
Zen memberikan tantangan kepada Kufa dan Accua untuk menyerang dirinya secara bersamaan. Mendengar perkataan Dari Zen, Sieg menjadi sedikit kesal. Sieg merasa kalau dirinya sama sekali tidak dianggap ada disitu oleh Zen.
"Hoi, apakah matamu buta? Tidakkah kau melihat ada aku disini? Jadi mengapa tidak membiarkanku bergabung dengan mereka berdua?"
Dengan sedikit kesal Sieg pun memberikan saran kepada Zen.
"Tidak, aku dapat melihatmu dengan jelas disitu. Hanya saja aku tidak bisa membiarkanmu bergabung dengan mereka berdua. Lagi pula kau tau bukan kalau kekuatanmu jauh lebih kecil dari Kufa. Jika kau bergabung dengan mereka berdua kau hanya akan menjadi penghalang bagi mereka."
Lagi pula Zen saat ini ingin mengetahui kekutan penuh dari Kufa dan Accua. Jadi Zen tidak ingin ada keberadaan yang menghalangi mereka berdua untuk mengaluarkan kekuatan penuhnya.
"Memang benar kekuatanku jauh lebih lemah dari Kufa, tapi kurasa kau tidak perlu khawatir mengenai itu. Lagi pula aku memiliki pedang terkutuk ini, dengan pedang ini aku mungkin dapat membunuhmu. Jadi bagaimana jika kau membiarkanku bergabung dengan mereka?"
"Itu adalah perkataan yang cukup menarik, seberapa besar kekuatan pedang itu yang dapat kau gunakan hingga kau dapat mengatakan sesuatu yang menarik seperti itu?"
"Tidak banyak, mungkin hanya sekitar sepuluh sampai dua puluh kekuatan aslinya."
"Hmm, untuk orang yang baru saja dapat menggunakan pedang terkutuk mungkin itu sudah cukup lumayan."
Sekitar sepuluh sampai dua puluh persen dari kekuatan asli pedang terkutuk itu sudahlah besar bagi manusia. Jika dibandingan dengan standar manusia didunia ini, maka kekuatan Sieg mungkin setara dengan petualang Rank S.
"Baiklah kurasa kau dapat bergabung dengan mereka berdua. Jadi bagaimana jika kita memulainya sekarang Kufa?"
"Tidak, kurasa kami tidak akan melawanmu sekarang."
"Heh? Kenapa Kufa? Kita bertiga pasti dapat mengalahkannya."
Sieg berbicara kepada dengan Kufa dengan sedikit keras, Sieg yakin kalau mereka dapat mengalahkan Zen. Namun pendapat Sieg berbeda dengan pendapat Kufa, Kufa yakin kalau mereka yang saat ini bukanlah tandingan untuk Zen.
"Meski kita bekerja sama untuk menyerangnya kita tepat tidak akan dapat mengalahkannya."
Perbedaan kekuatan mereka terlalu besar, bahkan jika ada seratus orang disana mereka tepat tidak akan dapat mengalahkan Zen. Apalagi mereka saat ini hanya bertiga saja, namun akan beda cerita jika Sieg dapat menggunakan Seratus persen kekuatan pedang terkutuk.
Juga Kufa dan Accua dapat menggunakan seratus persen kekuatan pelayan mereka. Dengan begitu mereka bertiga mungkin akan sedikit dapat memberikan perlwanan kepada Zen.
Namun kenyataannya saat ini adalah mereka bertiga sama sekali tidak akan dapat memberikan perlawanan kepada Zen.
"Kau tidak perlu khawatir Kufa, kali ini aku tidak akan menggunakan pelayanku. Juga aku tidak mungkin membunuh kalian sekarang, kalian adalah pemeran penting dari peristiwa yang akan terjadi setelah ini. Jadi kau tidak perlu khawatir."
Sebagai bentuk dari keringanan, Zen tidak akan menggunakan pelayannya saat melawan mereka bertiga.
"Apakah kau serius?"
Accua yang pertama kali menanggapi perkataan Zen, sedangkan Kufa hanya diam saja.
"Ya tentu saja aku serius."
"Kalau begitu meski Kufa tidak berniat melawanmu aku akan tetap menyerangmu."
__ADS_1
Accua mengambil pedang cadangannya didalam ruang penyimpanan miliknya, pedang utama milik Accua sudah dihancurkan oleh Zen tadi.
"Bersiaplah untuk kalah."
"Haha, itulah yang dinamakan semangat."
Accua menuju kearah Zen dengan cepat.
"Tch, dasar bodoh. Sieg kau juga seranglah dia."
"Baiklah Kufa."
Kufa dan Sieg juga menuju kearah Zen dengan cepat.
Pedang Zen dan Accua terus menerus mengeluarkan percikan api, bunyi nyaring terus terdengar. Zen melihat Kufa dan Sieg menuju kearahnya dengan cepat.
"Sepertinya akan sulit untuk melawan kalian semua dengan satu pedang saja."
Zen mengeluarkan pedang suci miliknya. Bukan berarti Zen akan kalah jika hanya menggunakan satu pedang saja, Hanya saja sejak awal Zen hanya ingin mengukur kekuatan Kufa dan Accua.
Jika Zen hanya menggunakan satu pedang saja maka bisa saja Zen tanpa sengaja tidak menahan kekuatannya dan membunuh mereka berdua. Itu adalah hal paling ingin Zen hindari, karena itulah dia memutuskan untuk menggunakan dua pedang.
'Itu pedang suci? Apanya yang tidak akan menggunakan pelayan, bukankah sama saja hasilnya jika dia menggunakan pedang itu?'
Kufa adalah orang yang pertama menyadari kalau pedang kedua yang dipegang Zen adalah pedang suci. Kufa tau kalau pedang itu lebih kuat dari pada pelayan yang digunakan oleh Zen untuk menahan serangan Petrius.
Mereka bertiga terus menerus menyerang Zen dengan sekuat tenaga. Namun seperti sedang menari Zen dengan mudah dapat menahan serangan mereka bertiga.
"Cih sungguh merepotkan. Dark blade!"
Sieg mengeluarkan salah satu sihir yang dapat digunakan dengan menggunakan pedang terkutuk. Namun begitu Sieg mengeluarkan sihir itu, pedang terkutuk itu sama sekali tidak mengeluarkan respon.
"Tidak keluar?! Apa yang terjadi?"
Sieg kebingungan karena sihir yang dia gunakan tidak keluar.
"Bodoh, didalan penghalang ini sihir sama sekali tidak berfungsi."
Itu adalah penghalang yang Zen buat sebelum Accua menyerang dirinya. Didalam penghalang itu sihir sama sekali tidak dapat digunakan sama sekali. Bisa dibilang penghalang iti seperti sihir dispel dalam skala yang sangat besar, setiap sihir yang akan digunakan pasti akan ternetralkan.
Tentu saja tidak ada yang dapat melihat penghalang itu selain Zen, penghalang itu memiliki bentuk sebuah lingkaran dengan diameter sekitar dua ratus meter. Sama seperti sihir waktu, penghalang ini tidak dapat digunakan oleh sembarangan orang. Itu karena mana yang dibutuhkan sangatlah besar, selama penghalang ini masih aktif mana Zen akan terus menerus berkurang.
"Jika sihir tidak dapat digunakan maka bagaimana dengan yang ini. Datanglah Petrius!!"
Kufa mengeluaran pelayannya, sebuah pedang besar terbang diatasnya.
"Kalau begitu aku juga. Datanglah Tiamat Albus!!"
__ADS_1
Accua juga memanggil pelayan miliknya, sebuah naga berkepala empat berbang dibelakangnya.
"Petrius dan Tiamat ya? Mereka memanglah kuat, Tapi..."
Petrius menuju karah Zen dengan cepat, Sedangkan Tiamat mencoba menyerang dengan sihir miliknya. Namun sama seperti yang dialami oleh Sieg, Tiamat tidak dapat mengeluarkan sihir miliknya.
"Apa? Bagaimana mungkin?"
Accua kaget karena Tiamat tidak dapat menggunakan sihir miliknya.
"Bukankah sudah kubilang kalau sihir tidak dapat digunakan saat ini. Jadi Tiamat tidak akan berguna."
Berbeda dengan Petrius yang menggunakan tubuhnya untuk menyerang, Tiamat menyerang dengan menggunakan sihir. Tidak peduli sekuat apa sihir Tiamat, dia tetap tidak akan dapat menggunakan sihir selama dia berada didalam penghalang Zen.
"Dan untuk Petrius... "
Zen menyerang Petrius yang menuju kerahnya itu. Zen memotong Petrius dengan pedang suci miliknya.
"Ini hanyalah sebagian kecil dari kekuatan aslinya, bahkan tanpa sihir dari pedang suci aku masih dapat memotongnya."
Mereka bertiga terdiam, tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan. Sihir tidak berguna dan satu satunya yang dapat digunakan adalah seni berpedang murni. Meski mereka dapat menggunakan seni pedang murni yang tanpa sihir, Namun seni berpedang mereka sangat jauh berada dibawah Zen.
Tidak ada yang dapat mereka lakukan saat ini, yang dapat mereka lakukan saat ini hanyalah diam sambil memikirkan cara untuk melawan Zen. Namun tidak peduli sebanyak apa mereka berfikir, mereka masih tidak dapat menemukan caranya.
"Sepertinya kalian tidak akan menyerang lagi. Kalau begitu sekarang giliranku yang menyerang kalian."
Zen menyimpan kedua pedang miliknya, dia akan menyerang mereka dengan tangan kosong. Jika Zen menyerang mereka dengan pedang maka mereka mungkin bisa saja mati.
"Sekarang bersiaplah."
Zen bergerak dengan cepat, dalam hitungan detik dia sudah berada didepan Sieg. Zen mengarahkan pukulannya keperut Sieg, Sieg yang terkena pukulan itupun terlempar cukup jauh.
"Satu... "
Sieg telah disingkirkan, kini Zen bergerak kearah Kufa dengan cepat. Sama seperti Sieg, Zen mengarahkan pukulannya keperut Kufa. Kufa pun terlempar juga.
"Dua... "
Terakhir Zen menuju kearah Accua. meski tidak dapat melihat Zen, Accua mengarahkan pedangnya secara acak Kearah depannya. Namun pedang miliknya itu terhentikan oleh jari tangan kiri Zen.
"Ini adalah yang terakhir."
Zen mengarakan pukulannya kearah Accua.
"Berhenti Zen!!"
Suara teriakan perempuan terdengar begitu Zen mengarahkan pukulannya kearah Accua. Namun sayangnya suara itu sangat terlambat, Zen tidak lagi dapat menahan pukulannya. Dan sama seperti yang lainnya, perut Accua terkena pukulan dari Zen dan dia pun terlempar juga.
__ADS_1