Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Gelombang Kedua


__ADS_3

[Medan Pertempuran Disekitar Gua]


Para petualang yang bergabung dalam penaklukan high orc berhasil memenangkan pertempuran pertama dengan luar biasa. Dalam pertempuran itu sekitar 10 sampai 15 orc mati, sedangkan untuk para petualang sendiri tidak ada yang mati diantara mereka, hanya ada beberapa petualang yang terlukan.


Meski mereka memenangkan pertempuran pertama dengan hasil yang memuaskan, namun mereka masih belum bisa santai untuk saat ini. Hal itu dikarenakan sisa dari high orc yang dari awal pertempuaran tidak bergerak atas perintah orc king masih terus melihat mereka. Tentu saja para petualang itu masih belum tau kalau orc king memimpin kumpulan high orc itu.


"Baal, Bagaimana pendapatmu mengenai tatapan para high orc itu?"


Seorang pria petualang rank A bernama zypnyr bertanya padanya.


"Sejujurnya tatapan mata mereka entah mengapa sedikit membuatku takut."


Terkejut dengan perkataan baal, dia terdiam sejenak. Tentu saja itu karena dia menganggap baal sebagai yang terkuat diantara mereka, pendapatnya bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.


"Bisakah kau memberitauku baal, apa yang membuatmu merasa takut?"


"Entahlah, aku sendiri juga kurang tau. Hanya saja aku merasakan sesuatu yang mengerikan berada dibalik kumpulan para high orc itu. Namun, kita masih kekurangan informasi karena pertempuran tadi."


Pada pertempuran sebelumnya para petualang langsung mengerahkan semua orang untuk bergabung kedalam pertempuran, karena itu mereka jadi tidak sempat untuk mengumpulkan beberapa informasi.


"Kalau begitu baal bagaimana kalau kita mengulangi kembali strategi kita yang sebelumnya. Dengan begitu kita mungkin dapat mengetahui apa yang ada dibalik para high orc itu."


"Hmm, kurasa kau benar. Kalau begitu kita akan mencobanya sekarang."


Baal menyetujui saran yang diberikan oleh pria itu, dia sendiri tau kalau tidak ada gunanya terus memikirkan apa yang ada dibalik para high orc itu. Jadi dia memutuskan untuk membuat keberadaan yang berada dibalik high orc itu untuk keluar sendiri.


"Para pengguna panah, Bersiaplah untuk menyerang!"


Mendengar instruksi dari baal, para pengguna pana yang tadinya berpencar kini berkumpul didepan baal.


"Serang!"

__ADS_1


Seketika Banyak anak panah dengan kecepatan tinggi menuju ketempat para high orc berdiri. Sama seperti sebelumnya kebanyakan anak panah yang menuju para high orc adalah hanya anak panah biasa, sedangkan untuk anak panah yang dilapisi sihir hanya ada beberapa.


Untuk para high orc itu sendiri, berbeda dengan yang sebelumnya, kali ini atas perintah orc king mereka hanya diam saat ada banyak anak panah yang menuju kearah mereka.


Anak panah yang dilepaskan oleh para petulang samangkin dekat dengan para high orc itu. Namun begitu jarak antara para anak panah dan para orc hanya tinggal beberapa langkah, semua anak panah itu terhenti dan jatuh ketanah satu persatu. Para pemanah dan petualang yang melihat itu menjadi terdiam.


Begitu semua anak panah jatuh ketanah semua high orc kecuali orc king dan ke 4 jendralnya bergerak menuju kepara petualang itu. Melihat para high orc mulai bergerak menuju kearah mereka dengan kecepatan yang tinggi, baal merasa kalau tidak ada gunanya untuk menyeramg mereka dengan sihir, diapun segera memberikan instruksi dengan cepat.


"Semua pengguna pedang berkumpul dan serang mereka. Untuk pengguna panah dan sihir tetaplah dibelakang dan bantu pengguna pedang! Semuanya Serang!"


Begitu perintah dari baal keluar, semua petualang yang sudah bersiap dalam posisi langsung memulai pertempuran kedua mereka.


******


Meski banyak petualang yang sudah mulai melakukan pertempuran kedua mereka, namun accua masih diam berdiri ditempat.


"Hoy, apa yang kau lakukan? Apu tidak mendengar perintah untuk menyerang?"


"Hoy, apa kau tidak mendengarkanku?"


Pria itu sekali lagi bertanya kepada accua namun dengan suara yang lebih keras.


"Iya, aku dengar. Namun bisakah anda diam untuk sementara waktu, saat ini aku sedang merapal sebuah mantra."


Accu menjawab pertanyaan pria itu dengan tenang dan menyuruhnya untuk diam dan menutup matanya. Tentu saja dia juga tidak sedang berbohong saat berkata kalau dia sedang merapal sebuah mantra.


'Semua waktu melambat, semua pandangan menjauh dan mendekat kearahku.'


Pria yang sebelumnya disuruh diam oleh accua ingin berbicara, namun dia merasakan kalau ada sesuatu yang berbeda keluar dari tubuh accua jadi dia memilih untuk diam dan melihat.


'Dunia adalah panggung untukku dan aku akan menjadi pemeran utamanya. Aku akan bermain dengan suaraku sendiri, aku akan memainkan peranku sendiri.'

__ADS_1


Disaat accua merapal mantra sihirnya, pertempuran terus terjadi dimana mana. Meski begitu Accua masih terus menerus merapal mantra panjang didalam hatinya.


'Tidak akan ada seorangpun yang dapat menjauh dariku. '


Setelah selesai membaca mantra accua membuka matanya. Pria yang sebelumnya hanya diam memperhatikan accua tidak merakan apapun setelah accua membuka matanya, dia pun segera bertanya.


"Hoy, manta apa yang tadi...."


Sebelum pria itu selesai mengajukan kalimat pertanyaan kepada accua, accua sudah menghilang dari hadapannya.


°°°°°


[Bukit Dihutan Timur. Mantan Manusia, Zen]


-hahaha, tepat seperti yang kubilang bukan. Serangan yang pertama adalah umpan, Menahan serangan anak panah adalah hal mudah bagi orc king jika dia menggunakan sihirnya. Dan Sekarang adalah pertempuran yang sesungguhnya dimulai.-


Siroh kegelapan itu terus menerus tertawa seolah olah dia sudah dapat melihat hasil pertempurannya.


-Ya seperti yang kau bilang kalau sekarang adalah pertempuran yang sesungguhnya, namun menurutku orc king itu juga membuat sebuah kesalahan.-


-Kesalahan? Meskipun orc king itu membuat kesalahan para manusia itu tetap tidak akan dapat mengalahkannya dan ke 4 jendralnya.-


-Memang benar jika mereka mungkin tidak akan dapat mengalahkan orc king dan ke 4 jendralnya. Tapi para high orc yang sedang bertempur itu pasti akan mati sebentar lagi.-


-Dari mana keyakinan itu datang?-


-Entahlah, aku tidak dapat mengatakannya. Tapi kau pasti akan melihatnya sebentar lagi.-


Ditengah tengah pertempuran itu aku melihat seorang pria yang kukenal berdiri diam dan memejamkan matanya. Meski jarak kami sangat jauh, tapi aku dapat menebak apa yang sedang dia lakuakan.


'Sajauh mana kau dapat mengendalikan itu accua. Aku sangat tidak sabar untuk melihatnya.'

__ADS_1


Aku memuncukalkan senyuman tipis diwajahkaku.


__ADS_2