Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Apa Yang Harus Dilakukan


__ADS_3

1 bulan telah berlalu, setelah pertarungannya dengan Lin Shuming hari itu Zen turus berusaha untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Sebagain besar lukanya yang parah kini telah mulai sembuh, Sekarang hanya tinggal luka luka kecil saja yang tersisa ditubuh Zen.


Selama waktu itu juga Zen telah berhasil menyerap semua pecahan kekuatannya, sekarang yang Zen perlukan tinggallah 2 mahkota miliknya.


"Bagaimana keadaanmu Zen?"


Zen melihat kearah suara itu berasal, disana dia dapat melihat Rubia dan Ciel yang baru saja datang dari dunia roh.


"Bukankah kau sangat telat Rubia?"


"Apa benar begitu? Padahal kurasa ini sudah cukup cepat."


Pada hari itu Zen menyuruh Rubia untuk menemuinya dalam beberapa hari, namun setelah satu bulan lamanya Rubia baru menunjukkan dirinya.


"Tapi yah dari yang kulihat kau juga belum sembuh sepenuhnya jadi tidak akan jadi masalah jika aku baru datang menemui mu."


mahkota kekuatan adalah sesuatu yang kekuatan adalah sesuatu yang selalu diincar oleh setiap orang. Tentu saja hanya beberapa orang yang tau kalau mahkota Zen disimpan oleh Rubia, Ciel dan Xia Shuang, orang-orang yang mengetahui hal itu hanyalah orang yang sangat dekat dengan Zen seperti Ling Hao atau Hao Chen.


Jika ada orang lain yang mengetahui hal itu maka ketiga orang itu pasti akan menjadi incaran, untuk Ciel atau Rubia mungkin dapat menyimpan mahkota itu dengan baik karena didunia roh tidak akan ada mahluk hidup dengan bentuk fisik dapat mengalahkan Ciel. Namun tidak untuk Xia Shuang, tidak peduli sekuat apa dirinya atau Tan Shin yang melindunginya pada akhirnya Xia Shuang pasti akan mati setelah diincar oleh berbagai macam ras yang menginginkan mahkota itu.


"Yah terserahlah, jadi mana mahkota ku?"


"Kau sangat tidak sabaran Zen."


Rubia lalu mengeluarkan mahkota dosa amarah milik Zen, Rubia tidak langsung memberikannya kepada Zen. Untuk sesaat Rubia memainkan mahkota itu ditangannya, dia memutar mutar mahkota itu di jarinya seperti sedang memainkan hulahoop kecil.


"Apa yang kau tunggu lagi Rubia?"


"Tidak ada aku hanya penasaran saja, dengan kondisi tubuhmu yang seperti itu apa kau pikir kau dapat menyatukan mahkota ini?"


Untuk dapat menyatukan mahkota Kekuatan dengan tubuh membutuhkan energi spiritual atau mana yang besar, itupun jika tubuh dalam keadaan yang baik baik saja. Namun jika tubuh terluka saat melakukan penyatuan maka mana atau energi spiritual yang dibutuhkan jauh lebih besar lagi, selain itu prosesnya juga memerlukan waktu yang lebih lama.

__ADS_1


Tubuh Zen saat ini masih belum pulih sepenuhnya, jika dia mencoba untuk menyatukan mahkota itu sekarang mungkin akan berbahaya untuk dirinya.


"Kau tenang saja, ini hanyalah luka kecil jadi tidak akan mempengaruhi proses penyatuannya."


"Baiklah jika itu yang kau katakan."


Rubia melemparkan mahkota itu kepada Zen, Zen menangkap mahkota itu lalu menatapnya.


"Apa ada yang salah?"


Rubia sedikit penasaran dengan tatapan Zen kepada mahkota itu, itu adalah tatapan yang sangat tidak biasa. Tatapan yang terlihat lembut namun juga terlihat marah, sangat jarang bagi Rubia untuk dapat melihat Zen mengeluarkan tatapan yang seperti itu.


"Apa kau tau asal usul mahkota 7 dosa besar Rubia?"


Dibandingkan 116 mahkota yang lain 7 mahkota 7 dosa besar adalah sesuatu yang baru, para pemilik mahkota juga mengetahui hal itu.


"Bukankah itu tercipta karena pembentukan dunia yang baru?"


Pada saat dunia lama telah hancur dunia yang baru akan terbentuk, pada saat pembentukan itu 7 mahkota itu tercipta. Itulah asal usul mahkota 7 dosa besar yang diketahui kebanyakan orang.


"Apa ada alasan lain mengapa mahkota itu tercipta?"


"Entahlah, mengapa kau tidak mencari taunya sendiri."


Dibandingkan dengan Rubia Zen jauh lebih mengetahui asal usul mahkota 7 Dosa besar, namun Zen lebih memilih untuk tidak mengatakan apapun kepada Rubia.


"Mungkin aku akan melakukannya suatu hari nanti. Jadi bagaimana denganmu Ciel, sampai kapan kau akan berdiri disitu?"


Zen dan Rubia melihat Ciel yang hanya duduk dengan tenang tanpa mengatakan apapun, ketenangan yang terlihat dari Ciel bukan ketenangan yang berwibawa melainkan ketenangan yang terlihat seperti seorang anak kecil yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan teman temannya.


Seorang anak kecil yang tersingkirkan dari sebuah kelompok kemudian anak kecil itu akan duduk sendirian, seperti itulah Ciel terlihat sekarang.

__ADS_1


Ciel lalu berdiri dan berjalan menuju kearah Zen, Ciel melihat Zen dengan sebuah tatapan yang lembut. Tatapan yang menunjukan rasa kasihan, tatapan yang mengatakan kalau dia berharap Zen tidak akan mengalami sesuatu yang membuat menderita lagi.


Tanda Ciel sadari dia mulai menggerakkan kedua tangannya untuk memegang pipi Zen. Zen tau arti dari tatapan Ciel itu, Zen tidak akan membiarkan Ciel mengasihani dirinya lebih lama lagi. Dengan cepat Zen megang kedua tangan Ciel sebelum tangan itu menyentuh pipinya.


"Masa lalu biarlah tetap menjadi masa lalu, mereka yang telah berada dimasa depan tidak boleh menginginkan kembali ke masa lalu. Dan mereka yang berada dimasa depan tidak boleh terus terjebak dimasa lalu itu, mereka harus segera berubah sesuai waktu yang berjalan."


Mendengar apa yang Zen katakan Ciel kembali tersadar, dia lalu dengan cepat menarik kembali kedua tangannya. Dalam waktu singkat itu Ciel telah menghilangkan tatapan lembut itu.


"Aku tau itu, kau tidak perlu mengingatkan ku."


Meski itu yang Ciel katakan tapi pada akhirnya dia tetap terus terjebak pada apa yang terjadi dimasa lalu.


"Dengarkan apa yang kukatakan Ciel, tidak peduli seberapa banyak kau memikirkan hal itu pada akhirnya kematian Theresia pada hari itu adalah sesuatu yang tidak akan dapat diubah."


Dalam sekejap wajah Ciel langsung berubah, ekspresi marah dapat dilihat diwajahnya. Ciel laku mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke pipi Zen, Zen dengan kuat menahan tangan Ciel.


Zen sebisa mungkin ingin membuat Ciel agar tidak terus terjebak dilingkarkan masa lalu itu, meskipun dia tidak ingin menahan tangan itu namun Zen tidak memiliki pilihan lain.


"Zen...."


"Bukankah kau juga ingin dia segera berhenti terjebak pada masa lalu Rubia?"


"Aku memang menginginkan hal itu tapi...."


Rubia sedikit khawatir dengan tingkah Zen, sebelumnya Zen selalu membiarkan Ciel melakukan apapun kepadanya tanpa membalasnya. Meskipun Zen membalasnya dia hanya akan membalas sedikit, namun sekarang berbeda. Meski Zen hanya menggunakan dengan kecil kekuatannya namun bagi tubuh yang lemah seperti Ciel itu sudah sangat kuat, wajah Ciel menunjukan kalau dia merasa sedikit kesakitan.


"Kau tenang saja Rubia, aku tau batasan ku."


Zen tau kalau Ciel Merasakan sakit karena tangan Zen, namun Zen sama sekali tidak ada niat untuk melepaskan tangannya.


"Ciel, Kau adalah orang yang membunuh Theresia."

__ADS_1


Seketika ekspresi marah Ciel langsung menghilang, tatapan yang kosong dapat terlihat dimatanya.


"Meski kau ada disana pada hati itu namun pada akhirnya kau sama sekali tidak dapat menyelamatkannya."


__ADS_2