Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Laporan Seorang Perempuan


__ADS_3

Disebuah kastil yang terletak sangat jauh dari tempat Zen berada seorang perempuan berambut merah muda menundukkan kepalanya kepada seorang pria yang ada didepannya.


"Saya kembali tuan."


"Akhirnya kau kembali juga Reika. Jadi bagaimana, apakah kau menemukannya?"


"Tidak tuan, saya sama sekali tidak dapat merasakan keberadaanya di dunia ini."


"Begitu ya, jadi kau juga tidak dapat menemukannya."


Pria itu mengambil nafas yang cukup panjang lalu melihat kearah langit langit ruangan.


'Dimana kau sekarang Taimi? Apa kau benar benar telah mati? Bahkan Reika tidak dapat menemukan dirimu.'


"Tuan."


Reika memanggil pria itu, namun pria itu sama sekali tidak mendengarnya


"Tuan, Tuan."


Reika terus memanggilnya dengan nada yang pelan dan sopan hingga akhirnya pria itu mendengar panggilan Reika.


"Ada apa? Apa masih ada yang ingin kau laporkan?


Dengan wajah yang terlihat sedikit kesal pria itu bertanya kepada Reika.


"Ada yang ingin saya beritahukan kepada anda?"


"Kalau begitu katakanlah sekarang!"


"Tuan, saya rasa anda harus segera mengambil kembali 10 pecahan kekuatan yang telah anda sebarkan di dunia."


Terkejut dengan apa yang Reika katakan, pria itu membuka lebar lebar matanya.


"Kenapa aku harus mengambilnya sekarang? Dengan kemampuanku yang sekarang aku sama sekali tidak dapat mengendalikan kekuatan 10 pecahan itu."


"Saya tau itu Tuan, tapi meskipun anda tidak dapat menggunakannya setidaknya anda dapat menyegelnya dan menyimpannya."


"Aku sama sekali tidak mengerti mengapa kau memberikanku saran seperti itu Reika. Jadi bisakah kau memberitaunya kepadaku?"


"Alasannya sederhana tuan, jika anda tidak mengambil kembali kekuatan itu maka dalam waktu 500 sampai 1000 tahun mendatang anda tidak akan dapat mengambilnya lagi."


"Bukankah Itu masih lama?"


500 sampai 1000 tahun memanglah waktu yang lama, juga dalam jangka waktu selama itu dunia mampu membuat peradaban baru.


"Memang masih lama, tapi tidak ada salahnya mengambilnya sekarang. Lagipula sebuah perperangan akan muncul di dunia itu, jadi anda dapat mengambil kembali 10 pecahan itu dengan mudah."


Pria itu merasa kalau apa yang dikatakan oleh Reika cukup masuk akal.


"Dan juga anda jauh lebih tau daripada saya betapa pentingnya kekuatan itu bagi anda. Apa anda ingin terjebak di dunia ini sampai ada seseorang yang mau membawa anda pergi dari dunia ini."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak ingin hal itu sampai terjadi."


"Jadi apa yang akan tuan lakukan?"


"Aku akan melakukan apa yang kau sarankan, aku akan mengambil kembali 10 pecahan kekuatan itu."


"Kalau begitu saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu anda tuan!"


************ ******* ********


"Mengapa kau terus bertarung?"


"***********"


'Siapa mereka berdua?'


Ditempat yang dipenuhi oleh cahaya ini Zen dapat melihat seorang pria dan seorang wanita saling berbicara. Hanya saja Zen sama sekali tidak dapat melihat wajah mereka berdua karena terdapat sebuah cahaya yang menghalangi.


"Lalu apakah kau dapat telah mewujudkan hal itu?"


"**********"


'Mengapa aku tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu?'


Zen dapat mendengar apa yang dikatakan oleh si wanita dengan jelas, namun dia sama sekali tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh si pria.


"Kalau begitu mengapa kau masih tetap berjuang sampai sekarang?"


"***********"


Zen dapat melihat kalau si wanita sedang melihat kearahnya.


'Dia... Tersenyum.'


Meski tidak dapat melihat wajahnya namun Zen merasa kalau si wanita sedang tersenyum kepadanya.


Si wanita lalu mengangkat tangannya dan mengjentikan jarinya. Seketika semua cahaya yang tadinya dilihat oleh Zen menghilang dan digantikan oleh kegelapan yang pekat.


'Dimana lagi ini?'


Tidak ada yang dapat Zen lihat, sejauh apapun mata memandang hanya ada kegelapan disana.


"Zen!!!"


Didalam kegelapan itu Zen dapat mendengar sebuah suara yang memanggilnya.


'Dari mana suara itu berasal?'


"Zen!!!"


Sekali lagi Zen dapat mendengar sebuah suara yang memanggilnya. Namun berbeda dengan yang sebelumnya, kali ini sebuah cahaya muncul didalam kegelapan itu.

__ADS_1


'sebuah cahaya? Apa mungkin itu jalan keluarnya?'


Tanpa banyak berfikir Zen segera berjalan menuju kearah cahaya itu. Setelah beberapa saat berjalan Zen akhirnya sampai ketempat cahaya itu berada.


Zen menyentuh cahaya itu, lalu cahaya itu menyebar didalam kegelapan itu dan Zen pun kehilangan kesadarannya.


*********


"Zen! Zen! Zen!"


Fernanse terus memanggil Zen yang sedang tertidur hingga akhirnya Zen pun terbangun.


"Akhirnya kau bangun juga."


Zen melihat kesekelilingnya, dia dapat melihat Irene yang sedang membaca sebuah buku dan Fernanse yang telah berjuang keras untuk membangunkannya.


"Apa yang kau perlukan Fernanse?"


Sangat jarang Fernanse membangunkan Zen dari tidurnya, biasanya Fernanse hanya akan membangunkan Zen ketika ada sesuatu yang dia inginkan.


"Ya kau tau, kurasa saatnya kau bercerita tentang apa yang kau lakukan dikastil kaisar naga."


Setelah pertarungan dikastil kaisar naga Zen mengantar Elizabeth yang terluka ke kastilnya. Setelah itu Zen langsung kembali ke kamarnya dan tertidur tanpa bercerita sedikitpun kepada Fernanse.


"Ah, begitu ya."


Zen turun dari kasurnya dan berjalan menuju sofa lalu mendudukinya.


"Baiklah aku akan memberitaunu apa yang aku lakukan disana, jadi dengarkanlah baik baik."


Dengan cepat Fernanse langsung duduk disamping Irene.


Zen mulai bercerita kepada Fernanse tentang apa yang dia lakukan disana. Mulai dari raja naga yang dia lawan sampai betapa kuatnya kaisar naga yang bahkan dapat membuat Elizabeth menjadi tidak berdaya.


"Ehh, jadi kaisar naga itu sangat kuat ya?"


"Ya, mungkin saat ini dia adalah yang terkuat dari semua ras yang ada."


"Apa dengan kekuatanmu kau dapat mengalahkannya?"


"Itu mustahil, dengan kekuatanku yang sekarang aku bahkan kesulitan untuk melukainya."


Dengan keadaan Zen yang sekarang mustahil baginya untuk mengalahkan kaisar naga. Namun beda cerita kalau Zen mengambil kembali semua kekuatan miliknya yang telah dia sebar, dengan semua kekuatan itu Zen dapat mengalahkan Kaisar naga tanpa harus melalui pertarungan yang panjang.


"Begitu ya, aku mengerti sekarang."


"Baiklah Fernanse, karena aku telah selesai menjawab pertanyaanmu sekarang giliran ku untuk bertanya kepadamu."


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Fernanse, kau mengetahui banyak teknik yang tidak berasal dari dunia ini. Dan meskipun kau tinggal di dunia ini namun mengapa kau tidak banyak mengetahui tentang dunia ini?"

__ADS_1


Zen menatap kearah Fernanse.


__ADS_2