Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Tubuh Yang Terbangun


__ADS_3

Setelah Zen melemparkan ketiga mahkota itu mereka bertiga menuju ruang bawah tanah tempat tubuh Theresia berada. Sama seperti sebelumnya sampai saat ini Bifrost masih tidak sadarkan diri meski sebagian lukanya telah disembuhkan oleh Zen, pada awalnya Zen mengatakan kalau lebih baik meninggalkan Bifrost dan menjemputnya nanti. Namun Hao Chen mengatakan kalau dia yang akan membawa Bifrost, pada akhirnya Zen menyetujui apa yang Hao Chen inginkan dan membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan.


Sejak saat itu Hao Chen terus membawa tubuh Bifrost dengan menggunakan energi spiritual miliknya atau mungkin akan lebih mudah jika dikatakan seperti telekinesis.


Setelah beberapa saat berjalan di lorong yang gelap mereka akhirnya sampai kesebuah pintu yang besar, berbeda dengan lorong yang gelap itu dibalik pintu adalah sebuah ruangan yang sangat terang. Ditengah ruangan itu terdapat sebuah es besar yang tidak akan mencair, didalam es itu terdapat seorang perempuan cantik dengan rambut putihnya yang panjang.


Perempuan itu adalah tujuan Zen datang kesini, nama perempuan itu adalah Theresia Avilia.


Mereka bertiga melihat Theresia yang tertidur didalam es itu, tidak ada satupun yang berbicara. Zen lalu menyentuh es itu dan menatap wajah Theresia dengan lembut.


"Zen, bagaimana caramu mengembalikan jiwa Theresia kedalam tubuh itu? Sepertinya ada penghalang pada es ini."


Ling Hao tidak terlalu tau mengenai sihir, namun dia dapat melihat terdapat sebuah penghalang yang mengelilingi es itu.


"Itu adalah hal yang mudah."


Zen lalu mengalirkan mana miliknya kedalam es itu, beberapa lingkaran sihir yang mengelilingi es itu merespon mana Zen dan mulai terlihat. Lingkaran sihir itu adalah sumber terbentuknya penghalang jiwa, dengan adanya penghalang itu jiwa Theresia tidak akan dapat kembali ketubuhnya.


"Ini adalah lingkaran sihir yang cukup bagus, namun ini tidak ada apa apa dihadapan ku."


Zen lalu membuat sebuah luka diujung jarinya, luka itu mengeluarkan darah yang cukup banyak. Dengan darah itu Zen menulis sebuah kalimat pada lingkaran sihir itu 'para dewa selalu benar dan ujung dari takdir kehidupan adalah kematian.'.


Darah Zen terserap kedalam lingkaran sihir itu, Zen lalu menulis sebuah kalimat lagi 'kekosongan bukankah sebuah akhir malainkan sebuah awal, mereka yang tidak bisa kembali harus kembali'.

__ADS_1


Darah itu kembali terserap kedalam lingkaran sihir itu, darah darah itu lalu mengeluarkan mana dalam jumlah yang besar dan kembali muncul dipermukaan Lingkaran sihir. Zen lalu mencoret 2 kalimat itu dengan darahnya. Lingkaran sihir terus menerus berubah warna, Zen lalu menyentuh lingkaran sihir itu dan terus menerus mengalirkan mana miliknya.


Lingkaran sihir itu adalah sesuatu yang dibuat oleh Kreiz, jadi secara alami didalam lingkaran sihir itu mengandung mana milik Kreiz. Dengan Zen memasukan mana miliknya kedua mana itu lalu saling menghancurkan satu sama lain.


Setelah cukup banyak Zen mengalirkan mana nya, mana milik Kreiz sudah hampir hilang semua dan lingkaran sihir itu mulai retak. Retakan pada lingkaran sihir itu semakin banyak dan akhirnya lingkaran sihir itu hancur.


"Penghalang nya sudah menghilang, sekarang saatnya giliranmu Theresia."


Theresia yang ada didalam tubuh Zen dapat dengan jelas mendengar apa yang Zen katakan, Theresia lalu memfokuskan dirinya dan jiwanya berubah menjadi seperti sebuah api biru yang membara. Api itu lalu keluar dari tubuhnya Zen dan bergerak menuju bongkahan es itu, api itu lalu melewati es itu seperti tidak melewati apapun dan masuk kedalam tubuh Theresia.


"Apa yang terjadi? Apa gagal?"


Sudah beberapa menit berlalu semenjak jiwa Theresia kembali ketubuhnya, namun selama waktu itu sama sekali tidak ada yang terjadi.


"Mana mungkin, seharusnya sebentar lagi dia akan terbangun."


Beberapa saat kemudian seperti yang Zen katakan didalam es itu Theresia mulai membuka matanya, Theresia lalu mengucapkan sebuah kalimat yang tidak dapat Zen dengar dengan baik. Es yang mengelilingi tubuhnya langsung hancur tak tersisa, mata biru seperti lautan yang bening milik Theresia menatap Zen dengan lembut.


Itu adalah sebuah kelembutan yang terlihat sedih namun disatu sisi juga terlihat senang, itu tatapan yang memperlihatkan sebuah kepuasan dan kasih sayang yang mendalam. Theresia lalu tersenyum kecil kepadanya Zen, air mata sedikit demi sedikit mulai berjatuhan. Theresia hanya diam ditempatnya sambil menangis, Zen berjalan mendekati Theresia dan mengelus kepalanya.


"Selamat datang kembali Theresia."


Sebuah senyuman manis muncul diwajah Zen, Theresia yang melihat senyuman itu secara perlahan mulai berhenti menangis dan menunjukan sebuah senyuman yang lebar.

__ADS_1


"2000 tahun lebih, itu pasti adalah waktu yang berat bagi mu bukan."


Meski bagi kehidupan seperti mereka 2000 tahun adalah waktu yang tidak terlalu lama namun tetap saja 2000 tahun itu adalah waktu yang sangat berat bagi Theresia. Dalam 2000 tahun itu Theresia telah mengalami ratusan ribu kali kematian dan jutaan kehidupan, semua hal itu dapat Theresia ingat dengan baik.


Theresia senang mengetahui kalau waktu 2000 tahun yang dia habiskan itu tidaklah sia sia, berkat semua perjuangannya itu Theresia akhirnya dapat kembali melihat Zen. Theresia dengan cepat memeluk Zen dengan kuat.


"Kerja bagus Theresia."


Dengan lembut Zen mengelus elus kepala Theresia.


"Hmm, untuk saat ini biarkan aku seperti ini. Karena sebentar lagi kita mungkin akan terpisah kembali."


"Baiklah."


Zen tau dengan baik apa yang Theresia katakan, karena itulah dia membiarkan Theresia memeluknya dalam waktu yang lama.


"Ini adalah pertemuan kembali yang cukup mengharukan."


Tiba tiba Verdia Arcadia muncul dibelakang Theresia, Theresia yang menyadari kedatangannya itu dengan cepat melepaskan pelukannya dari Zen dan mundur beberapa langkah.


Ling Hao dan Hao Chen manjadi waspada karena kedatangan Verdia yang tiba tiba, Zen hanya melihat Verdia Arcadia dengan tenang tanpa melakukan apapun.


Verdia tersenyum kecil kepada Zen, dia lalu berjalan dan memegang pundak Theresia.

__ADS_1


"Aku akan membawa pergi."


Setelah mengatakan hal itu Verdia Arcadia dengan cepat menghilang tanpa jejak bersama dengan Theresia.


__ADS_2