
Setelah mendapatkan beberapa Informasi dari Cristine, Zen dan Tina langsung meninggal kota Aciyt yang ada di kekaisaran Belfast dan menuju kota Elith tempat kuil abadi berada yang terletak di kekaisaran Zilion.
Selama berhari hari Zen dan Tina melakukan perjalan dan akhirnya mereka sampai di kota Elith. Seperti yang Cristine katakan, skala pertempuran dikota menjadi lebih besar.
Meski telah memasuki kota namun Zen tidak dapat menemukan orang satupun, dengan kata lain apa yang dikatakan oleh Cristine itu benar kalau kota telah dikosongkan.
Zen dan Tina berjalan dengan tenang didalam kota, mereka dapat mendengar suara ledakan berada dimana mana. Dengan melihat kerusakan yang ada dikota Zen menyimpulkan suatu hal.
Meski skala pertarungan telah meningkat namun menurut Zen para pemimpin pasukan yang bertempur itu masih belum bergerak sedikitpun. Jika para pemimpin telah bergerak maka kota pasti telah rata dan tidak hanya mengalami kehancuran yang seperti ini.
"Kemana kita akan pergi sekarang Zen?"
"Kuil abadi."
"Apa kau tahu jalannya?"
"Ya aku tau."
Ini adalah pertama kalinya Zen datang ke kota ini, dan dapat dikatakan dia tidak akan mengetahui dimana letak kuil abadi. Meski tidak diketahui letak kuilnya namun Zen dapat Merasakan pecahan kekuatannya. Dan Zen berjalan menuju tempat pecahan kekuatan itu berada.
Disekitar pecahan pecahan kekuatannya Zen merasakan banyak aura yang besar, dan Zen langsung berhenti dan memasuki sebuah rumah.
"Apa yang kau lakukan Zen?"
Zen dengan paksa juga menarik Tina untuk memasuki rumah itu.
"Tenanglah dan berusahalah untuk tidak terlalu membuat banyak suara."
Zen berbicara dengan nada yang serius seolah -olah ada sesuatu yang berbahaya, dan Tina pun langsung menuruti apa yang Zen katakan.
Dari jendela rumah itu Zen mengintip keluar, dan seperti yang dia rasakan ada beberapa orang dengan aura besar berada disekitar kuil abadi.
"Itu adalah Vlad."
Zen dapat melihat diantara orang orang itu, namun bukan hanya Vlad Zen juga dapat melihat naga yang dia temui di hutan saat penaklukan pada hari itu.
"Apa yang mereka lakukan disini? Apa mereka sedang memperebutkan pecahan kekuatan milikku?"
Hanya itu adalah yang dapat Zen pikirkan saat ini, bagaimanpun Zen dapat Merasakan kalau 7 orang diantara mereka semua berasal dari dunia atas.
"Apa kau kenal dengan mereka Zen?"
"Iya aku mengenal beberapa orang diantara mereka."
Tiba tiba Vlad melihat kearah rumah yang sedang tempati ini, Vlad lalu tersenyum dan mengelukan beberapa bola api.
"Sialan."
__ADS_1
Bola bola api itu datang dengan sangat cepat, Zen langsung memeluk Tina dan memasang sebuah pelindung. Bola bola itu mengenai rumah dan menciptakan ledakan yang besar. Dalam ledakan itu beberapa rumah hancur tak bersisa.
"Apa yang kau lakukan Vlad?"
Seorang pria yang juga seorang vempire bertanya kepada Vlad setelah melihat dia mengeluarkan sebuah sihir.
"Bukan apa apa, hanya saja aku tadi merasa kalau ada yang mengawasi kita."
"Begitu ya. Jadi apa kau masih dapat merasakan aura miliknya?"
"Tidak, aku tidak dapat merasakannya lagi."
"Kalau begitu dia mungkin telah mati karena sihirmu tadi."
"Kuharap begitu."
Disisi lain Zen yang terkena sihir itu hanya menderita luka kecil berkat pelindung yang dia buat.
Zen lalu langsung mengeluarkan sebuah kantong yang berisi 550 koin emas dan memberikannya kepada Tina.
"Dengarkan aku Tina, tugasmu telah selesai sampai disini. sekarang Aku akan mengirimkan mu kembali ke kota milim."
Zen lalu langsung membuka sebuah gate.
"Apa yang terjadi Zen?"
7 orang dari dunia atas itu sangatlah berbahaya, bahkan dengan kekuatan Zen yang sekarang dia tidak akan mempu melawan ke 7 orang itu sekaligus.
"Kau tidak perlu khawatir, seperti yang kau tau aku adalah seorang rank S."
"Kau hanyalah rank S yang lemah, dimata mereka kau hanyalah seperti semut."
Ketika 7 orang itu telah mulai bertarung maka jangan kekasiaran Zilion, bahkan benua Arca ini dapat hancur kapan saja.
Pada awalnya Zen berencana untuk menggunakan Tina sebagai umpan agar dia dapat masuk kedalam kuil dengan mudah. Namun setelah melihat situasi saat ini bahkan Tina sangat tidak memenuhi syarat Agar dapat Zen gunakan sebagai umpan.
"Tapi Zen...."
"Tidak ada tapi tapian."
Zen langsung memegang Tina dan melemparnya kesan Gate, gate langsung tertutup begitu Tina memasukinya.
"Dengan begini aku dapat bertarung tanpa membawa beban."
Hal yang paling membuat seseorang menjadi lemah adalah saat orang itu bertarung sambil melindungi orang lain. Dengan perginya Tina, Zen sekarang tidak perlu khawatir dengan apapun yang akan terjadi selanjutnya.
"Untuk saat ini aku hanya akan mengamati saja."
__ADS_1
"Sayangnya itu sangat tidak mungkin."
Zen menjadi sedikit lengah, dia tidak menyadari kalau Vlad mendatangi dirinya. Vlad mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya ke Zen.
Zen menahan pukulan itu, meski dia menahannya Zen Tetap saja terhempas sampai ketempat para orang dari dunia atas itu berkumpul.
"Datang Satu lagi tamu yang tak diundang."
Seorang pria dengan tatapan tajam menatap Zen. Pria itu berdiri didepan pintu masuk kuil dengan 2 orang perempuan yang berada disampingnya.
"Berapa banyak orang yang harus kita lawan?" Ucap salah satu seorang perempuan.
"Kurasa ini sudah semuanya, jadi kita hanya perlu melawan 5 orang dari dunia atas dan beberapa ratus semut dari dunia bawah ini." Ucap perempuan yang satunya.
"Para semut itu tidak perlu dihitung, jadi kita hanya perlu melawan 5 orang saja bukan."
"Ya, kau benar."
"Kalau begitu mari kita mulai sekarang."
Salah satu perempuan itu mengeluarkan sebuah sihir, sihir itu bukanlah untuk menyerang melainkan dia membuat sebuah penghalang yang menutupi seluruh kota. Dengan penghalang itu mungkin kehancuran benua Arca dapat dihindari setelah mereka semua mulai bertarung.
"Mari kita selesaikan ini dengan cepat."
Perempuan yang lain mengeluarkan sebuah tombak yang merupakan senjata suci tingkat 2. Dengan tombak ditangannya, perempuan itu lalu menyerang salah satu dari 3 vampire yang ada.
"Sepertinya kita bertemu lagi."
Naga yang Zen temui di hutan waktu itu berjalan mendekatinya.
"Sepertinya kita juga memiliki tujuan yang sama, jika tidak keberatan bisakah kau memberitauku namamu?"
"Zen Cavalier, dan kau siapa nama mu?"
"Sebut saja Emel."
Emel langsung mengambil ancang- ancang untuk menyerang Zen, namun sebelum dia dapat menyerang Vlad mendatangi mereka berdua.
"Sepertinya kalian bersenang senang, izinkan aku ikut bergabung."
Vlad menunjukkan sebuah senyuman yang penuh percaya diri.
"Aku yang membuatnya datang kesini, jadi biarkan aku juga bergabung. Kau tidak keberatan bukan tuan naga yeng lemah."
"Ho hoo, perkataan mu sungguh tidak enak untuk didengar tuan vampire pelayan rendahan."
Vlad dan Emel saling menatap sambil mengeluarkan aura yang besar, bahkan hanya mengeluarkan aura saja membuat beberapa bangunan yang ada langsung hancur.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian langsung bergerak dengan sangat cepat dan saling beradu pukulan.