
"Hei, namamu siapa?"
Dia hanya duduk termenung dan tidak melihatku sedikitpun.
"Kau tinggal dimana?"
Ak terus menerus menanyakan berbagai hal kepadanya, namun Perempuan itu tidak ada respon sedikitpun dari banyak pertanyaan. Aku tau tidak bertanya lebih banyak lagi akan lebih baik buat dirinya, tapi aku juga tidak bisa membiarkannya jatuh kedalam keputusasaan begitu saja.
"Hei, dimana kedua orang tuamu?"
Pertanyaanku Kali ini membuat dia melihatku, meski dia tidak mengatakan apapun tapi aku tau kalau yang membuat dirinya mengeluarkan ekspresi menyedihkan seperti itu ada hubungannya dengan orang tuanya.
"Hei bisakah kau memberi tauku apa yang terjadi dengan kedua orang tuamu, aku mungkin dapat membantumu."
"Benarkah?"
Sesuai dengan dugaanku kedua orang tuanya ada pasti ada hubungannya dengan ekspresi yang ditunjukan olehnya.
"Ya, jika kau mau bercerita apa yang sebenarnya terjadi"
"sebenarnya dua hari yang lalu pada malam hari sekumpulan bandit datang menyerang desaku, pada saat itu ibu menyuruhku untuk kabur dan berkata kalau dia dan ayah akan menyusulku nanti."
Dia berhenti bicara, mungkin cukup sulit baginya untuk mengatakannya. Namun jika dilihat dari situasinya saat ini tidak sulit untuk menebak sisa cerita yang belum dia bilang.
"Tapi sampai sekarang ibu dan ayah belum menyusulku."
Seperti dugaanku pasti itu yang terjadi, pasti sangat sulit buat dirinya. Dia bahkan sampai menangis hanya dengan mengatakan itu, Tapi menurutku menangis adalah hal yang terbaik buat dirinya dari pada mengeluarkan ekspresi yang tadi.
"Sudah berapa lama kau disini?"
"Dua hari"
Tadi dia bilang kalau desanya diserang oleh para bandit adalah dua hari yang lalu dan Dia sudah disini selama dua hari, berarti jarak dari sini ke desanya tidaklah terlalu jauh. Jika aku pergi dengan jalan kaki ke desanya mungkin kami akan sampai sore ini. Jika aku ingin membantunya maka aku harus mengatakan hal yang sebenarnya kepadanya meski dia mungkin tidak akan percaya dengan yang kukatakan.
"Karena kau sudah bercerita tentang apa yang terjadi, sesuai perkataanku maka aku akan membantumu."
"Benarkah?"
"Ya, tapi sebelum itu izinkan aku mengatakan satu hal kepada mu."
Aku harus mengatakannya sekarang, meskipun hal tersebut akan membuat wajah yang penuh dengan harapan itu menghilang aku harus tetap mengatakan yang sebenarnya kepadanya.
"Kemungkinan Kedua orang tuamu saat ini telah mati, apakah kau masih ingin bertemu dengan mereka?"
Aku sudah mengatakan hal yang mungkin paling tidak ingin dia dengar, semua tergantung padanya apakah dia akan percaya atau tidak. Tapi meskipun dia belum mengatkan apapun aku tau dia pasti tidak akan percaya dengan yang kukatakan.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan kau pasti berbohong pada ku, soalnya ibu bilang dia akan menyusulku dia tidak akan berbohong padaku?"
Perempuan ini sangat polos dia bahkan masih percaya dengan apa yang ibunya katakan, padahal jika dilihat dengan baik usianya mungjin sudah sekitar 15 tahunan.
"Kau begitu yakin kalau ibumu tidak akan berbohong kepada mu, kalau begitu dimana mereka, bahkan sampai sekarang kau masih belum bertemu dengan kedua orang tuamu. kalau begitu kemungkinannya hanya ada satu, yaitu kedua orang tuamu sudah mati."
"Kau... kau berbohong, ibu tidak akan mati karena dia telah berjanji padaku."
Walaupun dia bilang dia mempercayai kalau ibunya tidak akan berbohong padanya, tapi aku yakin kalau didalam hatinya saat ini dia tidak dapat menolak perkataanku karena itulah dia terus menangis.
"Kalau kau begitu tidak percaya padaku maka kita akan pergi kedesamu, apa kau masih ingat jalannya?"
"Aku masih ingat jalannya'
"Bagus, tunjukan aku jalannya. Tapi sebelum itu makan dan minum ini."
Aku memberinya sisa daging bakarku dan potion tingkat menegah untuk menyebuhkan kakinya.
"Aku tidak mau makan dan minum, aku mau menemui ibu dan ayah."
Dia menolak dan memberikan kepadaku lagi daging dan potion yang kuberikan kepadanya. Sungguh gadis yang cukup keras kepala, apa dia tidak tau kalau dengan dirinya yang tidak memiliki tenaga dan kakinya yang terluka hanya akan memperlambatnya untuk sampai ke desanya.
"Setidaknya minum obat dibotol itu untuk menyebuhkan kakimu, dengan kaki yang terluka seperti itu kau hanya akan memperlambat kita untuk sampai ke desamu."
Hanya beberapa langkah dia berjalan meninggalkan batu itu dia sudah tidak sanggup untuk berjalan lagi dikarenakan dia tidak memiliki tenaga untuk berjalan.
"Bagaimana? Dengan dirimu yang sekarang kau hanya akan memperlambat kita untuk sampai ke desamu. Apakah kau masih tidak ingin makan?"
Aku memberikannya lagi daging yang tadi dikembalikannya.
"Baiklah aku akan memakannya"
Mekipun dia keras kepala tapi sepertinya dia tidak bodoh. Dia tau apa hal terbaik yang harus dilakukan. Dia memakan daging bakar itu dengan perlahan, setelah semua hal yang telah dilaluinya dia sepertinya tidak memiliki nafsu makan. Tapi makan merupakan hal penting baginya saat ini, dia harus segera mengembalikan tenaganya jika ingin pergi ke desanya.
"Ngomong ngomong namamu siapa?"
Aku kembali menanyakan hal yang yang sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya, dengan keadaanya yang sekarang dia pasti akan menjawab pertanyaanku.
"Namaku ziyun, kalau kau siapa?"
"Namaku zen, karena kau sudah selesai makan ayo kita pergi ke desamu ziyun"
"Iya"
__ADS_1
^^^^ ^^^^
Padang rumput ini tidak memiliki banyak monster, kebanyakan monster tinggal dihutan dan digunng salju abadi. Dengan sedikitnya jumlah monster yang ada dipadang rumput itu jadi lebih memudahkan kami untuk sampai kedesa dengan cepat.
"Zen desaku ada disepan sana"
Ziyun memberi tauku kalau desanya ada didepan, tak disangka ternyata desanya cukup dekat dengan gunung salju abadi. Dari sini aku dapat melihat gunung itu dengan jelas, gunung tinggi dengan permukaan yang berwarna putih karena tertutup oleh salju.
Saat kami sudah dekat dengan desa ziyun langsung berlari, aku langsung mengejarnya dengan cepat. Setelah memasuki desa aku menurunkan kecepantanku dan melihat pemandangan yang mengerikan, darah dan mayat ada dimana mana. Ada yang mati terbakar, ada yang mati terkena tebasan sungguh pemandangan yang mengeriakan.
Dari ke jauhan aku melihat ziyun menangis, tanpa dilihat dari dekatpun aku tau apa yang membuatnya menagis. Aku berjalan perlahan mendekati ziyun, didepan ziyun aku melihat mayat seorang wanita dan seorang pria.
"Apa dia ibu dan ayahmu?"
"Iya"
"Apa yang kau rasakan setelah melihat mayat ibu dan ayahmu?"
"Aku ingin Mati"
Dia mengiginkan hal yang paling tidak diinginkan oleh ibunya, setelah menunggu kedua orang tuanya selama dua hari dipadang rumput itu dan hari ini dia melihat mayat mereka dengan matanya sendiri hatinya pasti dipenuhi kehampaan.
"Kenapa? Bukankan ibumu ingin kau hidup? Apakah kau akan melawan ke inginannya?"
Bagiku ibu dan ayah adalah segalanya untukku, tanpa mereka aku tidak tau apa yang harus kulakuakan mulai sekarang
Aku sedikit mengerti apa yang dia rasakan karena aku sendiri juga pernah merasakan hal itu juga.
"Tapi ziyun kau tidak boleh mati, kau harus hidup seperti yang dinginkan oleh ibumu. Kau harus membuka lembaran baru untuk kehidupanmu."
"Tapi tanpa mereka aku tidak bisa apa apa, lalu apa yang harus kulakukan?"
Ziyun menangis dengan keras, aku tidak akan menghentikan tangisannya karena itulah yang dia butuhkan saat ini. Aku seketika memeluk ziyun dengan erat .
"Mulai saat ini aku akan menjaga dan melindungimu ziyun"
"Benarkah?"
"Ya, karena itu teruslah hidup jangan membuat pengorbanan kedua orang tuamu menjadi sia sia."
Ditengah sebuah desa yang sudah hancur tangisannya menggema dengan keras ditemani dengan air mata yang terus mengalir. Mulai sakarang ziyun akan membuka lembar kehidupan yang baru dengan langit yang berwarna orange sebagai saksinya.
__ADS_1