
"hahahaha."
Tawa Zen menarik perhatian semua orang yang berada didalam sana. Mereka yang tadinya tidak memperhatikan Zen kini mulai memperhatikannya.
"Bagaimana mungkin kau yang merupakan vampire rendahan memberikanku sebuah tawaram untuk menjadi bawahanmu. Dari mana semua kepercayaan dirimu itu berasal?"
"Vampire rendahan? Kau hanyalah seorang vampire campuran, beraninya kau menolak tawaran dariku."
"Apa ada alasan bagiku untuk tidak berani menolak tawaran darimu. Bahkan leluhur pertama kalian Si Ardiel Veltre tidak akan pernah berani untuk memberikan sebuah tawaran seperti itu kepadaku."
Tentu saja yang Zen katakan itu sebuah kebenaran, leluhur pertama Ardiel Veltre yang merupakan seorang pemegang mahkota king itu bahkan tidak akan berani memberikan tawaran seperti itu kepada Zen.
"Yang mulia leluhur pertama?"
"Iya, si kecil Ardiel Veltre."
Seketika semua vampire yang ada disana berdiri dari kursinya, Mereka semua menatap Zen dengan sangat tajam.
"Hoi vampire campuran yang disana, tidak akan menjadi masalah jika kau menghina Hingel Ablias namun kami tidak akan begitu saja membiarkanmu menghina leluhur pertama kami."
Seorang vampire mulai berbicara kepada Zen. Ucapan vampire itu memicu para vampire yang lain untuk mulai berbicara.
"Dia benar, kurasa kami tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkan tempat ini begitu saja."
"Karena kami masih memandang dirimu maka kami mungkin hanya memintamu untuk menghancurkan sendiri tanallis milikmu."
Sama seperti senima beladiri yang dantiannya hancur, jika tannalis seorang pengguna mana hancur maka dia hanya akan menjadi orang biasa yang tidak memiliki kekuatan.
"Mengapa kalian begitu marah, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Meski banyak vampire yang menunjukan rasa permusuhan kepada dirinya, namun Zen masih saja tetap tenang seperti mereka semua bukanlah sebuah masalah baginya.
"Apa mungkin kalian semua ingin melawanku?"
Sekilas Zen menatap semua vampire yang ada disana.
"Jangan sombong kau darah campuran, tidak peduli sekuat apa dirimu kau tidak akan dapat melawan kami semua."
"Tidak, tidak. Dengan kekutanku yang sekarang melawan beberapa Baron dan Viscount bukanlah sebuah masalah."
Dari mereka semua yang paling kuat adalah Hingel Ablias yang berada ditingkat Earl, sedangkan yang lainnya berada ditingkat Baron dan Viscount.
Selama para vampire itu masih berada dibawah tingkat Earl kelas menengah kebawah, mereka tidak akan mengalahkan Zen.
"Ketika kalian sudah mulai menyerang ku maka bersiaplah untuk mati."
__ADS_1
"Kami tidak akan takut akan kematian, selama hal itu untuk leluhur kami bahkan kami tidak akan keberatan jika harus menghancurkan ratusan dunia."
Para vampire itu lalu mulai mengeluarkan senjata mereka dan bersiap untuk menyerang.
"Jadi itu pilihan kalian ya. Ah untuk kalian yang tidak ingin terlibat dengan pertarungan ini maka silahkan pergi dari sini. Jika tidak maka jangan salahkan aku atas apa yang terjadi pada kalian."
Mendengar peringatan Zen beberapa orang keluar dari tempat itu karena tidak ingin terlibat dengan pertarungan, sedangkan yang lainnya menganggap peringatan hanyalah sebuah lelucon dan tetap berada disana.
Zen lalu mengeluarkan pedang miliknya dan mulai mengeluarkan aura miliknya.
"Bagaimana jika kita mulai sekarang?"
Zen mengangkat Pedangnya dan seorang vampire tingkat Baron dengan cepat menyerangnya.
Pedang milik mereka berdua beradu dan menciptakan sebuah gelombang kejut yang besar hingga menghancurkan restoran itu.
"Yang benar saja, para vampire itu benar benar bertarung dikota ini."
Para iblis yang melihat hal itu menjadi terkejut, sangat jarang bagi mereka untuk dapat melihat sebuah pertarungan yang terjadi dikota ini.
Sekarang beberapa bagian kota telah hancur karena pertarungan para vampire itu.
"Hahaha, meski kita sama sama peringkat Baron namun kekuatanmu jauh lebih lemah dari padaku."
Para vampire itu menyerang Zen satu persatu, hal itu bukan membuat Zen merasa kesulitan melainkan membuat Zen merasa lebih baik.
"Satu."
Satu vampire mati dengan jantung yang terkoyak karena pedang Zen.
"Cih, serang dia dengan sihir."
Teriak seorang vampire dengan keras, vampire itu terus menyerang Zen dengan tombak miliknya selagi yang lain sedang mempersiapkan sihir untuk menyerang Zen.
"Matilah kau, tombak es."
"Panah api."
"Bilah angin."
Puluhan jenis sihir dengan daya hancur yang besar menuju kearah Zen. Akan berbahaya jika semua sihir itu mengenai Zen, Zen lalu dengan cepat menyingkirkan vampire yang terus menyerang dirinya.
"Bodoh. Bilah kehampaan."
Zen mengayunkan pedangnya, ayunan itu membuat pedang Zen mengeluarkan puluhan bilah hitam. Bilah bilah hitam itu menghancurkan semua sihir yang menuju kearah Zen dan membuatnya menjadi tercerai berai.
__ADS_1
"Biar ku tunjukkan pada kalian sihir dengan skala hancur yang besar."
Zen melihat kearah langit, sebuah lubang hitam yang besar muncul. Dari lubang hitam itu muncul sebuah batu besar.
"Sekarang hancurkan semua yang ada dibawah mu."
Batu itu turun dengan sangat cepat, para vampire itu mengeluarkan banyak sihir untuk menghancurkan batu itu. Namun sangat disayangkan kekuatan mereka masih tidak dapat menghancurkannya.
"Kalian semua berhenti, biar aku yang menghancurkannya."
Hingel Ablias menghentikan para vampire itu membuang mana mereka dengan percuma. Dia lalu mengeluarkan tombak semi ilahi tingkat 1 miliknya.
Hingel mengalikan banyak kekuatannya kedalam tombak itu. Tombak itu lalu diselimuti oleh api dan Hingel langsung melemparkannya, tombak itu menghancurkan batu itu menjadi ribuan bagian dan terjatuh diberbagai tempat.
"Kekuatan yang lumayan, namun....."
Zen bergerak dengan sangat cepat, tanpa Hingel sadari Zen telah berada didepannya.
"Tanpa senjata apa yang bisa kau lakukan."
"Jika aku tidak memiliki senjata maka aku akan menggunakan tinju milikku."
Hingel mengepalkan tinjunya miliknya dan menyerang Zen. Zen dapat dengan mudah menghindari pukulan itu.
"Meski kekuatannya kuat namun tidak ada gunanya jika dapat dihindari dengan mudah."
Zen lalu menendang Hingel dan membuatnya terhempas sangat jauh.
"Sekarang giliran kalian."
Zen melambaikan jarinya dan pukulan cincin bercahaya keluar, cincin itu menyerang para vampire dengan sangat kuat dan membuat mereka terhempas sangat jauh.
"Hmm, masih ada yang dapat bertahan."
Beberapa vampire tingkat Viscount kelas atas dapat menahan Serangan cincin itu, namun sebagai gantinya tubuh mereka menerima luka yang sangat parah.
"Itu tadi bukanlah sihir, apa tadi itu adalah cincin yang terbuat dari energi spiritual?"
"Benar sekali, namun tidak ada gunanya bagimu mengetahui hal itu. Lagi pula kau sebentar lagi akan mati."
Pedang Zen dengan cepat menuju leher vampir itu, namun vampire itu dapat menahan pedang Zen dengan mudah meski tubuhnya terluka parah.
"Untuk masalah aku akan mati sekarang siapa yang akan tau."
Vampire itu tersenyum kepada Zen, semua lukanya dengan cepat kembali sembuh. Rambut hitamnya berubah menjadi abu abu, sebuah cahaya gelap yang berbentuk sayap muncul dibelakang vampire itu.
__ADS_1
"Yang benar saja, kau ternyata memiliki Magea Erebea."