
Beberapa hari telah berlalu setelah Verdia pergi membawa Theresia, saat ini dengan tenang Theresia melihat sebuah kebun bunga yang ada didepannya sambil meminum teh.
"Kau terlihat sangat tenang Theresia."
Verdia Arcadia cukup binggung dengan sikap Theresia saat ini, normalnya seseorang akan kebingungan dan tidak tenang setelah dibawa begitu saja seperti sedang diculik. Namun sejak awal sampai saat ini Theresia sama sekali tidak akan menunjukkan ekspresi tidak tenang itu, malah kebaikannya Theresia sangat tenang sampai sampai seperti dia sama sekali tidak mengalami sebuah masalah.
"Apa kau berharap kalau aku panik?"
"Sejujurnya iya."
"Kalau begitu sayang sekali kau tidak akan dapat melihatnya."
Theresia meminum tehnya dan kembali melihat kebun bunga yang ada didepannya.
"Ngomong ngomong bagaimana dengan situasi pertempuran itu saat ini?"
"Pertempuran?"
"Pertempuran perebutan mahkota Kekuatan."
"Pertempuran itu masih belum selesai sampai saat ini."
"Yah kurasa itu normal mengingat kali ini ada 3 mahkota yang mereka perebutkan."
Pertempuran merebut satu mahkota saja biasanya menghabiskan waktu kurang lebih selama 4 sampai 5 hari, tidak akan aneh jika pertempuran kali ini menghabiskan waktu lebih dari 10 hari.
"Theresia..."
"Hmm, ada apa Verdia?"
"Apa yang sedang kau rencanakan?"
"Apa yang kau maksud?"
Theresia hanya tersenyum seolah olah dia tidak mengerti apa yang Verdia katakan.
"Berhentilah berpura pura bodoh Theresia."
__ADS_1
Ketenangan Theresia membuat Verdia sedikit khawatir, Verdia merasa kalau Theresia sedang merencanakan sesuatu yang sama sekali tidak akan dapat dimengerti olehnya.
"Kau bukan Theresia bukan?"
Meski Verdia tidak terlalu dekat dengan Theresia namun dia telah bertemu dengannya beberapa kali, dan dalam beberapa kali pertemuan itu Verdia dapat memahami sifat Theresia secara kasar. Meski Theresia yang dia kenal juga memang terlihat selalu tenang namun dia tidak terlihat seperti orang yang akan memainkan tipu muslihat, sedangkan Theresia yang berada didepannya saat ini terlihat seperti orang yang sangat ahli dalam memainkan tipu muslihat.
"Tentu saja aku Theresia, namun aku adalah Theresia yang sedikit berbeda dari yang kau kenal."
"Apa yang kau maksud?"
"Apa kepala mu itu kosong? Carilah sendiri jawabannya."
"Apa kau ingin mati Theresia?"
"Tidak mana mungkin aku ingin mati, hanya saja Apa kau dapat membunuh ku?"
Theresia hanya tersenyum kepada Verdia, Theresia tau kalau Verdia tidak akan membunuhnya saat ini. Jika Verdia Memang berniat untuk membunuhnya maka dia akan membunuh Theresia pada saat itu atau pada saat dihadapan Zen nanti.
Verdia hanya dapat menatap Theresia saja, apa yang Theresia katakan ada benarnya. Dia tidak akan dapat membunuh Theresia, Verdia saat ini hanya dapat melakukan apa yang Theresia inginkan.
"Tapi untuk saat ini aku mungkin dapat memberitau mu, mungkin lebih mudah jika dikatakan kalau aku yang saat ini adalah aku yang melahirkan Xia Shuang sedangkan aku yang kau tau adalah aku yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Xia Shuang."
"Bagaimana bisa kau mendapatkan kembali ingatan mu?"
Namun untuk sesaat Verdia kembali binggung, pada saat itu dia dapat dengan jelas mendengar Cheng Ning mengatakan kalau tidak seperti Zen sihir reinkarnasi milik Theresia adalah sesuatu yang jauh dari kata sempurna. Karena ketidaksempurnaan itu Tidak peduli sebanyak apa Theresia bereinkarnasi dia tidak akan bisa mendapatkan kembali ingatannya.
"Dari yang kutahu kau tidak akan pernah bisa mendapatkan ingatan mu kembali?"
"Dari siapa kau mendengar hal itu? Apa dari Cheng Ning?"
"Iya dari dia."
"Sudah kuduga, bagaimanapun dia hanyalah seorang pengguna energi spiritual yang hidup dibawah surga. Seperti yang kau tau kita para pengguna mana dapat menciptakan berbagai macam sihir dengan berbagai macam efek yang berbeda."
Theresia mengeluarkan sebuah rantai emas miliknya, ditelapak tangan Theresia rantai itu terus berubah ubah bentuk. Dari pedang menjadi sebuah pisau menjadi api menjadi es dan pada akhirnya Theresia menghilangkannya.
Pada dasarnya sihir ataupun teknik seni beladiri adalah sesuatu yang melampaui surga, kedua hal itu memungkinkan untuk menciptakan sesuatu yang mustahil menjadi tidak mustahil. Contohnya adalah sihir reinkarnasi, untuk dapat bereinkarnasi jiwa seseorang yang telah mati harus memasuki roda reinkarnasi. Roda itulah yang akan menentukan dimana dan menjadi apa saat jiwa seseorang bereinkarnasi, namun bagaimana jika seseorang menggunakan sihir reinkarnasi untuk bereinkarnasi?
__ADS_1
Dengan sihir itu seseorang dapat bereinkarnasi ditempat dan menjadi seseorang yang dia inginkan, dengan kata lain orang itu melawan arus dari roda reinkarnasi.
"Yah meskipun aku mengatakan hal itu namun sepertinya kalian yang hidup dibawah surga masih belum memahami hal itu."
Bagaimanapun surga adalah sebuah pembatas, mereka yang dihidup dibawah surga tidak boleh melewati batasan itu. Namun berbeda dengan mereka yang hidup ditanah tuhan, batasan yang dibuat surga sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka.
"Kau sepertinya sangat mengerti tentang surga, bagaimana cara melewati batasan itu?"
Menjawab pertanyaan Verdia Theresia hanya tersenyum kecil, meski pengetahuannya tentang surga masih dibawah Zen namun tetap saja pengetahuan Theresia masih jauh melebihi Verdia.
Melihat senyum Theresia Verdia tau kalau Theresia sama sekali tidak ada niat untuk memberitaunya, Verdia pun segera mengganti pertanyaannya.
"Kuganti pertanyaanku, kapan kau mendapatkan kembali ingatan mu?"
"Kurasa tepat pada saat kematian Zen."
Zen mati tepat didepan Theresia, kematian itu membuat Theresia merasa putus asa, merasa bersalah, merasa kehilangan dan merasa marah. Semua emosi itu bercampur didalamnya itu memicu ingatannya dikehidupan yang sebelumnya.
Setalah ingatan itu kembali rasa marah Theresia menjadi lebih besar dan tanpa dia sadari dia telah membekukan 30 wilayah dari dunia api abadi.
"Apa Xia Shuang mengetahui hal itu?"
"Mungkin."
Theresia tau kalau Xia Shuang adalah perempuan yang pintar, meski Theresia belum memberitaunya namun Theresia merasa kalau Xia Shuang telah mengetahuinya karena itulah Xia Shuang biasanya selalu menjaga jarak dari Theresia setelah Zen mati.
Jarak itu bukan berarti Xia Shuang membenci Theresia hanya saja Xia Shuang masih belum menerima kenyataan yang ada didepannya.
"Aku sudah menjawab apa yang kau inginkan, sekarang giliranmu untuk menjawab ku. Apa yang kau inginkan dari Zen?"
Theresia tau ada sesuatu yang Verdia inginkan dari Zen karena itulah dia membawa Theresia untuk memicu kemarahan Zen. Namun apa yang Verdia tidak terwujud karena Theresia telah memperingatkan Zen, dan meski Zen datang kehadapan Verdia dia tidak akan marah atas perbuatan Verdia.
"Aku hanya ingin mencari tau cara untuk pergi melewati surga."
Verdia tau kalau Zen memiliki pengetahuan dan cara untuk pergi melewati surga, Verdia ingin membuat Zen mengatakan cara melewati surga dengan menggunakan Theresia sebagai Sandera.
"Itu memang salah satu alasannya namun itu bukan alasan utamanya bukan?"
__ADS_1
"Kau menyadarinya ya, yah alasan utamanya adalah aku ingin mencoba melawannya."
"Begitu, kuharap kau tidak menyesali hal itu."