
Dunia api abadi ini dulunya adalah dunia kekuasaan Zen, jadi tentu saja Zen memiliki kastil didunia ini. Sampai hari inipun kastil itu masih berdiri dengan kokoh, kastil itu juga tempat dimana tubuh Theresia berada. Sekarang kastil Zen dikuasai oleh Kreiz, berbagai macam harta yang ada disana jatuh ke tangan Kreiz dan Shao Ling.
Meski benda benda itu berharga namun bagi Zen dan yang lainnya semua benda itu tidak berguna karena itulah Ling Hao ataupun Hao Chen tidak pernah berniat untuk mengambil kembali semua benda itu dari tangan Kreiz.
Setelah beberapa saat terbang Zen dan yang lainnya sampai ke dekat kastil, meski Kastil itu merupakan tempat perbatasan antara api abadi milik Zen dan es milik Theresia namun dalam radius 50 km sekitar kastil sama sekali tidak ada api abadi atau es sedikitpun.
"Zen, sejak beberapa tahun yang lalu aku penasaran. Apa aku boleh bertanya?" Ucap Ling Hao
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Dengan suara mu yang telah berkali kali menggema dilangit apa menurutmu Kreiz tidak akan memindahkan tubuh Theresia?"
Jika Kreiz memang ingin tubuh Theresia tidak diambil kembali oleh Zen maka dengan memindahkan tubuhnya akan menjadi pilihan yang paling tepat. Ling Hao merasa kalau Kreiz mungkin telah memindahkan tubuh Theresia, jika hal itu memang terjadi maka kedatangan mereka kesini akan menjadi sia sia.
"Kau tenang saja Ling Hao, bukankah tubuhnya telah dilapisi oleh es nya sendiri mustahil bagi mereka untuk dapat memindahkan tubuh itu."
Zen tau dengan baik kepribadian Theresia, Theresia bukanlah orang yang akan melakukan sesuatu tanpa memikirkan banyak hal seperti saat dia menyusun rencana untuk mengambil kembali pecahan kekuatan Zen yang ada pada dewa dunia Arcadia.
Theresia telah memikirkan kalau ada kemungkinan tubuhnya akan disimpan oleh musuh Zen karena itulah dia melapisi tubuhnya dengan es nya sendiri. Es itu jauh lebih kuat dari pada es yang ada didunia api abadi ini, bahkan mereka pemegang mahkota tingkat tinggi akan tetap kesulitan untuk menghancurkan es itu.
Es itu sendiri sangatlah berat, Dengan es itu Theresia membuat tubuhnya hampir mustahil untuk dipindahkan dari ruang bawah kastil Zen. Dan juga alasan Zen percaya tubuh Theresia masih belum dipindahkan adalah karena dia masih dapat merasakan aura milik Theresia dari dalam kastil itu.
"Tidak ada gunanya kita berlama lama disini."
Zen dan yang lainnya kau langsung memasuki kastil itu. Kastil itu sama sekali tidak memiliki penjaga ataupun penghalang, seolah olah Kreiz memang dengan sengaja mengundang Zen untuk memasuki kastil itu.
Mereka terus berjalan di lorong kastil hingga akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan. Melihat apa yang ada didalam ruangan itu sebuah senyuman kecil muncul diwajah Zen, tidak hanya Zen wajah Ling Hao pun juga menunjukkan sebuah senyuman kecil.
__ADS_1
"Sangat luar biasa, tidak kusangka kalau kau tidak kabur dari sini. Dan juga itu bukanlah singgasana yang cocok untukmu."
Apa yang Zen lihat adalah Kreiz yang sedang duduk di singgasana miliknya. Sebuah wajah yang penuh dengan kepercayaan diri terlihat diwajah Kreiz, tidak dari pada terlihat percaya diri wajah itu lebih cocok jika dikatakan dengan wajah yang penuh kesombongan.
"Dulu aku memang akan takut jika bertemu denganmu, namun sekarang kau bukanlah sebuah masalah bagiku."
"Bagitu."
Zen tau apa yang Kreiz katakan bukanlah omong kosong, kekuatannya memang telah jauh lebih kuat dari pada yang dulu. Dibandingkan dengannya kekuatan Zen yang sekarang malah lebih lemah daripada yang dulu, tidak heran Kreiz berani bersikap sombong dihadapan Zen.
"Orang orang didunia atas ini sangat menarik, mereka akan terus berlatih meskipun mereka tidak tau kapan akan mengalami peningkatan. Sepertinya kita terlalu menahan diri Ling Hao."
"Bukankah itu apa yang telah kita putuskan, lagi pula dengan kekuatan yang kecil ini kita telah dapat hidup dengan damai." Ucap Ling Hao.
"Yah seperti yang Ling Hao katakan, lagi pula tidak ada alasan bagi kita untuk bersaing dengan mahluk rendahan seperti mereka." Ucap Hao Chen.
"Yah kurasa kau benar Hao Chen."
Juga dari pada menjadi pemegang mahkota tingkat tinggi mereka lebih tertarik untuk meneliti berbagai hal seperti sihir reinkarnasi yang Zen buat.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Kreiz bertanya dengan sedikit kesal, mau dilihat dari manapun sangat jelas kalau Zen sama sekali tidak memperdulikan dirinya.
"Ah buka apa apa, jadi dimana Shao Ling atau Ray?"
Sejak memasuki ruangan ini Zen sama sekali tidak belum melihat keberadaan kedua orang itu. Zen sedikit penasaran dengan keberadaan Shao Ling atau Ray saat ini.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kau akan melawan kami sendirian bukan?"
Tidak peduli sekuat apa Kreiz saat ini namun tetap saja mustahil baginya untuk dapat menang melawan mereka ber 4 sekaligus.
"Mana mungkin aku melakukan hal itu, kalian adalah orang orang yang merepotkan. Aku tidak tau apa yang akan terjadi ketika melawan kalian semua secara bersamaan."
"Kalau begitu dimana teman mu yang lainnya?"
"Tenang saja mereka akan datang sebentar lagi. Kau tidak keberatan bukan jika harus menunggu?"
"Ya tentu saja."
Menunggu sebentar tidak menjadi sebuah masalah bagi Zen, lagi pula akan merepotkan bagi Zen jika harus membunuh mereka dari persatu didunia yang terpisah pisah. Ling Hao dan Hao Chen memiliki pemikiran yang sama dengan Zen, karena itulah mereka sama sekali tidak keberatan dengan keputusan Zen.
Setelah cukup lama apa yang Zen tunggu tunggu akhirnya datang juga, namun apa yang datang ini sedikit berbeda dari apa yang diharapkan.
"Hoo, ini sedikit menarik. Bukan kah kau setuju Zen?" Ucap Ling Hao.
"Iya, ini benar benar menarik."
Tidak hanya Shao Ling dan Ray saja yang datang keruang singgasana itu, bersamaan dengan mereka beberapa orang yang berada dialam ilahi lapis ke 5 dan Duke kelas atas juga datang keruang singgasana itu.
Orang orang itu lalu mengelilingi Zen dan yang lainnya, sama sekali tidak ada celah bagi mereka untuk pergi. Meski begitu hal itu tidak menjadi masalah bagi Zen, lagi pula sejak awal mereka sama sekali tidak ada niat untuk pergi. Tujuan Mereka datang kesini adalah untuk mengambil kembali tubuh Theresia dan memenggal kepala Kreiz dan yang lainnya.
"Apa ini sudah semuanya Kreiz?"
"Mungkin bisa dibilang begitu."
__ADS_1
"Baguslah, asal kau tau trik....."
Sebelum Zen dapat menyelesaikan perkataannya puluhan panah es dengan dengan cepat menuju kearahnya.