Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Pertemuan


__ADS_3

[Leluhur Vampire Pertama, Pewaris ke 8. Zen]


Setelah sekian lama aku akhirnya kembali lagi ketempat ini. Tempat dimana semua kehidupanku mulai berubah. Tempat dimana aku membuang sisi manusiaku dan juga tempat dimana aku kehilangan banyak hal.


-Kastil ini milik siapa?-


-Milikku.-


-Apakah Kau yang membangunya?-


-Tidak, bukan aku yang membangunnya. Aku hanya mewarisinya saja.-


-hmmm.-


Aku berjalan mendekati pintu masuk kastil. Prajurit yang melihat kehadiranku segera menundukan kepalanya kepadaku.


"Yang Mulia telah kembali buka pintunya!"


Begitu pintu terbuka aku melihat seorang perempuan berdiri. Perempuan itu memiliki rambut berwarna merah mudah, dengan rok pendek dan baju formal yang biasanya dipakai oleh seorang bangsawan laki laki. Aku berjalan mendekatinya.


"Selamat Datang kembali, yang mulia."


Dia sedikit membungkuk padaku dan memberikan ucapan selamat datang.


"Yah, Irene. Lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?"


"Baik yang mulia."


"Baguslah kalau begitu."


"Yang mulia, ada sesuatu yang ingin saya beritaukan kepada anda."


"Aku tau, ada seseorang yang ingin bertemu denganku bukan? Tunjukan aku jalannya."


Tanpa mendengarakan apa yang dikatakan oleh Irene, aku sendiri dapat menebak apa yang ingin dia katakan. Juga meski samar samar jika dilihat dari aura yang orang itu keluarkan, aku dapat menebak siapa orang itu.


"Baik, yang mulia."

__ADS_1


Irene menunjukanku jalan menuju ketempat tamu itu berada, kami berjalan melewati lorong demi lorong hingga akhirnya kami sampai kedepan ruangan tempat tamu itu berada.


"Dia ada didalam yang mulia."


Aku segera membuka pintu ruangan itu. Begitu aku masuk kedalam, aku melihat seseorang yang sesuai dengan perkiraanku. Orang itu adalah Leluhur ke 5, Argares.


"Yo, sesuai dengan perkiraanku kalau kau akan segera kembali kesini."


"Dan Tuan Argares juga sesuai dengan perkiraanku, setelah mendapatkan pesan dariku Tuan pasti akan segera kesini."


"Bukankah seperti ini yang kau inginkan. Dan juga jangan panggil aku tuan, rasanya akan aneh jika kau yang memanggilku seperti itu."


"Tidak, tidak. Tidak bisa seperti itu, meskipun peringkatku lebih tinggi, tapi tuan jauh lebih tua dariku."


Dia menatapku dengan tatapan seperti sedikit terganggu atas perkataanku.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Kau bisa memanggilku tuan."


"Baik."


"Jadi bagaimana kondisi dari rencana yang sedang kau jalankan?"


"Yah, bisa dibilang dalam keadaan yang baik."


"Tapi bukankah kau baru memberi 6 pelayanmu kepada 6 orang manusia. Seingatku saat itu kau akan mengatakan akan memberikan 7 pelayanmu ke 7 orang manusia. Jadi Bukankah masih kurang satu orang lagi?"


"Ah, mengenai masalah itu. Tuan pasti tau kalau sebelumnya para manusia itu telah memanggil pahlawan, jadi kurasa aku akan memberikan pelayan ketujuhku kepada salah satu pahlawan yang dipanggil itu."


"Memilih dari salah satu pahlawan itu ya, kurasa itu bukan pilihan yang buruk jika mengingat petensi yang dimiliki oleh seorang pahlawan. Tapi tak kusangka para manusia itu memakan umpan yang kau berikan dan mereka segera memanggil pahlawan."


"Ya, dengan begitu menjalankan rencana selanjutnya akan menjadi lebih mudah."


Sejak awal rencana yang kujalankan saat ini sangat membutuhkan bantuan dari manusia. Bukan bantuan dari kekuatan mereka melaikan bantuan dengan mereka memanggil pahlawan. Pedang suci yang kucabut dimenara Ai adalah sebuah pedang suci yang berada dibawah perjanjian. Semua ras yang ada telah sepakat untuk tidak mencabut pedang suci itu, dengan mencabut pedang suci itu maka dapat dikatakan kalau seorang dari ras tertentu telah menyatakan perang kepada ras yang lain.


Pedang suci hanya dapat digunakan oleh manusia, dengan tercabutnya pedang suci itu maka ras yang lainnya akan beranggapan kalau ras manusia telah menyatakan perang kepada ras yang lain. Namun itu saja tidak cukup untuk memicu sebuah perperangan, bagaimapun juga ras lain masih tidak memiliki bukti kalau ras manusialah yang mencabut pedang suci itu.


Tapi ceritanya akan berbeda jika ras manusia memanggil pahlawan setelah pedang itu tercabut. Itu akan membuat ras lain menjadi sangat yakin kalau ras manusialah yang mencabut pedang itu meskipun mereka tidak memiliki bukti. Lagipula keberadaan seorang pahlwan adalah sebuah ancaman untuk ras ras yang lainnya.

__ADS_1


"Jika aku berkata maka Rencana yang kau siapkan itu adalah rencana yang sangat gila. Jika rencana itu berhasil dilakukan maka kemungkinan besar seluruh dunia ini akan menjadi kacau. Dan juga manusia yang menjadi ras terlemah mungkin akan punah dari dunia ini."


"haha, kurasa dengan mengatakan kalau mereka akan punah sedikit berlebihan. Paling tidak mungkin hanya sekitar 50 persen dari mereka yang menghilang dari dunia ini."


"Itu tidak ada bedanya. Tapi apa kau yakin dengan rencana yang dapat membunuh sebagian besar orang dari rasmu yang dulu?"


"Mengapa tuan bertanya seperti itu?"


"Tidak ada alasan. Aku hanya sedikit penasaran dengan hal itu."


"Begitu ya..... Apakah tuan tau bagaimana kedua orang tua dan saudaraku mati? Mereka tidak dibunuh oleh monster, mereka juga tidak dibunuh oleh iblis, mereka juga tidak dibunuh oleh vampire, dan mereka juga tidak dibunuh oleh para Naga. Mereka tidak dibunuh oleh ke 4 ras yang menjadi musuh dari ras manusia, melainkan mereka dibunuh oleh ras mereka sendiri yaitu ras manusia. Meski begitu aku tidak bisa membeci ras manusia yang telah membunuh keluargaku, karena aku tidak memiliki emosi yang dapat membuatku membenci mereka. Jadi kehancuran mereka bukanlah menjadi sebuah masalah bagiku."


"Tidak memiliki Emosi ya, itu adalah harga yang harus dibayar bukan."


"Ya."


"Sudahlah lupakan saja topik itu. Ngomong ngomong apakah kau ada bertemu dengan sesuatu yang menarik didataran manusia?"


"Sesuatu yang menarik ya?..... Ah, menegenai itu aku jadi teringat akan sesuatu."


"Apa itu?"


"Disebuah kota, tidak lebih tepatnya disebuah penginapan aku bertemu dengan seseorang yang sangat kuat. Jika dilihat dari auranya, mungkin aku bisa mengatakan kalau dia lebih kuat darimu tuan."


Aura pada dasarnya tercipta dari mana (energi sihir) dan kekuatan seseorang, dengan hanya melihat aura seseorang maka dapat dilihat seberapa besar kekuatan dan Seberapa banyak Mana yang dapat dikendalikan oleh orang itu. Semangkin kuat aura seseorang ataupun sebuah benda seperti pedang suci, maka dapat dikatakan kalau orang ataupun benda itu sangatlah kuat


.


"Kau bercanda bukan. Mana mungkin ada manusia yang lebih kuat dariku."


"Aku tidak ada berkata kalau dia adalah manusia, aku hanya mengatakan seseorang. Lagi pula orang itu mungkin bukan manusia, dia dapat mengendalikan auranya menjadi sangat kecil dan juga dia menggunakan sihir ilusi untuk mengubah penampilannya."


"hmmm."


"Sesuai dengan informasi yang kudapatkan. Ternyata kalian memang berada disini."


Tiba tiba aku mendengar suara orang yang bukan bagian dari kami. Orang itu adalah seorang perempuan dia berjalan memdekati kami secara perlahan. Melihat orang itu semangkin dekat dengan kami, akupun menunjukan senyuman yang mungkin terlihat sedikit sombong.

__ADS_1


__ADS_2