
[Hutan Dekat Kota Urukis. Mantan Manusia, Zen]
Sihir teleportasi rasanya sangatlah luar biasa, namun juga sangat menjengkelkan karena begitu sampai pada tempat tujuan kepalaku terjedut batang pohon dikarenakan aku tidak dapat mengendalikannya. Menggunakan sihir Gate masih lebih enak rasanya kerena aku tidak perlu merasakan sakit sepert menggunakan sihir teleportasi. Ya meskipun begitu aku tidak bisa begitu saja menggunakan sihir Gate karena bisa menyebabkan masalah nantinya.
"Ziyun, apakah Kau tidak apa apa?"
"ya aku tidak apa apa, hanya kaki ku saja yang sedikit sakit namun sekarang sudah tidak terasa lagi."
Dalam kasus ziyun dia masih lebih baik dari pada aku, begitu kami sampai disini dia hanya terjatuh dengan berdiri. Ya mungkin rasa akan seperti terjatuh dari pohon yang pendek, dan meskipun dia merasakan sakit itu tidak akan lama karena dia memiliki sihir blessing light yang akan menghilangkan rasa sakitnya.
"Oh, baguslah. Karena kakimu sudah tidak sakit maka kita harus segera meniggalkan hutan ini dan segera pergi kekota urukis."
"baiklah zen."
Karena kami sebelumnya terus berada dimenara tanpa tau diluar sedang malam atau siang, aku jadi lupa untuk memikirkan kemungkinan kalau diluar sedang malam atau tidak saat aku hendak menggunkan sihir teleportasi. Tapi untungnya situasi diluar saat ini tidaklah malam hari melainkan sore hari, jadi kami masih memiliki waktu untuk dapat pergi kepenginapan yang ada dikota dan tidak perlu bermalaman disini.
Aku dan ziyun segera pergi dari hutan ini dan pergi menuju kota, karena aku sebelumnya sudah pernah kesini jadi aku cukup tau jalan yang harus kupilih untuk menuju kekota.
"Ngomong ngomong ziyun, bukankah ini adalah pertama kalinya kau pergi kekota?"
"Iya, karena sebelumya aku selalalu didesa jadi aku belum pernah pergi kekota."
"Kalau begitu besok mungkin aku dapat menemaniku berkeliling dikota."
"Benarkah? Kalau begitu besok kau harus mengajakku berkeliling kota ya."
"Ya."
Wajahnya dipenuhi rasa senang, ya itusih wajah yang normal bagi perempuan yang biasanya hanya didesa sekarang pergi kekota. Lagi pula aku sudah pernah berjanji padanya kalau aku akan mengajaknya berkeliling jika kami berada dikota, dan juga mungkin ini adalah terakhir kalinya aku mengajaknya pergi berkeliling kota.
Setelah cukup lama kami berjalan akhirnya kami hampir sampai kegerbang masuk kota sebelum hari menjadi gelap. Begitu kami mendekat kepintu gerbang seorang penjaga menghampiri kami.
"Perkenalkan Identitas"
Ketika penjaga mengatakan itu, Akupun langsung mengeluarkan kartu identitas petualangku.
"Zen, petualang dari kota ataxia, rank B."
"oke, lalu siapa nama nona ini?"
Dia melihat kearah ziyun yang berada disampingku.
"Hanya seorang perempuan biasa, bukan seorang petualang."
"Hmm, baiklah."
"Berapa biaya masuknya?"
"2 perunggu untuk satu orang."
Aku segera mengeluarkan 7 koin perunggu dari kantongku dan memberikannya pada sang penjaga.
"Tuan, ini Lebih 3 perunggu."
"Tidak apa, anggaplah itu sebagai komisi."
"Ahh,,, ha, baiklah"
__ADS_1
"Ayo ziyun Kita harus segera pergi kepenginapan."
"Iya"
Setelah membayar aku segera mengajak ziyun untuk masuk kekota. Karena ini hampir malam hari jadi jalanan dikota cukup sepi.
Kami pergi kepenginapan yang pemiliknya adalah seorang yang kukenal. Nama penginapan itu adalah penginapan Browly dengan lambang topi kerucut dan api.
Begitu sampai kami segera masuk kedalam penginapan.
"Selamat datang."
Seorang gadis pelayan menyapa kami. Aku segera pergi ke meja pemesanan. Disitu ada sorang perempuan Cantik dengan rambut hitam yang terurai panjang yang kukenal sedang duduk.
"Permisi nona saya ingin memesan kamar."
"Iya, iya, berapa ka...."
Begitu melihatku perempuan itu menjadi diam sesaat dan kembali membuka mulutnya.
"Apa ternyata cuma zen kah, percuma aku memasang senyum tadi, sekarang bayar untuk senyumanku tadi."
"Tega sekali kau berkata seperti itu terhadap pelangganmu. Itu bisa bisa membuatku mengeluarkan air mata."
"iya, iya, siapa yang peduli dengan air matamu. Hmm, siapa perempuan itu? Kekasihmu?"
Dia sadar kalau ziyun memiliki hubungan cukup dekat denganku dan langsung bertanya.
"Bukan, dia bukan kekasihku."
Dia tertawa terbahak bahak, itu sedikit membuatku kesal.
"Ya, dia memang bukan kekasihku. Tapi!"
"Tapi?"
Aku membuat ziyun berdiri disampingku dan langsung merangkulnya.
"Dia adalah istriku."
Setelah aku mengatakan itu, dia menjadi diam tanpa bersuara sedikitpun. Itu adalah ekspresi wajah yang sangat menghibur, saat aku melihat ekspresi orang yang putus asa atau kaget aku merasa seperti sedang melihat sesuatu yang sangat menarik.
"Istri....kau bilang dia istrimu?"
Akhirnya setelah cukup lama terdiam dia kembali berbicara.
"Iya, aku bilang dia istriku. Apa ada masalah?"
Dia terdiam kembali, kali ini wajahnya menunjukan wajah keputusasaan.
"Kau... Kau becanda bukan?"
Dia berbicara sambil melihat kebawah kakinya.
"Iya, aku becanda."
"Ehh."
__ADS_1
Dia kembali melihatku dengan wajah yang seolah olah tidak percaya.
"Seperti yang kubilang, kalo aku sedang becanda."
"hahah, benar juga mana mungkin orang sepertimu bisa memiliki istri. Ya mekipun aku dari awal sudah tau, aku hanya pura pura kaget saja hahah."
"hahaha"
Jelas apa yang dia katakan adalah sebuah kebohongan, namun aku lebih memilih untuk tidak mengatakannya dan aku tertawa sama dengannya.
"Apakah kau sudah bisa berhenti tertawa, aku ingin memesan kamar."
"ah, baik baik, jadi berapa kamar yang ingin kau pesan?"
"2 kamar 3 hari"
"huft"
Ini perempuan entah sampai kapan dia akan terus tertawa, lama lama bikin kesal.
"cepat aku bilang 2 kamar."
"Baik baik, ini dia kunci dua kamar. Harganya 7 perak bersamaan dengan makan 2 kali."
Aku segera mengeluarkan 7 koin perak dan memberikannya padanya.
"Untuk makanannya bagaimana aku bisa mengantarnya kekamar kalian, atau duduklah disalah satu meja disana."
"Ah, untuk makanannya.... "
"Zen!"
Aku mendengar suara yang memanggilku dari belakang, karena aku yakin itu bukan suara ziyun akupun segera melihat kebelakang. Disitu yang kulihat adalah sebuah seseorang teman lama.
"Baal."
"uwah, ternyata benaran zen. Kebetulan sekali ada sesuatu yang ingin kuminta darimu."
"Aku tidak tau apa yang ingin kau minta dariku. Namun baal, aku juga punya sesuatu yang ingin kuminta darimu."
"Ehehe, kalau begitu mari kita bicarakan."
"Baiklah. Ah, sitri untuk makanannya tolong antarkan punya dia kekamarnya dan punyaku kemejaku dan baal."
"Baiklah."
"Ziyun Kau kekemarmu lah duluan, ikuti aja perempuan itu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan pria itu."
"Baiklah zen."
"Sitri Aku mengandalkanmu."
"Iya. ayo aku akan mengantarmu kekamarmu."
Sitri segera membawa ziyun pergi kekamarnya.
"Kalau begitu baal, mari kita cari meja untuk berbicara."
__ADS_1