
Sebuah gate muncul di atas Zen, dari gate itu muncul seorang pria dengan rambut berwarna abu abu.
'Itu... Ray Whitehead.'
Zen mengenal pria itu, pria itu adalah salah satu alasan mengapa Zen bisa mati.
Ray kemudian mengeluarkan sebuah pedang ilahi tingkat 1. Dengan pedang itu dia menyerang Zen, Zen menahan serangan itu dengan pedangnya. Namun perbedaannya terlalu jauh, dan pedang Zen langsung patah.
Ray kemudian mengeluarkan sebuah tombak emas yang terbuat dari sihir, dengan tombak itu menusuk dada Zen. Tombak itu membuat Zen tidak dapat bergerak ataupun mengeluarkan kekuatannya, bahkan tombak itu membuat luka Zen tidak dapat sembuh.
"Terlalu lemah, ternyata benar kalau kau belum bertemu dengan Theresia."
Ray menatap Zen dengan tajam sambil mengeluarkan aura membunuh yang besar.
'Jadi begitu ya, ini adalah hal yang bagus. Mereka tidak tau kalau jiwa Theresia ada didalam tubuhku.'
"Siapa kau?"
Zen berpura pura seperti tidak mengenal Ray, ini adalah tindakan terbaik yang ada saat ini.
"Sepertinya kau bahkan tidak memiliki sedikit pun ingatan tentang kehidupan yang dulu."
'kena kau.'
Dengan Ray berfikir kalau Zen masih tidak mendapatkan ingatannya dari Theresia itu setidaknya membuat Ray Tidak akan langsung membunuh Zen.
"Apa yang kau inginkan?"
"Kunci untuk membuka segel pada pecahan kekuatanmu."
"Apa yang kau maksud?"
"Ah, aku lupa kalau masih belum bertemu dengan Theresia."
"Bisakah kau membiarkan ku pergi?"
"Sayang itu tidak bisa, keberadaan mu sangat berbahaya. Aku tidak bisa membiarkan mu bertemu dengan Theresia."
Ray mengarahkan pedangnya ke leher Zen, pedang itu secara perlahan menusuk lehernya. Setelah beberapa tetes darah keluar dari leher Zen, sebuah gate terbuka dibawahnya.
Gate itu lalu dengan cepat menarik Zen dan Zen kembali masuk kedalam celah dimensi.
"Cih."
Ray menjadi sangat marah karena dia gagal membunuh Zen, dia kemudian melihat keras langit.
"Dasar tukang ikut Campur."
Ray lalu membuka gate dan pergi meninggalkan dunia Medan perang.
Disisi lain didalam celah dimensi Zen berada didalam situasi yang sangat buruk. Sebuah monster kekosongan terus mengejarnya.
"Pelahap jiwa sialan."
__ADS_1
Pelahap jiwa adalah salah satu monster kekosongan paling berbahaya didalam celah dimensi. Seperti namanya Monster itu akan melahap jiwa orang dan tidak memperdulikan tubuhnya. Bentuk Pelahap jiwa adalah sebuah kepala besar dengan 4 ekor.
Pedang suci miliknya telah patah, Zen terpaksa untuk menggukan sebuah tombak yang merupakan epic. Zen lalu dengan kuat melemparkan tombak itu, Tombak itu menebus tubuh monster itu.
"Gak berefek ya."
Hanya senjata suci tingkat 1 keatas yang dapat melukai monster kekosongan, jika menggunakan senjata suci tingkat 1 ke bawah maka senjata itu tidak akan dapat mengenai monster kekosongan sedikitpun seperti yang terjadi pada tombak Zen.
"Sial."
Pelahap jiwa itu membuka mulutnya dan mau melahap Zen, namun tiba tiba sebuah dunia menarik Zen dengan sangat kuat. Seperti tertarik magnet Zen bergerak kedunia itu dengan sangat cepat hingga pelahap jiwa itu tidak dapat mengejarnya.
**********
Disebuah tempat dibawah pohon besar yang rimbun terdapat 2 orang laki laki yang sedang duduk. Laki laki yang berambut pendek berwarna abu- abu adalah Bifrost, dan yang berambut hitam panjang diikat adalah Hao Chen.
"Apa kau yang baru saja membuka gate untuknya?" Tanya Hao Chen kepada Bifrost.
"Iya, aku yang membukanya."
"Untuk apa kau melakukannya, bukankah lebih baik jika kita membiarkannya mati dan menunggu reinkarnasi yang berikutnya. Lagi pula salama Theresia tidak ada bersamanya maka dia tidak akan pernah bangkit."
"Itu adalah pertaruhan yang sangat besar, bahkan reinkarnasi yang pertama ini membutuhkan waktu selama 2000 tahun lebih. Jika dia mati sekarang maka berapa lama lagi kita harus menunggu?"
"Aku tau apa yang kau maksudkan Bifrost, tapi......"
"Selain itu apa kau tidak Merasakan ada yang aneh Hao Chen?"
"Apanya?"
"Bukankah itu karena kebetulan?"
"Yah memang benar ada kebetulan yang seperti itu, namun kau tau bukan kalau Theresia datang kedunia bawah bukan dengan menggunakan tubuhnya melainkan hanya jiwanya."
"Tentu saja aku tau, lagi pula aku ada disana saat dia pergi."
"Sebuah Jiwa dapat tinggal didalam tubuh orang lain, dan sampai sekarang jiwa Theresia belum kembali ke tubuhnya. Dengan kata lain...."
"Dengan kata lain ada kemungkinan kalau jiwa Theresia ada didalam tubuhnya. Apa itu yang ingin kau katakan?"
"Iya, tepat sekali. Jadi untuk sekarang kita hanya perlu mengamati dirinya saja."
"Baiklah aku mengerti, jadi kemana kau mengirimkan nya?"
"Dunia dengan energi spiritual, dunia kekuasaan Ling Hao."
*********
Gate terbuka diatas Langit, Zen tidak terjatuh dari atas langit itu dan menghantam permukaan tanah.
"Ini cukup sakit."
Zen langsung berdiri dan membersihkan debu yang ada di bajunya. Dia melihat kesekitarnya dan Zen dapat sebuah rumah.
__ADS_1
Dari rumah itu keluar seorang perempuan cantik berambut coklat dan mendekati Zen.
"Siapa anda?"
Dengan nada yang lembut perempuan itu bertanya kepada Zen.
"Zen Cavalier."
"Zen.... Cavalier?"
Perempuan itu menjadi sedikit terkejut setelah mendengar nama Zen, dia menunjukan sebuah ekspresi buang terkesan seperti telah mendengar sesuatu yang telah lama tidak dia dengar.
"Iya, apa ada masalah?"
"Tidak, ah saya adalah..."
Sebelum perempuan itu memberi tahukan namanya Zen langsung memotong perkataannya.
"Lin Xue Yu. Benar bukan?"
Lin Xue Yu, itulah nama perempuan itu. Xue Yu adalah perempuan yang dekat dengan Ling Hao, mungkin bisa dibilang kalau mereka adalah suami istri.
"Kau.... Kau benaran Zen."
"Iya, lama tidak berjumpa Yu."
"Lama tidak berjumpa Zen, kemana saja kau selama ini?"
"Untuk apa kau menanyakan hal itu, bukankah kau tau kalau aku mati. Ngomong ngomong dimana Ling Hao berada sekarang?"
"Ling Hao ya, dia sekarang berada di...."
Seorang pria dengan cepat jatuh ketanah dan mencipkan sebuah kerusakan. Pria itu kemudian berjalan mendekati Zen.
"Aku Merasakan kalau ada yang datang kedunia ini, dan sekarang apa yang kulihat ini. Wajah yang tidak asing, dan juga gelombang jiwa ini."
"Lama tidak bertemu Ling Hao."
"Sekitar 2000 tahun lebih ya, bagaimana kabarmu sektang Zen?"
"Cukup buruk, bukankah kau bisa melihatnya dari tubuhku ini."
"Ya kau benar, tubuh itu sangat lemah. Bahkan dengan kurang dari 1 persen kekuatan ku, aku sudah dapat menghancurkan tubuh itu."
"Kalau begitu jangan pernah mencoba untuk menghancurkan ku."
"Aku tidak akan melakukan hal itu."
Ling Hao kemudian melihat penampilan Zen, ada beberapa noda darah dibajunya dan beberapa bagian telah robek.
"Datanglah ke rumahku, aku akan menyiapkan pakaian untukmu."
"Terima kasih Ling Hao."
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan menuju sebuah rumah yang berjarak tidak terlalu jauh dari tempat mereka saat ini.