
[Kastil Raja Iblis Peringkat Pertama, Raja Iblis Galios]
Dikastil miliknya Raja iblis Galios berjalan sendirian ditengah malam. Dengan perlahan Galios berjalan menuju sebuah ruangan. Setelah beberapa saat berjalan Galios pun akhirnya sampai keruangan itu, Galios membuka pintu dan memasuki ruangan itu.
Ruangan itu berbentuk persegi panjang, diruangan itu tidak ada apapun selain sebuah patung. Dengan tidak adanya atap, cahaya bulan dapat dengan mudah menerangi ruangan itu.
Galios berjalan menuju kearah patung itu berada, Didepan patung itu Galios hanya diam dan menetap patung itu. Galios kemudian melihat kearah langit lalu dia melihat kearah patung itu lagi.
"Haaa."
Galios menarik nafas yang panjang.
"Tidak peduli seberapa keras aku mencoba aku masih tetap belum dapat melihatnya."
Suara langkah kaki terdengar mendekati ruangan dimana Galios berada, suara itu perlahan semangkin kuat. Pada akhirnya orang yang membuat suara langkah kaki itu kini berada dibelakang Galios.
"Yang Mulia saya memiliki kabar buruk."
Orang yang berada dibelakang Galios itu adalah sekretaris Galios. Dia adalah pria yang setia dan selalu mematuhi perintah dari Galios.
"Dan apa isi berita buruk itu?"
"Raja iblis Pride....."
"Telah mati bukan."
__ADS_1
Sebelum pria itu dapat memberitahukan semau isi berita buruknya, Galios langsung memotong perkataanya.
"Yang mulia apakah Anda sudah melihat hal ini? Karena itulah anda dapat tau isi dari berita buruk ini."
"Bisa dibilang seperti itu, walaupun aku hanya dapat melihat beberapa bagian pecahannya saja."
"Jika anda sudah melihatnya mengapa anda tidak berusaha untuk menyelamatkannya? Meskipun anda tidak berteman baik dengannya, bagaimanapun juga Tuan Pride adalah salah satu dari 7 raja iblis."
Pria itu bertanya kepada Galios dengan nada yang terdengar sedikit emosi.
"Jika aku bisa menyelamatkannya maka aku pasti telah melakukannya tanpa perlu kau memberitahuku."
"Mengapa anda tidak bisa menyelamatkannya? Dengan kekuatan pengelihatan masa depan anda bukankan itu akan menjadi sangat mudah bagi anda untuk menyelamatkannya?"
"Cilion, kau sepertinya salah paham dengan kekuatan pengelihatan masa depan milikku. Ini bukanlah kekuatan maha dahsyat seperti yang kau perkirakan. Ada batasan dalam pengelihatan masa depan yang kulihat, dengan aku memiliki kekuatan ini bukan berarti aku dapat melihat semuanya."
"Memang ada beberapa cara untuk menyelamatkannya, cara pertama kita dapat mengasingkan Pride ketempat lain. Cara kedua kita dapat membawa semua raja iblis kekastil milik Pride, dan masih ada beberapa cara lainnya."
"Kalau begitu kenapa anda tidak melakukan hal itu?"
"Mengapa kau bilang?"
Galios berjalan menuju ketempat Cilion berada, Galios berjalan dengan perlahan. Setelah beberapa saat akhirnya Galios sampai tepat didepan Cilion. Galios menatap Cilion dengan tajam, melihat tatapan dari Galios tanpa sadar Cilion mengambil langkah mundur dari Galios.
"Aku melihat masa depan kalau kau akan mundur berguru aku menatapmu, namun aku tidak dapat melihat masa depan setelah kau mengambil langkah mundur itu."
__ADS_1
"Jadi maksud anda....."
"Itu adalah batasannya, aku hanya dapat melihat satu kejadian dimasa depan. Aku tidak dapat melihat kejadian selanjutnya, dimasa depan yang kulihat aku bisa menyelamatkan Pride jika membawa semua raja iblis kesana. Namun hanya masa depan itu yang dapat kulihat, aku tidak dapat melihat kejadian selanjutnya. Orang yang membunuh Pride sangatlah kuat, meski aku tidak dapat melihat wajahnya namun aku tau kalau dia sangat kuat. Ada kemungkinan kalau kami semua akan dibunuhnya disana, karena itulah aku memutuskan untuk tidak menyelamatkannya."
"Jadi maksud anda membiarkan satu untuk semua?"
"Iya, satu untuk semua jauh lebih baik dari pada semua untuk satu."
Galios memegang pundak Cilion.
"Aku tau apa yang kau rasakan, tapi itu adalah kebenarannya."
Galios pergi meninggalkan ruangan itu, Galios berjalan kembali ke ruangannya.
**** ***** *****
Sebuah sihir gate muncul digang gang yang gelap. Yang keluar dari gate itu adalah Zen. Digang yang gelap itu Zen berjalan dengan pelan hingga akhirnya dia berhenti diujung gang.
Didalam kegelapan itu Zen melihat sebuah rumah tau yang berada dipinggiran kota. Dari luar dapat dilihat kalau lilin didalam rumah itu masih menyala.
"Sepertinya kau masih sehat sehat saja Kakek."
Orang yang berada didalam rumah itu adalah orang yang dapat Zen sebut sebagai kakek,guru ataupun keluarga. Orang itu adalah yang merawat Zen sejak dia masih kecil.
"Aku tau kau membesarkanku hanya untuk
__ADS_1
sebagai alat balas dendam mu. Meski begitu aku tidak dapat menyalahkan mu, dan juga aku berterima kasih padamu karena telah merawatku. Aku memang tidak dapat memberikanmu benda apapun, tapi sebagai rasa terima kasihku padamu aku akan mewujudkan balas dendam mu.
Zen berbalik dan kembali memasuki gang yang gelap itu. Dia membuat sihir gete dan memasukinya.