
Hanya dengan melihatnya saja Zen tau kalau itu adalah kekuatan dari Magea Erebea. Dan juga kekuatan Magea Erebea yang digunakan vampire itu lebih kuat daripada yang digunakan oleh Vlad.
"Heh, sepertinya kau sedikit mengetahui tentang kekuatan ini. Kalau begitu biar kutunjukan bisa padamu perbedaan kekuatan kita."
Vampire itu memukul Zen dengan sangat kuat dan Zen pun terhempas cukup jauh.
"Sial, kesadaran masih ada."
Berbeda dengan Vlad yang akan kehilangan kesadarannya, vampire ini masih dapat mempertahankan kesadarannya saat menggunakan Magea Erebea.
"Kemana kau melihat."
Tanpa Zen sadari vampire itu telah berada dibelakangnya, vampire itu lalu kembali menyerang Zen dengan pukulannya.
"Hoo, kali ini kau dapat menahannya."
Zen dapat menahan pukulan vampire itu tanpa harus terhempas.
"Cara yang sama Tidak akan berlaku 2 kali untukku."
"Begitu ya, kalau begitu biar kulihat sejauh mana kau dapat bertahan."
Mereka berdua lalu saling beradu pukulan, pukulan mereka saling tubuh masing masing. Lalu vampire itu sadar, tidak perduli separah apa luka yang disebakan oleh pukulan satu sama lain mereka tidak akan mati karena luka akan langsung sembuh.
Selama jantung atau kepala mereka berdua tidak hancur maka mereka tidak akan mati, dan selama salah satu dari mereka tidak ada yang mati maka pertarungan mereka tidak akan berakhir.
'Selagi kesadaran ku masih ada aku akan mengakhiri pertarungan ini secepatnya mungkin.'
Meski vampire itu masih dapat mempertahankan kesadarannya namun itu tidak akan berlangsung lama. Sebelum dia kehilangan kesadarannya dan menyerang dengan membabi buta vampire itu berniat untuk membunuh Zen secepat mungkin.
Vampire itu lalu memadatkan mana miliknya dan membuat sebuah belati, dengan belati itu dia menyerang Zen dengan sangat cepat.
Tidak hanya diam Zen pun juga mengeluarkan sebuah belati dan mereka kembali saling beradu.
Setiap serangan membuat tubuh terluka, namun sama seperti pukulan luka yang dibuat oleh belati itu masih belum cukup.
Vampire itu lalu membuat sebuah pedang, dan Zen kembali mengeluarkan pedangnya. Pedang mereka berdua kembali saling beradu.
Sebuah pertarungan dengan akhir yang masih belum terlihat, pertarungan mereka berdua membuat seperempat bagian kota menjadi hancur.
Setelah cukup lama bertarung akhirnya titik terang berakhirnya pertarungan terlihat. Zen dengan kuat memukul vampire itu hingga dia terhempas dan memuntahkan darah.
__ADS_1
"Hahhh, sungguh kekuatan yang luar biasa. Bahkan dengan menggunakan Magea Erebea aku masih tidak dapat mengalahkanmu."
Vampire itu terus memuntahkan darah sambil terduduk disebuah rumah yang telah hancur.
"Kakuatanmu sangat kuat, jika pertarungan itu berlangsung lebih lama lagi maka aku pasti akan terluka sangat parah."
"Begitu ya, kurasa semua yang kulakukan tidak sia sia."
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Bukan apa apa, hanya mengeluarkan sedikit sihir saja. Ars Nova."
Sebuah bola hitam besar muncul, bola hitam itu secara perlahan mulai mengecil dan turun kepermukaan.
"Kau bodoh, bagaimana mungkin kau bisa mengeluarkan sihir seperti itu."
"Hahaha, bahkan meski kau kuat namun dengan tubuh yang terluka seperti itu kau pasti juga akan mati dengan sihir ini."
Vampire itu tidak peduli dengan hidupnya, yang paling dia inginkan saat ini adalah membunuh Zen yang telah menghina leluhur pertama yang dia hormati.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi."
Bola itu akhirnya menyentuh tanah dan langsung menciptakan sebuah ledakan yang sangat besar.
Ditengah tengah tanah yang kosong itu Zen keluar dari dalam tanah dengan tubuh yang terluka sangat parah.
"Dasar vampire bodoh, dengan daya hancur seperti itu sudah pasti tubuhnya hancur tak bersisa. Dan karena ledakan itu juga aku harus menerima kerugian yang cukup besar."
Dalam pertarungan ini apa yang Zen inginkan adalah tubuh seorang vampire tingkat Viscount keatas. Namun karena ledakan itu tidak ada tubuh vampire yang tersisa, dan juga dia harus mendapatkan luka yang sangat parah. Itu benar benar sebuah kerugian yang sangat besar.
"Kurasa aku harus mencari vampire yang selamat."
Zen hendak pergi menuju bagian kota yang tidak hancur, namun ratusan burung berwarna putih terbang diatasnya.
Salah satu burung itu lalu turun dan berdiri dibahu Zen, burung burung itu lalu langsung menghilang dan meninggalkan sebuah pesan untuk Zen.
"Hah, kurasa aku sudah tidak bisa melakukannya. Dia sudah mengetahui posisi ku, kurasa aku harus pergi ketempatnya secepat mungkin."
Segera pergi dari tempat itu dan menuju kota yang selanjutnya. Selama perjalanan Zen sesekali berhenti untuk menyembuhkan semua lukanya.
Setelah satu Minggu lebih, Zen akhirnya sampai ke kota Exuai, segera memasuki kota dan mendatangi sebuah kastil yang ada disana.
__ADS_1
"Berhenti, tanpa izin kau tidak bisa masuk kedalam."
Penjaga kastil itu menghentikan Zen dan menyuruhnya untuk pergi.
"Kau masuklah kedalam dan katakan kepada Mekai kalau ada seorang teman lama yang ingin bertemu dengannya."
"Beraninya kau langsung menyebut nama tuan."
Penjaga itu lalu langsung menyerang Zen, Zen dengan mudah menghindari serangan itu dan mengunci pergerakan penjaga itu.
"Saat ini aku sedang tidak ingin membunuh. Hei kau, sekarang masuklah dan katakan kepada Mekai."
Zen menyuruh penjaga yang lain untuk melaporkan apa yang dia katakan, penjaga itu sama sekali tidak menolak. Dia langsung masuk kedalam, dan melaporkan apa yang Zen katakan kepada Mekai.
"Lepaskan aku sialan."
"Baiklah jika itu yang kau inginkan."
Zen lalu langsung melepaskan penjaga itu dan tidak ada niat untuk menyerangnya.
"Siapa kau? Mengapa kau bisa dengan mudah menyebut nama tuan?"
"Hmm, apa kau tidak mendengar apa yang kau katakan tadi. Aku adalah teman lamanya."
"Teman lama? Sejak aku menjadi penjaga disini aku belum pernah melihatmu."
"Kapan kau mulai berjaga disini?"
"Aku tidak terlalu ingat, Mungkin sekitar seratus atau dua ratus tahun yang lalu."
"Sekitar 100 atau 200 tahu lalu ya. Hahaha, tentu saja aku kau tidak pernah melihatku. Terakhir kali aku datang kesini mungkin pada saat itu kau masih belum lahir."
Terkahir kali Zen datang kekastil ini adalah sekitar 2000 tahun yang lalu sebelum kematiannya.
Setelah mereka cukup lama berbicara, penjaga yang pergi melapor kini telah kembali.
"Maaf telah membuat anda menunggu, tuan meminta saya untuk mengantar Anda pergi kehadapannya."
Penjaga itu menjadi lebih sopan, mungkin karena dia tau kalau Zen adalah tamu dari tuan mereka.
Zen lalu berjalan mengikuti penjara itu menuju sebuah ruangan yang ada dikastil itu.
__ADS_1
"Tuan ada didalam, anda bisa masuk kedalam sendirian."
Tanpa banyak berfikir Zen langsung masuki ruangan itu dan melihat apa yang ada didalamnya.