilakukan oleh Zen.
Meski saat ini kekuatan Zen tidak dalam keadaan aslinya, namun Irene tetap tidak khawatir dengan Zen.
*****
"Aku yakin kalau aku telah menghempaskanmu hingga jauh. Tapi tidak kusangka kau bisa kembali dengan sangat cepat dengan tubuh yang terluka seperti itu."
__ADS_1
Zen berbicara dengan orang yang melepaskan sihir bola api kepadanya.
"Pukulanmu itu sungguh sakit sekali. Aku bahkan masih dapat merasakan sakitnya."
Itu adalah naga merah yang tadinya terhempas jauh oleh pukulan Zen. Meski pukulan Zen tidak membuat banyak luka fisik pada dirinya, tapi Tubuhnya saat ini dipenuhi luka.
Namun ras naga akan sama seperti ras vampire jika mereka dalam wujud humanoid mereka. Tubuh naga merah itu mulai beregenerasi dan Luka luka yang ada ditubuhnya itu mulai menghilang.
"Dengan begini kita dapat melanjutkan pertarungan kita lagi."
"Ya, tapi sebelum itu."
Zen melihat kearah naga hitam yang sedang kabur darinya. Selama Zen berbicara dengan naga merah, kedua kaki naga hitam secara perlahan kembali bersatu dengan tubuhnya. Begitu kakinya kembali bersatu, naga hitam itu segera pergi menjauh dari Zen.
'Kau pikir kau bisa kabur dariku.'
Zen segera mengejar naga hitam itu. Naga hitam itu berlari sekuat tenaganya, namun dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan naga hitam itu hanya dapat berlari dengan setengan kekuatannya, meskipun baginya dia telah berlari sekuat tenaganya.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Zen tidak berhenti didepan naga hitam itu. Zen terus berlari tepat dibelakang naga hitam itu. Untuk sesaat Zen mengeluarkan aura intimidasi yang diarahkan kepada naga hitam itu.
Naga hitam itu berhenti berlari begitu dia merakan aura intimidasi yang diarahkan Zen kepadanya. Kaki naga hitam itu tidak dapat bergerak sesuai dengan keinginan naga hitam itu dikarenakan rasa takut yang dia rasakan.
Sebelum naga hitam itu dapat melihat Zen yang ada dibelakangnya, Zen telah memisahkan kepala naga hitam itu dari lehernya.
"Satu naga telah mati!!"
Meski wujud humanoid naga dapat beregenerasi, namun jika jantung atau kepala mereka hancur mereka juga akan mati, hal itu juga berlaku untuk ras vampire.
"Dengan begini kita dapat melanjukan pertarungan kita."
Zen menunjukan sebuah senyuman yang menghina kepada naga merah. Naga merah yang melihat senyuman Zen itu menjadi sangat marah.
"Sialan Kau!!"
Naga merah itu mendekati Zen dengan sangat cepat, sangat cepat hingga hanya orang kuat yang dapat melihat pergerakannya.
Dalam waktu singkat naga merah sudah menutup jarak yang antara dia dengan Zen. Naga merah itu menyerang Zen dengan tangan yang dia lapisi dengan kulit naganya, Zen menahan serangan itu dengan pedang suci miliknya.
"Apa itu banar benar pedang suci? Pedang itu Bahkan tidak dapat melukai tanganku."
Pedang suci terkenal karena kekuatan dan ketajamannya. Sisik naga muda pada awalnya bukanlah lawan yang seimbang melawan pedang suci. Kerena itulah naga merah meragukan kalau pedang yang Zen pegang adalah pedang suci.
__ADS_1
"Kalau begitu bagaimana jika kutunjukan padamu sedikit kekuatan dari pedang ini."
Sebelumnya Zen menggunakan pedang suci seperti dia sedang menggunakan pedang biasa. Namun kali ini Zen mengeluarakan sedikit dari semua kekuatan pedang suci.
Pedang suci itu menjadi sedikit mengeluarkan sinar berwarna emas. Sisik naga merah yang ada awalnya dapat menyaingi kekuatan pedang suci, kini sisik itu terluka sedikit demi sedikit.
Naga merah itu merasakan kalau Zen telah meningkatkan kekuatan pedang suci. Dia segera menarik tangannya dan mengambil jarak dari Zen.
Namun Zen tidak membiarkan naga merah itu mengambil jarak darinya. Zen mendekati naga merah itu dengan sangat cepat, bahkan naga merah itu tidak dapat melihat pergerakan Zen.
Naga merah itu kaget begitu dia mengetahui kalau Zen berada didepannya. Zen memotong tangan kanan dari naga merah itu.
"Sial!!! "
Meski tangannya terpotong, naga merah itu dengan cepat menendang perut Zen. Zen sedikit terhempas karena terkena tendangan naga merah itu.
"Ada apa? Apa hanya segitu saja kekuatanmu?"
Zen yang terkena tendangan naga merah itu sama sekali tidak merasakan rasa sakit sedikitpun.
"Kau terlalu meremehkanku, jika aku tidak dapat melawanmu didarat maka aku akan menyerangmu dari langit."
Wujud humanoid naga merah itu kembali menjadi wujud naganya. Naga terbang itu terbang naik keatas langit dengan cepat.
"Jika aku menyerangmu dari sini kau pasti tidak akan dapat menyerangku."
Naga merah itu menyemburkan api yang sangat penas dari mulutnya. Api itu mengarah langsung kearah Zen.
"Matilah kau!!! "
Zen yang hendak menghidari api itu kini diserang oleh naga hijau yang telah hilang dari tadi. Sama dengan naga merah yang sebelumnya, naga hijau itu melapisi tangannya dengan sisik.
"Aku akan menahanmu hingga api itu mengenaimu."
Naga hijau itu terus menerus menyerang Zen. Api dari naga merah itu semangkin dekat dengan Zen.
"Hemp, taktik rendahan."
Zen sudah terbiasa dengan serangan dari naga hijau itu. Begitu Zen melihat sebuah kesempatan, Zen langsung memisahakan kepala naga hijau itu dengan tubuhnya.
Tepat setelah Zen memisahkan kepala naga hijau dari tubuhnya, api dari naga merah langsung mengenai Zen dan menciptakan ledakan besar.
__ADS_1