
Tidak membutuhkan waktu yang lama dia telah selesai membuat tubuh fisiknya, berbeda dengan tubuh astralnya yang kecil, dia memiliki tubuh fisik seperti manusia. Dengan rambut hijau panjang yang terurai, wajah yang cantik dan tubuh yang dapat menggoda para lelaki. Dengan mata yang berwarna merah yang cantik bagaikan warna api yang membara dia tersenyum menghadapku.
"Lihat seperti yang kubilang bukan, bagiku membentuk tubuh fisik adalah hal yang mudah."
Sambil tersenyum dia mengatakan hal mungkin dapat memicu kemarahan dari para roh tingkat bawah.
"ya seperti yang kau bilang, kalau begitu sesuai janjiku aku memberikan permen ini kepadamu."
Aku memberikan permen yang ada ditanganku, Sejujrnya aku tidak mau memberikan permen itu kepadanya tapi aku tidak punya pilihan lain karena aku yang telah berjanji padanya.
"Baiklah."
Dia dengan santai menerima permen yang kuberikan kepadanya, meski dia terlihat cukup tertarik dengan permen itu tapi belum tentu permen itu dapat memuaskannya.
"Kalau begitu izinkan aku mecobanya."
Dia memakan permen itu dengan anggun, entah dia akan puas atau tidak dengan permen yang kuberikan padanya aku akan menerima hasilnya. Jika dia puas maka itu akan memudahkanku namun jika dia tidak puas maka aku akan mencari cara lain untuk membujuknya agar mau memberikan berkah itu.
"Jadi menurutmu bagaimana rasanya?"
"Hmm, sepertinya kau tidak bohong saat bilang kalau manusia terkadang suka makan ini."
Dari jawabannya terdengar seperti dia sedang memuji rasa dari permen itu, semoga dia terpuaskan dengan rasa permen itu dengan begitu aku bisa langsung mengambil berkah itu.
"Jadi apakah kau terpuaskan?"
"Ini adalah pertama kalinya aku makan setelah menjadi roh, permen ini memberikan rasa yang membekas sebagai makanan pertamaku jadi bisa dibilang aku cukup terpuaskan."
Pada saat ini aku merasa ingin mengeluarkan senyuman diwajahku, namun aku tidak bisa melakukannya sekarang meskipun aku ingin melakukannya. Betapa beruntungnya dirinya meski hanya sebuah permen tapi itu dapat memuakannya.
"Kalau begitu apakah aku boleh langsung mengambil berkah itu?"
"Ya sesuai janjiku jika aku terpuaskan maka kau boleh mengambil berkah itu."
"Baiklah kalau begitu aku akan mengambilnya sekarang."
Aku berjalan mendekati altar tempat berkah berada. Begitu sampai aku segera mengulurkan tanganku ke tempat berkah itu berada.
"Sebelum kau mengambil berkah itu ada suatu hal yang ingin kuberi tau kepadamu."
__ADS_1
Disaat aku sedikit lagi hampir mendapatkan berkah itu tak disangka dia memulai kembali pembicaran yang membuatku sedikit penasaran.
"Apa yang ingin kau beritau kepadaku?"
"Seperti yang kubilang sebelumnya kalau berkah itu merupakan bagian dari diriku, jika kau mengambilnya maka aku akan menghilang. Namun begitu kau sudah memiliki pedang suci yang diatas maka aku akan kembali lagi menjadi seperti diriku yang sekarang."
Berarti jika aku mengambil berkah ini dia akan menghilang dan tidak akan pernah menampakan wujudnya lagi, namun jika aku berhasil mendapatkan pedang suci maka dia akan dapat muncul kembali kedunia ini.
"sebelum aku menghilang aku ingin mengetahui namamu wahai manusia."
"Namaku adalah zen, dan namamu siapa?"
"Untuk sekarang aku tidak bisa memberi taukah namaku padamu, namun jika kau berhasil mendapatkan pedang suci yang ada diatas maka aku akan memberi takan namaku."
Sungguh persyaratan yang cukup sulit, tapi biarlah lagi pula tujuan ku memanglah pedang suci dan terkutuk yang ada diatas.
"Baiklah jika itu maumu."
"kalau begitu kau sudah boleh mengambil berkah itu."
Karena dia telah mengatakan kalau aku sudah boleh mengambil berkah itu maka tanpa ragu ragu aku langsung mengambil berkah itu. Sama seperti yang terjadi dilantai dua ketika aku mengambil berkah aku tidak ada merasakan sakit pada fisik maupun jiwa, yang membedakannya hanyalah saat dilantai kedua aku harus melawan sekumpulan monster lemah terlebih dahulu.
"Kau sudah mau menghilang ya?"
"Iya kerena kau telah mengambil berkahnya maka aku akan menghilang, tapi sebelum aku menghilang sepenuhnya biarkan aku membantumu melakukan sesuatu."
Pada awalnya aku masih kurang mengerti apa yang dia maksud dengan membantuku. dia menjentikkan tangannya meski tubuhnya adalah sebuah tubuh astral tapi entah kenapa jentikkannya dapat menghasilakan suara.
Pintu yang tadinya tertutup rapat kini mulai terbuka, sepertinya jentikkannya tadi adalah kunci untuk membuka pintu. Diasaat pandanganku teralihkan oleh pintu yang mulai terbuka disaat aku melihat kembali roh itu namun ternyata sudah terlambat, dia telah sepenuhnya menghilang dari ruangan ini.
"Zen!"
Ziyun berlari kearah ku dengan cepat bersama dengan shiroki yang berada ditangannya.
"Zen apa kau tidak apa apa? Apa kau terluka? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit? Aku sangat khawatir saat pintunya tertutup tadi, dan juga shiroki bertingkah aneh."
Sepertinya kali ini dia benar benar khawatir dengan ku, tidak biasanya dia bertanya banyak hal secara bersamaan dan juga kalau aku tidak salah dengar tadi dia mengatakan shiroki bertingkah aneh. Apa yang dia maksud dengan bertingkah aneh, dimataku shiroki hanya terlihat seperti monster yang sedang tertidur.
"ya aku baik baik saja, ngomong ngomong apa yang kau maksud dengan shiroki yang bertingkah aneh?"
__ADS_1
"ah itu tadi aku memberikannya batu sihir yang kau berikan, tapi setelah aku memberikannya batu sihir itu tiba tiba pecah dan shiroki mengeluarkan cahaya lalu dia tidak bangun sampai sekarang."
Begitu ya jadi itu yang terjadi, aku sendiri kurang tau apa yang terjadi padanya. Pengetahanku tentang roh sangatlah sedikit, lebih baik aku membiarkannya beristirahat.
"jadi itu yang terjadi, kalau begitu berikan shiroki padaku biar dia dapat beristirahat."
"Baiklah ini"
Aku mengambil shiroki dari ziyun dan langsung memasukannya kedalam ruang yang ada ditanda kontrak.
"Eh menghilang, kemana shiroki pergi?"
"Dia ada disini."
Aku menunjukan tanda kontrak antara aku dan dan shiroki yang berada ditanganku.
"itu tanda apa?"
"Ah ini adalah tanda kontrak antara aku dan shiroki."
"Tanda kontrak?"
"Ya shiroki bukanlah sebuah monster melainkan sebuah roh."
"Apa perbedaanya dari keduanya?"
Berapa banyak pertanyaan yang mau dia tanyakan, jika aku terus membuatnya penasaran itu akan sedikit menyusahkan untuk menjawabnya. Ziyun sepertinya haus akan rasa ingin tau untuk sekarang lebih baik aku menghindari lebih banyak lagi pertanyaannya darinya.
"Sekarang kau tidak perlu tau, kau akan mengetahinya secara perlahan lahan."
"Baiklah"
Kami telah menyelesaikan lantai ketiga ini, sekarang adalah saatnya untuk menepati janjiku pada ziyun.
"Ziyun sekarang kita akan beristirahat disini, lagi pula sekarang adalah saatnya aku menepati janjiku padamu."
"Janji! Janji yang mana?"
"Janji kalau aku akan mengajarimu sihir."
__ADS_1