
[Pemilik Pelayan Keenam, Accua]
"Selanjutnya aku pasti akan membunuhmu!"
Aku mengarahkan pedangku kearah orc king itu. Aku melihat lihat sekitarku, aku melihat ketiga high orc yang masih hidup tidak dapat bergerak karena setengah badan mereka tertutup oleh es. Aku melihat lihat lagi dearah yang lain, didaerah lain itu aku melihat sesuatu yang sangat tidak biasa.
"Dinding Api."
Sebuah api biru membentuk sebuah dinding, dinding api itu mungkin memiliki tinggi lebih dari 100 meter. Dari kejauhan Aku tidak dapat melihat bentuk dinding itu. Tapi yang pasti adalah dinding itu berada ditempat pertempuran dengan para high orc yang sebelumnya. Dengan kata lain dinding itu berada pada tempat dimana para petualang yang terluka berada.
Disisi lain aku melihat orc king yang tadinya terduduk kini mulai berdiri. Dia memegang pedang yang menusuk dadaku dengan tangan kanannya.
"Dasar manusia rendahan! Kali ini aku pasti akan membunuhmu!"
Orc king itu menuju kearahku dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Mungkin 3 kali lebih cepat dari pada ke 4 jendralnya. Meski dia bergerak dengan saat cepat, tapi aku dapat semua pergerakannya.
Dia mengayunkan pedangnya kearahku. Aku menahan serangannya dengan pedangkku. Meski aku menahan serangannya yang sangat kuat, namun entah mengapa es yang berada dipijakanku tidak hancur dan hanya sedikit retak. Aku juga tidak merasa kesulitan untuk menahan serangannya meski seluruh tubuhku dipenuhi luka.
"Jadi tangan mana tadi yang memegang pedang ini untuk menusuk dadaku?"
Aku bertanya kepada orc king itu dengan nada yang sedikit mengejek. Mendengar itu wajah orc king itu terlihat seperti mejadi kesal.
"Jangan menjadi sombong kau manusia!"
Dia menambahkan kekuatannya pada pedang miliknya. Namun sama seperti sebelumnya aku masih dapat menahannya dengan mudah.
"Jadi tangan kanan ya? Kalau begitu akan mengambilnya sekarang!"
Aku mencoba mengambil jarak dengan orc king itu, namun dia tidak membiarku melakukan hal itu. Dia kembali menyerangku dengan pedang miliknya, namun sebelum pedangnya mengenaiku. Aku sudah terlebih dahulu memotong tangan kanannya dengan pedangku. Orc king itu menyadari kalau tangan kananya sudah terpisah dari badanya, dia lalu mengambil jarak cukup jauh dariku.
"Sudah kubilang bukan jalau aku akan mengambil tangan kananmu."
"Sialan kau manusia!!!"
__ADS_1
Orc king itu kembali menjadi sangat marah. Dia membuat sihir yang sama dengan sebelumnya, sihir yang membuatku terluka sangat parah. Sihir yang sangat dia banggakan dan juga sihir yang membuatku sangat kesal hanya dengan melihatnya.
"Kali ini sihir ini pasti dapat membunuhmu!!"
"Begitu ya. Kalau begitu mengapa kau tidak mencobannya sekarang. Sebelumnya sihirmu itu hanya dapat membuatku terluka parah. Mungkin saja kali aku dapat menahannya dengan mudah. Sangat mudah sampai sampai aku bahkan tidak akan merasakan sedikitpun rasa sakit dari sihirmu itu."
Orc king itu menjadi lebih marah dari sebelumnya, sangking marahnya dia bahkan langsung mengarahkan sihirnya yang belum sempurna itu kearahku.
"Bodoh....!"
Sihirnya miliknya mengarah kepadaku dengan kecepatan yang tinggi, namun sihir yang dia gunakan kali ini lebih lemah dari sebelumnya.
"Dispel."
Begitu sihirnya sudah hampir berada didepan mataku, aku memotong semua sihir miliknya dengan pedangku yang telah dilapisi dengan sihir dispel. Sihir dispel adalah sihir yang dapat menetralkan sihir lainnya, dan juga Sihir dispelku sudah lebih kuat dari sebelumnya, karena itulah semua sihir milik orc king yang diarahkan kepadaku menghilang sepenuhnya.
"Kau lihat? Tepat Seperti yang kukatakan bukan? Kali ini sihirmu bahkan tidak dapat membuatku terluka sedikitpun."
"Hmn?"
Aku melihat kebelakangku, disana aku melihat ketiga high orc yang tadinya tidak dapat bergerak karena es kini mengarah kearahku dengan cepat.
"Kau pikir serangan yang seperti itu dapat membunuhku!!!"
Aku memotong salah satu kaki orc king, aku tau kalau dia pasti akan mengarah kepadaku begitu aku melihat kearah para high orc berada. Karena itulah aku melihat ketempat para high orc itu, dan sesuai dengan yang kuperkirakan orc king mengarah kearahku dengan kecepatan maksimalnya hingga dia berada didekatku.
"Sialan kau manusia!!"
"Selanjutnya ketiga high orc itu."
Para high orc itu masih terus menerus mengarah kearahku, kecepatan mereka melambat kerena luka yang ada ditubuh mereka. Aku pergi menuju kearah para high orc itu dengan kecepatan penuhku. Hanya dalam beberapa saat aku sudah berada didepan salah satu high orc. Aku Menyerang leher high orc, karena dia tidak dapat merespon gerakanku, akupun dengan mudah dapat memisahkan antara kepala dan badanya.
"Satu tumbang."
__ADS_1
Setelah membunuh satu high orc, aku pergi menuju ke tempat 2 high orc lainnya. Sama seperti sebelumnya mereka tidak dapat merespon gerakanku dan akupun dapat dengan mudah membunuh mereka.
3 high orc mati dengan mudah ditanganku. Aku kembali ketempat orc king berada.
"3 Jendralmu sudah kubunuh. Selanjutnya adalah giliranmu."
Aku memotong tangan orc king yang satunya, dia terus menerus mencoba melawan dan berteriak. Namun semua serangan yang coba dia arahkan kepadaku tidak ada yang mencapai kearahku. Kerena dia mencoba menyerangku dengan sihir yang sangat tidak sempurna. Meski jarak kami sangat dekat tapi sihir yang dia gunakan menghilang sebelum mengenaiku.
"Katanya manusia akan mati begitu jantung mereka hancur atau berhenti berdetak. Apakah itu juga berlaku untuk monster sepertimu? Sebenarnya Aku sangat ingin mencoba menusuk dadamu sama dengan seperti yang kau lakukan padaku. Tapi kau tenang saja aku tidak akan membunuhmu dengan menusuk dadamu......ya aku tidak akan menusukmu, Melainkan aku akan membunuhmu dengan sihir yang hampir sama dengan yang kau gunakan untuk membuatku terluka seperti ini."
Aku mengambil jarak beberapa langkah dari orc king itu.
"Apa yang ingin kau lakukan manusia?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin membunuhmu saja...... Datanglah pelayan keenam, 'Tiamat Albus'."
Tiamat keluar dengan cepat, tiamat merupakan pelayan tipe tempur dengan tubuh naga yang memiliki 4 kepala. Setiap kepala dapat menggunakan 1 elemen untuk menyerang.
"Serang dia."
Tiamat langsung menyerang orc king itu dengan 3 elemen, Yaitu Elemen angin, api dan tanah. Ketiga elemen itu menjadi satu, angin membentuk sebuah topan, api menjadi besar dan mengelilingi angin itu, lalu tanah berubah menjadi pecahan kecil dan terus berterbangan didalam angin yang dilapisi api itu.
Orc king yang terkena serangan itu tidak dapat berbuat apa apa, tubuhnya terkoyak koyak karena terkena besetan dari angin, tubuhnya terus terbakar karena api, dan tanah tanah kecil terus menerus mengenai dirinya.
Setelah beberapa saat sihir itu akhirnya menghilang, aku mendekati tubuh orc king yang telah mati akibat sihir itu. Aku kembali teringat ketika dia menusuk dadaku dengan pedang miliknya, karena kesal aku menusukkan pedangku ke dadanya.
"Akhirnya selesai ju..... Ugr."
Aku memuntahkan darah dari mulutku, luka pada dada dan luka pada tubuhku yang sebelumnya tidak kurasakan kini mulai terasa sangat sakit.
-Waktunya sudah habis, sa##########.-
Aku merasa mendegar sebuah suara namun aku tidak dapat mendengar semua yang dikatakan oleh suara itu. Kesadaranku pelahan mulai kembali menghilang, dan sekali lagi aku kehilangan kesadarnku.
__ADS_1