
"Monster seperti apa yang telah kau angkat sebagai murid?"
Liu Yu merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia tidak menyangka kalau Lin Yan akan dapat dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Meskipun Lin Yan telah membunuh banyak orang untuk pertama kalinya Namun dia sama sekali tidak menunjukan ekspresi penyesalan ataupun merasa bersalah.
"Apa dia benar benar Lin Yan yang kukenal?"
"Dia benar benar Lin Yan yang kau kenal, hanya saja sepertinya dia telah menerima kenyataan yang ada."
"Begitu ya, padahal aku berharap dia tidak pernah menerima kenyataan itu."
Pada akhirnya apa yang Zen inginkan terwujud dan apa yang Liu Yu inginkan telah hilang tanpa bekas.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sek...... Ah dia pergi."
Selagi sedang berbicara Mereka berdua dapat melihat Lin Yan pergi menuju arah yang berlawanan dari tempat mereka berada saat ini.
"Sepertinya dia berfikir kalau ujian dariku masih belum selesai."
Ujian dari Zen bukanlan untuk membuat Lin Yan membunuh semua bandit yang ada, melainkan hanya untuk membuat Lin Yan membunuh seorang manusia dan menerima kenyataan tentang dunia luar.
"Tapi mungkin lebih baik jika aku melihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Zen sama sekali tidak memiliki niat untuk menghentikan Lin Yan, malahan dia ingin melihat apa yang akan Lin Yan lakukan selanjutnya.
Zen lalu pergi meninggalkan Liu Yu dan menyusul Lin Yan.
Disisi lain Lin Yan terus bergerak dengan cepat menuju arah yang berlawanan dari tempat Zen berada.
"Setelah aku membunuh para bandit itu guru tidak menemui diriku, dengan kata lain ujian dari dirinya masih belum selesai."
Lin Yan merasa kalau dia harus membunuh lebih banyak bandit lagi agar ujian yang Zen berikan selesai. Sambil berlari dengan sangat cepat Lin Yan melihat kesekitarnya untuk mencari beberapa bandit lagi.
Dalam perjalanan Lin Yan hanya dapat menemukan 1 orang bandit saja, Lin Yan lalu dengan cepat membunuh bandit itu.
"Kemana selanjutnya."
Untuk sementara Lin Yan berhenti berlari, tidak ada gunanya jika dia hanya pergi tanpa tau arah. Lin Yan lalu berfikir cara paling efektif untuk menemukan sekelompok bandit.
Lin Yan akhirnya menemukan cara yang menurutnya cukup efektif, dia menyimpan pedang miliknya dan merobek beberapa bagian pada bajunya. Lin Yan lalu berjalan dengan pelan seperti seorang gadis lemah yang tersesat.
Setelah beberapa saat berjalan Lin Yan akhirnya bertemu dengan seorang bandit.
"Sepertinya aku menemukan sesuatu yang luar biasa."
__ADS_1
Dengan penuh kesenangan bandit itu berjalan kearah Lin Yan.
"Kemarilah gadis kecil."
Bandit itu lalu mengulurkan tangannya dan memegang tangan Lin Yan.
"Tidak, kumohon lepaskan aku."
Lin Yan sedikit melakukan perlawan kecil yang terlihat seolah olah dia adalah gadis lemah suci yang tidak ingin disentuh oleh siapapun.
"Tenanglah gadis kecil, aku tidak akan melakukan hal buruk kepadamu."
Bandit itu memegang tangan Lin Yan dengan sangat kuat. Lin Yan tersenyum didalam hatinya, dia Tidak menyangka kalau hal itu akan berhasil.
Kali ini Lin Yan menahan emosinya dengan tidak membunuh bandit itu, dia membiarkan bandit itu membawanya menuju tempat bandit lain berada.
"Hoo, cara berfikir yang sangat bagus."
Dari kejauhan Zen sedikit terkejut dengan tindakan yang Lin Yan ambil. Zen tidak menyangka kalau Lin Yan akan mengambil langkah yang sangat tidak dapat dia bayangkan.
Zen merasa cukup senang melihat hal itu, gadis kecil lemah yang dia selamatkan sekarang telah berhasil mengasah semua kemampuannya. Dengan begini tidak ada lagi yang perlu Zen khawatirkan mengenai Lin Yan.
Lin Yan akhirnya sampai kesebuah tempat yang berada didekat goa, ditempat itu ada para bandit yang lain berada. para bandit itu menatap Lin Yan seperti seekor singa yang menatap seekor ayam.
Bandit yang menangkap Lin Yan berteriak didepan pintu masuk goa memanggil tuannya.
Tidak lama setelah itu, seorang pria dengan sebuah pedang ditangannya pun keluar.
"Mengapa kau teriak dengan sangat kuat." Ucap pria itu.
"Lihatlah apa yang saya temukan dihutan tuan."
"Hmm, apa kau bodoh. Dia adalah seorang seniman beladiri.'
Pria itu langsung tau ketika dia melihat Lin Yan, pria itu lalu menarik pedangnya dan menyerang Lin Yan. Sayangnya gerakan Lin Yan lebih cepat dari pada serangan pria itu, dan Lin Yan langsung mengambil jarak.
Melihat apa yang sedang terjadi, pata bandit yang lain langsung bersiap dengan senjata Meraka.
"Haaaa haaah, rasanya sangat menjijikan ketika dipegang oleh pria seperti dirinya."
Lin Yan terus mengelap bagian tangannya yang dipegang oleh bandit itu.
"Apa yang kau inginkan nona muda, aku tidak mengingat kalau telah menyinggungmu."
Pria itu bertindak dengan hati hati, bagaimanapun dia hanyalah seniman beladiri yang berada dialam penempaan jiwa sedangkan Lin Yan berada di alam peningkatan jiwa.
__ADS_1
Meski dia mengeluarkan semua kekuatannya dia masih tidak akan dapat mengalahkan Lin Yan.
"Kau memang tidak ada menyinggung ku, namun guruku memberikanku sebuah ujian akhir untuk membunuh para bandit yang ada disekitar sini. Jadi aku tidak memiliki pilihan lain."
"Kau gadis kecil yang sangat sombong."
Bandit yang menangkap Lin Yan menjadi sedikit kesal karena perkataannya, dia merasa sedang diremehkan oleh seorang gadi kecil.
Bandit itupun lalu menyerang Lin Yan dengan sebuah belati ditangannya. Lin Yan dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan langsung membunuh bandit itu.
"Satu."
Lin Yan lalu membunuh para bandit yang lain sebelum mereka dapat memahami apa yang sedang terjadi.
"Dua."
"Tiga."
"Tujuh."
Dalam sekejap tujuh bandit telah terbunuh, seperti sebuah mesin pembunuh Lin Yan terus membunuh para bandit itu tanpa merasakan apapun hingga akhirnya dia hanya menyisakan pria itu saja.
"Kekuatan yang luar biasa, namun sepertinya masih kurang pengalaman."
Pria itu dengan cepat menyerang Lin Yan sebelum Lin Yan menyerang dirinya, pedang meraka berdua terus beradu.
Meski Lin Yan memiliki kekuatan yang lebih besar, namun staminanya tidaklah terlalu banyak. Lin Yan merasa akan berbahaya jika dia terus beradu pedang dengan pria itu.
"Seni Kekosongan, gerakan pertama."
Lin Yan mengayunkan pedangnya dengan kuat, sebuah hembusan angin tercipta. Pria itu tidak dapat menahan hembusan angin itu, dan membuatnya terluka cukup parah.
"Sepertinya ini adalah akhir hidupku."
Pria itu terus mengeluarkan darah dari mulutnya, dia tidak lagi dapat menggerakkan tubuhnya.
Dengan pandangan yang sedikit gelap Lin Yan berjalan menuju tempat pria itu.
"Maafkan aku, tapi aku tidak memiliki pilihan lain."
"Tidak apa, pada akhirnya seperti inilah cara dunia bekerja. Hanya saja aku berharap kepada surga, dikehidupan ku yang selanjutnya aku ingin hidup disebuah dunia yang damai."
"Kuharap apa yang kau inginkan terwujud."
Lin Yan menusukkan pedangnya kedada pria itu, dan pria itupun langsung mati.
__ADS_1