
Zen mencari kapal kapal yang akan berangkat ke benua Arca, setelah cukup lama mencari Zen akhirnya menemukan kapal yang akan berangkat.
Zen membayar 50 koin emas untuk dapat ikut didalam kapal, dengan 50 koin emas itu Zen telah mendapatkan makan dan tempat tidur.
Zen pergi menuju kamar yang akan dia tinggali, Didalam kamar itu telah ada seorang pria yang sedang mengelapi pedang miliknya
"Apa kau juga ingin pergi ke benua Arca?"
Tanya pria itu kepada Zen.
"Iya, aku ada sedikit urusan disana. Ah, perkenalkan nama saya Zen Cavalier."
Zen menjulurkan tangannya kearah pria itu, pria itupun langsung memegang tangan Zen.
"Namaku Grim Vanevara, kau bisa memanggilku Grim. salam kenal."
"Grim, maafkan aku jika pertanyaanku kurang sopan. Kenapa kau pergi ke benua Arca?"
"Aku adalah buronan dibenua ini, jadi aku pergi ke benua lain untuk dapat bebas."
"Bagiku kau tidak terlihat seperti buronan."
Jika Grim memang benar seorang buruan dibenua Arcana ini maka mustahil baginya untuk dapat pergi meninggalkan benua ini.
Jangankan meninggalkan benua, untuk dapat masuk ke kapal ini saja dia mungkin akan sangat kesulitan.
"Yah, bukan berarti aku buronan yang terkenal. Hanya beberapa orang saja yang menginginkan ku."
"Begitu ya."
Itu menjelaskan mengapa Grim dapat masuk ke kapal ini meskipun dia adalah seorang buronan.
Zen melihat pedang yang ada ditangan Grim, itu adalah pedang epic tingkat 1. Bagi manusia di dunia kecil mungkin itu adalah pedang yang cukup sulit untuk didapat.
"Itu adalah pedang yang cukup bagus, dimana kau mendapatkan nya?"
"Aku yang membuat sendiri pedang ini."
"Apa itu alasan mengapa kau menjadi seorang buronan?"
"Iya."
Tiba tiba kapal bergetar dengan Karas, Zen dan Grim kaget karena getaran itu. Mereka berdua kemudian pergi ke geladak kapal.
Cukup banyak orang berada disana, mereka semua sedang melawan sebuah monster berbentuk gurita. Tentakel gurita itu secara perlahan mulai menekan kapal dan membuat beberapa kerusakan.
Sebagian orang menyerang gurita itu dengan sihir dan sebagian yang lain mengerang dengan senjata mereka.
Zen dan Grim hanya melihat tanpa membantu sedikitpun.
"Apa kau tidak akan membantu Grim? Pedang milikmu seharusnya dapat membuat gurita itu terluka cukup parah."
"Kau sendiri bagaimana Zen?"
Sebuah tentakel mendekati mereka, Zen mengarahkan jarinya ketentakel itu dan sebuah api hitam kecil langsung membakar tentakel itu.
"Untuk saat ini aku akan melihat saja."
__ADS_1
"Begitu."
Grim meninggalkan Zen dan membantu yang lain.
"Coba kulihat, Apa mereka dapat mengalahkan monster rendahan itu."
Seperti orang yang sedang menonton film di bioskop, Zen melihat pertarungan antara para manusia dengan gurita itu. Zen sangat menikmati apa yang dia lihat.
Ditempat pertarungan, para penyihir terus menyerang mengunakan bebagai sihir. Sihir yang mereka keluarkan tidak terlalu berdampak terhadap gurita itu.
Disisi lain, dengan pedang ditangannya Grim terus menyerang tentakel gurita itu. Akibat serangan Grim, gurita itu menderita beberapa luka parah. Meski begitu gurita itu tetap berusaha untuk menghancurkan kapal.
Dari sebuah pintu keluar beberapa orang dengan perlengkapan penuh, mereka dengan cepat langsung menyerang gurita itu.
Serangan mereka membuat gurita menjadi terluka sangat parah. Zen sedikit tersenyum melihat mereka semua berusaha dengan keras.
"Sepertinya sudah hampir selesai."
Setelah Zen berkata seperti itu 2 buah gurita yang lain muncul. Semua orang menjadi kesulitan untuk melawan 3 gurita sekaligus, dan kerusakan yang ada di kapal secara perlahan mulai menjadi parah.
"Sepertinya tidak aku harus turun tangan Sekarang."
Zen tidak bisa membiarkan kapal menjadi rusak lebih parah lagi, karena bagaimanapun dia harus sampai kebenua Arca.
Zen mengeluarkan pedang miliknya, dia langsung membelah gurita yang tadinya terluka parah menjadi banyak bagian.
Zen kemudian menginjakkan kakinya keatas permukaan laut. Dia dengan cepat membunuh kedua gurita yang lain.
Orang orang yang melihat hal itu menjadi sedikit bingung, 3 ekor gurita yang dengan susah payah mereka lawan dapat dengan mudah dibunuh oleh Zen.
"Bukankah itu tadi sangat cepat?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apa ini mimpi?"
"Aku ingin belajar darinya."
"Apa yang terjadi tadi? Aku benar -benar binggung."
Banyak perkataan seperti itu dapat didengar, namun Zen sama sekali tidak memperdulikannya dan dia langsung kembali ke kamarnya.
Tidak lama setelah itu, Grim kembali juga kekamar. Dia langsung duduk didepan Zen dan menatap nya.
"Jika kau memiliki kekuatan sebesar itu mengapa kau tidak membantu sejak awal?"
"Jika aku membantu maka kalian tidak akan mendapatkan apa apa."
Pengalaman bertarung adalah sesuatu yang cukup penting untuk dapat terus bertahan di dunia yang kejam ini, Zen ingin melihat seberapa lama mereka dapat bertahan melawan gurita yang jauh lebih kuat dari mereka.
"Begitu ya."
Grim sedikit mengerti tentang maksud dari tindakan Zen.
"Pedangmu itu bukan pedang biasa bukan?"
"Maksudmu pedang ini?"
__ADS_1
Zen mengeluarkan pedangnya dan menunjukannya kepada Grim.
"Ini pedang yang bagus, dari mana kau mendapatkan nya?"
Hanya dengan melihatnya saja Grim tau kalau pedang milik Zen jauh lebih kuat dari pedang miliknya.
"Itu adalah rahasia."
"Hmm."
"Ngomong ngomong Grim, bukankah kau tadi mengatakan kalau kau sendiri yang membuat pedang milikmu?"
"Iya, aku memang mengatakannya itu tadi."
"Bagaimana cara kau membuatnya?"
"Apa yang kau maksud dengan bagaimana caranya?"
"Ah, maaf. Yang ku maksud apakah kau membuatnya dengan sistem atau dengan menempanya."
Membuat senjata bisa dengan menggunakan 2 cara, cara pertama adalah dengan menggunakan sistem. Hanya saja untuk dapat menggukan sistem harus memiliki skill blacksmith. Sedangkan cara yang kedua adalah dengan menempanya sendiri seperti halnya para pandai besi pada umumnya.
"Aku menempanya sendiri."
"Mengapa? Bukankah dengan menggunakan sistem akan menjadi lebih mudah? Atau mungkin aku tidak memiliki skillnya."
"Aku mempunyai skillnya, dan memang benar jika menggunakan sistem akan menjadi sangat mudah. Hanya saja menggunakan sistem ada batasannya."
"Batasan?"
tentu saja Zen tau tentang batasan yang Grim maksud, hanya saja Zen ingin mengetahui seberapa banyak Grim meneliti hal itu.
"Iya, jika dengan sistem aku tidak akan dapat membuat pedang seperti ini."
Grim menunjukkan pedang epic tingkat satu miliknya.
"Dengan sistem senjata tingkat super epic adalah batasannya."
Berbeda dengan tingkat senjata yang ada di dunia luas, tingkatkan senjata di dunia kecil terbagi sebagai seperti ini.
Senjata suci (didunia luas disebut senjata dewa)
Senjata Rare epic (dunia didunia luas disebut senjata epic)
Senjata Super Epic
Senjata Epic
"Jadi maksudmu dengan membuatnya sendiri maka akan dapat melampaui batasan yang dibuat oleh sistem?"
"Iya, itulah yang kusimpulkan menurut pengalamanku."
Zen sedikit tersenyum mendengar perkataan Grim, di dunia kecil sangat jarang bagi Zen untuk dapat menemukan orang dengan pemikiran seperti Grim.
Normalnya orang hanya akan menggunakan sistem untuk mempermudah hidupnya, namun Grim lebih memilih untuk menggunakan usahanya sendiri dari pada sistem.
"Aku menyukaimu, karena itulah aku akan memberitaumu fungsi dari sistem yang sebenarnya."
__ADS_1