Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Fernanse


__ADS_3

"Zen, kurasa sekarang kita harus segera keluar dari kamar."


Fernanse yang sedang berbaring dikasur memberikan sebuah saran kepada Zen.


"Kurasa kita tidak perlu pergi keluar. Lagi pula saat ini sedang tidak ada yang ingin kulakukan diluar."


"Tidak, tidak. Kurasa kita memang harus pergi keluar kamar ini. Disini sangatlah membosankan, jadi kita harus keluar dan mencari sesuatu yang menarik diluar sana."


Rasa bosan. Itu adalah sebuah perasaan yang dirasakan Fernanse saat ini. Semenjak keluar dari ruang bawah tanah mereka sama sekali belum ada keluar kamar Zen sedikitpun jadi Fernanse selalu merasakan kebosanan semenjak dia mendapat kembali tubuhnya.


"Lebih tepatnya apa yang akan kita lakukan setelah pergi keluar?"


"hmm, mungkin seperti membantai sekelompok monster."


"Yang benar saja. Apa itu benar benar menarik bagi anak yang berusia 10 tahun? Bukankah normalnya mereka akan ketakukan jika melihat banyak darah?"


"Kurasa kau memang benar, kebanyakan anak berumur 10 tahun pasti akan ketakutan. Tapi bukankah diantara kita tidak ada yang berumur 10 tahun? Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan?"


"Tidak, tidak. Kurasa kau salah. Bukankah diantara kita ada anak yang berumur 10 tahun?"


"Tidak, kurasa aku tidak salah. Diantara kita memang tidak ada anak berumur 10 tahun. Lagi pula jika memang ada siapa orang itu?"


Mendengar perkataan Fernanse yang dia pikir sedikit lucu, Zen tertawa dengan keras didalam hatinya. Kemudian Zen menunjukan jarinya kearah Fernanse, Melihat Zen menunjukan kearahnya Fernanse pun berfikir apa maksud dari zen.


Fernanse terus menerus berfikir, butuh waktu cukup lama bagi Fernanse untuk mengerti maksud dari Zen. Setelah dia berfikir cukup lama, Fernanse pun akhirnya mengerti apa maksud dari Zen.


"Hoi Zen. Jangan bilang kalau anak berusia 10 tahun yang kau bilang itu adalah aku?"


"Jika bukan kau lalu siapa? Diruangan ini hanya ada kita berdua bukan?"


"Yang benar saja Zen. Apa aku terlihat seperti anak berusia 10 tahun?"


"Ayolah Fernanse, apa kau serius bertanya seperti itu kepadaku? Bahkan jika kau bertanya pada orang lain mereka pasti akan mengatakan kalau kau terlihat seperti anak berusia 10 tahun."


Zen mengatakan yang sebenarnya. Meskipun jiwa Fernanse telah hidup selama lebih dari 500 tahun, tapi tubuhnya sendiri masih berusia 10 tahun.


Itu adalah efek dari penyegelan kristal yang dilakukan oleh pewaris ke 5 kepada tubuhnya. Kristal itu membuat membuat tubuh Fernanse tetap hidup namun mencegahnya untuk berkembang. Kerena itulah meski tubuhnya telah hidup selama 500 tahun namun tidak ada perkembangan.


"Yah kurasa kau memang benar. Tubuh ini memang terlihat seperti anak berusia 10 tahun. Meski begitu kau tenang saja, aku tidak takut terhadap monster. Jadi ayo kita pergi keluar dan membantai sekelompok monster."


"Meski kau tidak takut dengan monster, tapi apakah kau tau Fenanse aku saat ini sangat sedang tidak ingin pergi keluar. Jadi kurasa kita tetap harus berada didalam kamar ini."

__ADS_1


Mendengar perkataan dari Zen, Fernanse segera berdiri dari kasur dan berjalan kearah Zen. Dia memegang tangan Zen yang sedang duduk disofa.


"Ayolah Zen, ayo kita pergi keluar."


Dengan tubuh kecilnya Fernanse menarik tangan Zen. Dia berusaha keras membuat Zen berdiri, namun semua usahanya itu sia sia. Zen sama sekali tidak merespon tarikan dari Fernanse. Zen hanya diam dan menutup matanya.


"Permisi, saya masuk yang mulia."


Mendengar suara seorang perempuan dari balik pintu, Zen segera membuka matanya.


"Fernanse ada yang datang. Lepaskan tanganmu dari tanganku."


"Tidak mau, jika kau mau keluar sekarang maka akan kulepaskan tanganmu."


Pintu kamar Zen semangkin terbuka, namun Fernanse masih tidak mau melepaskan tangan Zen.


"Lepaskan Fernanse."


Pintu terus terbuka, begitu pintu terbuka sepenuhnya terlihat seorang perempuan dengan rambut berwarna merah muda. Perempuan itu adalah Irene, dia adalah sekretaris dari Zen.


Irene memasuki kamar Zen, namun sesaat langkah Irene terhenti begitu dia melihat Zen. Melihat apa yang sedang dilakukan oleh Zen, tanpa sadar Irene mengambil langkah mundur.


Irene mencoba untuk pergi dari kamar itu namun Zen menghentikannya.


"Tunggu sebentar Irene. Aku tidak tau apa yang sedang kau pikirkan, tapi aku yakin itu adalah sebuah kesalahpahaman. Jadi jangan pergi dan dengarkanlah penjelasanku."


Mendengar perkataan Zen, Irene pun tidak jadi pergi dari kamar itu. Irene datang mendekat kearah Zen dan dia pun duduk disofa yang ada didepan Zen.


"Maafkan saya yang mulia. Saya tidak tau kalau anda memiliki hobi seperti itu."


"Tunggu sebentar Irene. Meskipun kau meminta maaf, tapi entah mengapa masih ada sebuah kesalahpahaman disini. Dan juga lepaskan tanganku Fernanse."


"Heh, tapi."


"Fernanse."


"Baiklah."


Dengan wajah yang terlihat cukup kesal Fernanse pun akhirnya melepaskan tangannya dari tangan Zen.


"Baiklah Irene. Perkenalkan dia adalah Fernanse, adik dari leluhur pertama pewaris ke 5. Dan Fernanse dia adalah Irene."

__ADS_1


"Salam kenal nona Irene."


"Salam kenal juga, nona Fernanse."


Irene dan Fernanse saling menghadap satu sama lain dan mendukan kepala mereka.


"Tapi yang mulia masih ada beberapa hal yang tidak saya mengerti."


"Apa itu Irene? Silahkan tanyakan saja bagian yang tidak kau mengerti."


"Mengapa adik yang mulia pewaris ke 5 bisa bersama anda? Juga jika aku tidak salah ingat pewaris ke 5 hidup pada zaman perang 500 tahun yang lalu. Namun bagaimana bisa adik dari yang mulia pewaris ke 5 terlihat seperti seorang gadis berusia 10 tahunan?"


"Ah, mengenai masalah itu..."


Zen menceritakan kepada Irene mengenai Fernanse. Zen memberitau kepada Irene mengenai awal pertemuan antara dia dan Fernanse yang pada saat itu merupakan sebuah roh kegelapan.


Zen juga menceritakan kepada Irene tentang tubuh Fernanse, Alasan mengapa tubuhnya masih terlihat seperti seorang gadis yang berusia 10 tahun meskipun dia sudah hidup selama 500 tahun lebih.


Zen juga menceritakan kepada Irene alasan mengapa Fernanse memegang tangannya. Dengan menceritakan hal itu, Zen berharap kalau Irene dapat menghilangkan kesalapahamannya kepada Dirinya.


"Begitulah ceritanya, jadi apakah kau mengerti Irene?"


"Ya, Saya mengerti yang mulia. Maafkan saya atas kesalapahaman tadi, saya pikir yang mulia memiliki ketertarikan seksual dengan anak kecil."


"Tidak apa Irene. Selama kau paham dengan situasinya maka itu tidak masalah bagiku. Benar bukan Fernanse?"


"Eh? Ah, ya itu betul."


'Anak ini, sama sekali tidak mendengarkan apa yang kami bicarakan.'


Kalimat itu muncul didalam pikiran Zen dan Irene. Tentu saja yang mereka pikirkan itu juga benar. Sejak awal, Fernanse sama sekali tidak mendengarkan apa yang mereka berdua dengarkan.


Itu karena sejak mereka mulai berbicara, Fernanse hanya tertidur dipangkuan Zen.


"Karena kesalapahamannya sudah menghilang, sekarang saatnya membahas topik utamanya. Jadi Irene, mengapa kau datang kekamarku?"


"Ah, baik yang mulia. Saya datang kesini karena ingin mengantarkan sesuatu."


"Heh? Apa itu?"


"Itu adalah surat dari yang mulia leluhur ke 2. Nona Elizabeth."

__ADS_1


__ADS_2