
Pertarungan antara Zen dan Kufa diawali dengan serangan Kufa yang mematikan. Debu debu yang tadinya berterbangan kini mulai menghilang.
"Itu pedang suci bukan? Dan juga kurasa itu adalah pedang suci yang ada diistana kekaisaran."
"Heh, tak kusangka kau mengetahui pedang ini. Apakah kau pernah melihatnya?"
"Iya, aku pernah melihatnya meski hanya beberapa kali."
Tentu saja Zen sedikit berbohong mengenai itu, Zen telah melihat pedang itu tidak hanya sepuluh kali ataupun dua puluh kali. Tapi Zen telah melihat pedang itu lebih dari lima puluh kali, bagaimanapun juga dulunya pedang itu merupakan pedang yang digunakan oleh ayahnya. Jadi Zen bisa dengan mudah melihat pedang itu saat ayahnya berada dirumah.
"Begitu ya, jadi apa tertarik untuk menggunakan pedang ini?"
Kufa mengangkat pedang suci itu dan mengarahkannya kepada Zen.
"Tidak, aku tidak cocok dalam menggunakan pedang itu. Aku lebih cocok menggunakan pedang ini."
Zen yang dulu pasti akan langsung merebut pedang suci itu dari Kufa, bagaimanapun Zen dulu selalu ingin mengambil kembali kembali pedang suci dan terkutuk milik kedua orang tuanya. Namun sekarang Zen sama sekali sudah tidak memiliki perasaan itu, semenjak dia menjadi leluhur pertama Vampire Zen tidak lagi memiliki keinginan untuk membalaskan dendamnya.
"Itu pedang terkutuk bukan?"
Kufa bertanya kepada Zen dengan nada yang terdengar cukup kebingungan.
"Iya, ini pedang terkutuk."
"Apakah kau manusia?"
Itu adalah pertanyaan yang sangat wajar bagi Kufa, meski pada awalnya dia merasa kalau Zen bukanlah manusia tapi dia menjadi ragu begitu melihat Zen memegang pedang terkutuk.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?"
"Itu karena kau memegang pedang terkutuk."
Meski namanya adalah pedang terkutuk tapi bukan berarti pedang itu dapat digunakan oleh ras iblis ataupun ras vampire. Sama seperti pedang suci, pedang terkutuk hanya dapat digunakan oleh manusia. Itulah yang membuat Kufa bertanya apakah Zen manusia atau bukan.
"Ah karena ini ya? Tapi kau salah, aku yang sekarang bukanlah seorang manusia."
"Yang sekarang? Apa maksudmu? Katakan padaku apa rasmu?"
"Yah kurasa juga tidak ada salahnya memberi taumu. Rasku yang sekarang adalah vampire, aku bukanlah seorang manusia. Mungkin lebih tepat jika kau menyebutnya sebagai mantan manusia."
"Apa?!"
Kufa terkejut dengan kebenaran yang dia dengar, dia tidak menyangka kalau seorang vampire dapat menggunakan pedang terkutuk.
__ADS_1
Lagi pula Kufa tidak mengetahui sedikitpun tentang Zen semasa dia masih manusia. Bagaimanapun juga kedua orang tua Zen adalah pengguna pedang suci dan pedang terkutuk. Dilahirkan dari orang tua seperti itu membuat Zen ditakdirkan dapat menggunakan pedang suci ataupun terkutuk sejak dia dilahirkan.
Tidak peduli apa ras Zen yang sekarang, itu tidak akan dapat mengubah takdirnya yang telah ditetapkan sejak dia lahir.
"Jika kau seorang Vampire, jangan bilang kalau kau adalah... "
Kufa tidak ingin mempercayai apa yang dia pikirkan saat ini, karena itulah dia tidak mengatakan semua yang ingin dia katakan.
"Seperti yang pikirkan, Aku adalah leluhur pertama vampire yang sekarang."
Zen menunjukan senyuman kecil namun terkesan mengerikan kepada Kufa.
"Haha .... haha.... haha."
Setelah mendengar perkataan Zen, Kufa tertawa menghadap kelangit.
"Kebetulan sekali, jika aku membunuhmu sekarang maka dapat membalaskan dendamku sekaligus menyelesaikan misi ini. Mungkin itulah yang disebut dengan sekali lempar dua burung kena."
"Mungkin memang benar begitu, tapi apakah bisa membunuhku?"
" Tentu saja aku bisa melakukannya."
Kufa mengarah kearah Zen dengan sangat cepat.
"Hoo, kalau begitu aku sangat menantikannya."
Kufa terus menyerang Zen dari berbagai sisi, mulai dari atas, bawah, kiri maupun kanan. Namun sampai sekarang belum ada satupun serangannya yang dapat mengenai Zen, itu karena setiap kali Kufa menyerang Zen dapat menahannya dengan tepat.
"Ngomong ngomong, dimana sekarang pedang terkutuk yang tersegel dengan pedang suci itu?"
Sambil menahan serangan dari Kufa, Zen bertanya seolah olah dirinya sedang bermain.
Meski Zen sudah tidak memiliki keinginan terhadap pedang suci yang dipegang Kufa, namun Zen saat ini menginginkan pedang terkutuk yang disegel bersama pedang suci itu diistana kekaisaran.
"Aku tidak akan penah memberitaunya kepadamu."
Kufa berkata kepada Zen dengan keras sambil terus menerus menyerangnya.
"Begitu ya, jika kau tidak ingin memberutaunya berarti pedang itu saat telah dimiliki oleh seseorang. Mungkin orang itu adalah pahlawan yang terpanggil sama sepertimu, yang berarti dia pasti berada disekitar sini."
Mendengar tebakan Zen, Kufa menggerutkan keningnya. Dengan Kufa yang mengertukan keningnya, dia telah membuat kesalah. Sikapnya itu dapat memberikan beberapa informasi kepada Zen, dan itu membuat Zen menjadi sangat yakin kalau pedang terkutuk berada disekitarnya.
"Jadi benar ya? Kurasa aku akan mencarinya sekarang."
__ADS_1
Zen mencoba untuk mengambil jarak dari Kufa, tapi Kufa tidak membiarkan Zen mengambil jarak darinya.
"Kau pikir kau dapat pergi dariku!"
Kufa menyarang Zen dengan kekuatan yang besar, Zen manahan serangan itu dengan pedang terkutuknya. Tidak mudah bagi Zen untuk menarik pedangnya sekarang, jika Zen menariknya sekarang maka pedang suci milik Kufa akan menebas badanya.
Meski Zen abadi namun dia masih dapat merasakan rasa sakit dari luka yang dia terima. Lagi pula Zen bukanlah orang yang menyukai rasa sakit, jadi dia memutuskan tidak akan menarik pedangnya saat ini sebelum Kufa menurunkan kekuatannya.
"Ngomong ngomong Kufa, bisakah kau membiarkanku pergi?"
"DIAMLAH! Aku tidak akan membiarkanmu pergi."
Kufa berteriak dengan Kuat.
"Tapi kau tau bukan Kufa, kalau kau tidak akan dapat menahanku dalam waktu yang lama?"
"Aku tau, karena itu akan menggunakan kekuatanku yang lain.
Datanglah Petrius."
Begitu Kufa memanggil namanya, pelayan itu langsung keluar dari tubuhnya. Pelayan itu memiliki bentuk sebuah pedang besar.
"Bunuh dia Petrius."
Mendengar perintah dari Kufa, Petrius mengarah kearah Zen dari atas. Petrius mencoba untuk membelah tubuh Zen, namun....
"Datanglah Shikin!"
Zen memanggil pelayan ketujuh miliknya, dengan jubah hitam pekat yang menyelimuti tubuhnya dan dengan sabit ditangannya Shikin menahan serangan dari Petrius.
"Yang benar saja."
Kata kata itu terucap oleh Kufa tanpa disadarinya. Petrius adalah kartu as nya saat ini, namun sekarang Petrius dapat dengan mudah ditahan oleh pelayan milik Zen.
"Yah, kurasa untuk saat ini sudah cukup lumayan."
Zen menendang perut Kufa dengan sangat cepat, sangking cepatnya Kufa bahkan tidak dapat merepos sedikitpun serang Zen itu.
Kufa terhempas jauh karena serangan dari Zen itu.
"Petrius ya? Sudah berapa lama aku tidak melihatnya?"
Zen melihat keatas, dia melihat pelayan yang memiliki bentuk pedang itu. Pedang itu secara perlahan mulai menghilang.
__ADS_1
"Yah kurasa tidak ada gunanya memikirkan hal itu."
Zen berjalan kearah Kufa secara pelahan.