Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Istana Kerajaan


__ADS_3

Setelah meninggal guild Zen langsung pergi menuju ibu kota kerajaan. Didalam hutan Zen terus berlari dengan cepat sambil mengeluarkan sedikit aura miliknya agar tidak ada monster yang menyerangnya.


Bagi manusia biasa mungkin dibutuhkan waktu lama untuk sampai ke ibukota, namun dengan kecepatan Zen maka hanya akan membutuhkan waktu sekitar 1 hari saja.


Setalah cukup lama dia berlari Zen akhirnya sampai ke pintu gerbang masuk ibu kota.


"Kartu masuk!" Tanya seorang penjaga.


Zen kemudian menunjukkan kartu emas yang Irene berikan kepadanya, kartu itu berlalu untuk semua kota yang ada dikerajaan Ignum.


"Baiklah kau bisa masuk."


Zen langsung masuk kedalam kota, pemandangan yang dia lihat jauh lebih berbeda dengan kota yang sebelumnya.


Disini jauh lebih ramai dan bangunan nya jauh lebih berwarna dari pada kota yang sebelumnya.


Zen segera berjalan menuju istana kerajaan, setelah beberapa saat dia akhirnya sampai kegerbang masuk. Beberapa penjaga menghalangi Zen untuk masuk.


Tentu saja itu adalah hal yang normal, tidak akan ada orang biasa yang dapat dengan masuk kedalam istana.


"Bisakah kalian membiarkan aku masuk?"


"Maaf kami tidak dapat melakukan hal itu."


"Kalau begitu bisakah kau menyampaikan pesanku kepada raja kalian, katakan kepadanya ada seseorang yang memiliki sedikit urusan dibawah istana kerajaan."


"Baiklah kalau begitu."


Seorang penjaga masuk kedalam istana untuk memberikan laporan kepada sang raja, Zen menunggu diluar sambil melihat pemandangan yang ada dikota.


Sudah Cukup lama penjaga itu pergi melapor dan akhirnya dia kembali.


"Yang mulia mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan anda. Tolong ikuti saya."


Sang Penjaga akhirnya membuka pintu gerbang, Zen masuk dan berjalan mengikuti sang penjaga itu.


Mereka berdua akhirnya sampai kedepan sebuah pintu yang besar.


"Yang mulia ada didalam sana, anda bisa masuk."


Pintu ruangan terbuka dan Zen memasuki ruangan itu. Didalam terdapat puluhan prajurit berjaga, sang raja duduk di kursinya dengan sang putri yang duduk disamping kanannya, dan disamping kirinya sang perdana menteri berdiri.


Zen berjalan menuju kehadapan sang raja, begitu sampai Zen hanya berdiri dan sama sekali tidak menundukkan kepalanya.


Sang perdana menteri menjadi sedikit kesal dengan sikap Zen, dia kemudian menyuruh Zen untuk menundukkan kepalanya. Namun Zen masih tidak mau dan para prajurit yang ada diruangan itu bersiap untuk menyerang Zen.

__ADS_1


"Berhenti!!"


Sang raja berbicara sambil mengangkat tangannya. Para prajurit itupun langsung berhenti mengarahkan senjatanya kepada Zen.


"Kudengar kau memiliki keperluan diruang bawah tanah istana, apa kau tau apa yang berada dibawah sana?"


Dengan penuh wibawa sekaligus tekanan sang raja bertanya kepada Zen.


"Iya aku tau, bukankah dibawah sana terdapat akashic record?"


Sang raja terkejut dengan perkataan Zen, apa yang ada disana merupakan rahasia negara. Tidak banyak yang tau apa yang terdapat diruang bawah tanah itu, namun Zen menyebutnya dengan santai seolah- olah kalau itu bukanlah sebuah rahasia.


"Siapa yang memberitahu?"


"Sebuah roh memberitauku."


Fernanse dulunya adalah seorang roh kegelapan, Jadi tidak salah jika Zen masih menganggapnya sebagai roh.


"Begitu ya, namun meskipun kau mengetahui apa yang ada dibawah sana bukan berarti aku akan memberikan mu izin untuk masuk."


"Tentu saja aku tidak akan masuk dengan gratis, aku akan membayarnya kepada anda."


"Membayarnya? Hahaha."


"Ayah, bagaimana jika kita mendengarkan dulu apa yang dia tawarkan?"


"Tidak ada yang perlu kita dengarkan lagi Tifa."


"Tidak ayah, kita harus mendengarkan dulu apa yang dia tawarkan."


Berbeda dengan sang raja, sang putri Tifa merasa kalau apa yang Zen katakan bukan sebuah omong kosong. Dan apa yang akan Zen tawarkan bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan.


"Baiklah, terserahmu Tifa."


"Terima kasih ayah."


Sang putri kemudian melihat kearah Zen dan dia mulai berbicara.


"Ngomong ngomong bisakah anda memberitau kepada saya apa yang akan anda berika jika kami membiarkan Anda pergi keruang bawah tanah?"


Dengan lembut sang putri bertanya kepada Zen.


"Apa yang anda inginkan putri? Anda ingin sebuah senjata atau sebuah skill?"


"Jika saya menginginkan sebuah senjata maka senjata apa yang akan anda berikan kepada saya?"

__ADS_1


"Jika anda menginginkan senjata maka saya akan memberikan anda sebuah pedang."


Zen Kemudian mengeluarkan 10 pedang yang dia dapat dari dunia yang sebelumnya.


"Anda bisa memilih satu pedang yang anda inginkan."


"Apa anda serius?"


Tidak hanya sang putri, bahkan sang raja dan perdana menteri terkejut melihat pedang yang ditujukan oleh Zen. Hanya dengan melihatnya saja mereka tau kalau semua pedang yang dikeluarkan oleh Zen bukanlah pedang biasa.


Pedang itu setara dengan harta nasional yang dimiliki oleh kerajaan, dimana bahkan kerajaan Ignum hanya memiliki 1 saja.


"Saya serius, anda bisa memiliki saah satunya jika anda mau."


"Jika saya memilih skill, apa yang akan anda berikan?"


"Terserah anda, anda bisa menyebutkan skill yang anda inginkan dan saya akan memberikan nya."


"Apa mungkin untuk melakukan hal itu?"


Skill hanya bisa didapatkan melalui kerja keras dan keberuntungan, Memberikan sebuah skill adalah sesuatu yang belum pernah putri itu dengar sebelumnya.


"Jadi apa yang anda inginkan putri?"


"Aku menginginkan semuanya."


Tiba tiba sang raja berbicara dengan Zen.


"Maaf, kau tidak bisa melakukan itu. Kau hanya bisa memilih satu saja."


"Jika tidak bisa, maka aku akan mengambilnya dengan paksa."


Sang raja kemudian menyuruh para prajurit yang ada disana untuk bersiap menyerang Zen.


"Ayah, kau tidak bisa melakukan itu."


"Mengapa tidak bisa? Aku adalah seorang raja."


"Tidak ayah, kali ini kau tidak bisa melakukan hal itu kepada dia. Kau hanya akan membawa bencana untuk kerajaan."


Tifa dengan keras berusaha untuk membuat raja tidak menyerang Zen, namun sang raja tetap keras kepala dan sama sekali tidak mendengarkan Tifa.


Zen melihat kesekitarnya, semua prajurit mengarahkan senjata kepadanya. Zen melihat kearah sang putri yang terlihat sangat khawatir, dan menunjukan sebuah senyuman kecil kepada putri itu.


Zen kemudian sedikit mengangkat kakinya dan menghentakkan nya kelantai. Hentakan itu membuat Lantai dan dinding ruangan menjadi sedikit retak. Lalu dengan tajam Zen menatap sang raja.

__ADS_1


__ADS_2