Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Empat Arah


__ADS_3

[Pemilik Pelayan Keenam, Accua]


Didepan pintu gua itu aku melihat 4 high orc, meskipun aku bilang high orc aku sendiri masih kurang yakin apakah salah satu dari mereka itu adalah high orc. Dia memiliki badan yang lebih besar dari ketiga high orc itu, dan juga warna yang dia miliki berbeda dari ketiga high orc yang ada disekitarnya. Kekutannya juga sangat jauh berbeda dari ketiga high orc yang lainnya, meski aku tidak ahli dalam merasakan aura namun aku dapat merasakan tekana yang kuat darinya.


Lagi pula bahkan jika aku bisa mengalahkannya, namun tidak untuk ke 3 high orc yang ada disekitarnya itu. Mereka memang memiliki warna yang sama dengan para high orc yang kulawan sebelumnya, tapi kekuatan mereka pasti berada dilevel yang sangat berbeda. Senjata merekapun sudah lagi bukan tongkat kayu ataupun batu, melainkan pedang besi yang sangat besar. Pedang yang dia gunakan lebih besar dari yang digunakan ketua baal.


Situasi ini sangat berbeda dengan ketika aku dikepung oleh para high orc yang sebelumnya. Instingku mengatakan mereka adalah musuh yang tidak seharusnya kulawan, bahkan jika aku menggunakan tiamat aku masih kurang yakin apakah aku dapat membunuh mereka semua. Saat ini hidupku sangatlah penting agar aku dapat memberikan informasi ini kepada guild, lebih baik aku pergi meninggalkan yang lain dan memberikan informasinya.


"Tekanan ini, jangan bilang."


*Bam


Sial, sial,sial. Apa apaan dengan monster sialan itu. Ledakan yang dihasilkan dari benturan antara pedangnya dengan tanah kuatnya bukan main. Jika tadi aku sempat menghindar aku pasti akan mati hancur berkeping keping, dan juga jumlah mereka bukan 4 melainkan 5. Dimana sisialan itu bersembunyi, yang lebih penting lagi bagaimana si sialan itu dapat menemukanku. Aku yakin sudah menekan auraku hingga sangat kecil, tapi dia masih dapat menemukanku.


Yah, kurasa sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal itu. Si sialan itu sama sekali tidak menurunkan pedangnya, dan ke 4 high orc yang disana sudah dapat melihatku. Terima kasih buat si sialan itu dengan begini lari adalah hal yang sudah sangat mustahil, dan kemungkinan kematian sudah lebih tinggi dari sebelumnya.


"Matilah kau sialan!!"

__ADS_1


Aku mendekati high orc yang satu itu dengan kecepatan penuhku, dalam sekejab jarakku dangannya hanyalah beberapa jengkal saja. Aku menyerangnya dengan pedangku, dia menahannya dengan pedangnya. Aku terus menerus mengulangi seranganku untuk melihat kekuatannya.


Setelah beberapa saat kami beradu pedang, aku mengambil jarak dengannya. Aku mendapatkan beberapa informasi yang cukup berguna dari pertarunganku dengannya. Pertama pedang miliknya sangatlah kuat sehingga jika aku ingin menghancurkannya aku harus beradu pedang denganya dalam waktu yang lama. Kedua kekuatan fisiknya melebihi kekuatan fisikku, dan yang ketiga adalah kecepatannya tidak terlalu jauh beda denganku.


Aku merasa informasi itu sudah cukup untukku, aku bersiap siap untuk menyerang kembali. High orc itupun kali ini juga bersiap untuk menyerangku, dia mengeluarkan tekanan yang cukup kuat. Dia mengangkat pedangnya dan..


"Hilang! Dimana dia?!"


Sial dimana dia, dengan tubuh dan kekuatannya akan sangat sulit bagiku untuk menahan serangannya yang tiba tiba. Aku melihat lihat kembali kesekelingku, high orc itu sepertinya cukup ahli dalam menyembunyikan aura. Tekanan yang dia berikan sebelumnya hilang tanpa jejak, aku sama sekali tidak dapat merasakannya.


Sekilas aku merasakan tekanan darinya yang sebelumnya sama sekali tidak dapat kurasakan. Dia mengayunkan Pedangnya yang dilapisi sihir api dengan sangat cepat.


"Sial! Aku tidak akan sempat menghindar. Dispel."


Aku melapisi pedangku dengan sihir dispel untuk menetralkan sihir yang ada dipedangnya.


Pedangku dan pedang miliknya beradu dengan sangat kuat. Sangat kuat hingga menghancurkan area disekitar kami. Semua rumput dan pohon yang ada disekitarku telah berubah menjadi dataran tanah.

__ADS_1


High orc itu kembali menyerangku, kali aku dapat melihatnya. Dia kembali menyerangku dari atas. Aku mennghindari serangannya, dan menyerang balik dirinya dari belakangnya.


Begitu aku ingin menusuk high orc itu dari belakang, sebuah sihir api menuju kearah ku dangan sangat cepat.


"Dispel."


Aku mencoba menetralkan sihir itu dengan pedangku yang dilapisi sihir dispel. Namun karena sihir itu sangat kuat aku hanya mampu memotong bagian tengahnya, sehingga kedua sisi dari sihir api melawatiku dan menghancurkan daerah yang lain.


Banyak debu yang berterbangan, aku tidak dapat melihat kesekelilingku karena debu debu itu. Meski aku tidak dapat melihat daerah sekitar tapi aku dapat mengetahui situasiku saat ini dengan pasti melalui tekanan yang sedang kuterima saat ini.


"Kupikir kalian hanya akan melihat saja. Tidak kusangka kalian akan ikut campur, bahkan sampai mengeluarkan sihir sebesar itu."


Begitu semua debu tebal yang menutupi area sekitarku mulai menghilang, aku melihat keepat high orc yang memiliki tabuh besar berada di ke 4 sisiku. Mereka juga mengarahkan pedang besar mereka kearahku. Untuk high orc yang memiliki warna berbeda itu sendiri masih duduk dikursi tahta miliknya, aku memang tidak tau dia termasuk dalam high orc atau tidak, namun satu hal yang pasti adalah sihir yang dia keluarkan memiliki daya hancur yang sangat besar. Sihir api yang mengarah kepadaku tadi merupakan sihir yang dia keluarkan, jika tadi aku terkena sihirnya maka aku pasti akan mati.


"Jadi apakah kalian akan menyerangku terlebih dahulu?.... Tidak ada jawaban ya. Yah lagipula tidak ada gunanya berbicara kepada kalian karena kalian tidak akan mengerti perkataanku. Karena kalian tidak ingin menyerangku terlebih dahulu, maka izinkan aku untuk memyerang kalian terlebih dahulu."


Aku langsung menyerang high orc yang kulawan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2