
"Apa kau berniat membunuhnya dengan serangan tadi Ciel?"
Cicilia melihat kearah Ciel dengan sebuah senyuman diwajahnya, senyuman itu terlihat seperti Cicilia sedang menggangu Ciel.
"Jika kau tidak ada disitu maka aku tidak akan menyerangnya."
Ciel menatap Cicilia dengan tajam, rasa merendahkan, rasa tidak menyukai dan rasa marah dapat terlihat di tatapan itu.
"Kau bukanlah orang yang cocok untuk Zen."
"Jika aku tidak cocok untuk Zen maka siapa lagi yang cocok? Apa itu kau? Jelas itu tidak mungkin, lagi pula aku lebih menarik dari pada kau bukan?"
Jika dilihat secara fisik maka jelas kalau Cicilia lebih menarik, dia memiliki bentuk tubuh yang bagus. Tubuhnya sendiri terlihat seperti wanita dewasa yang sudah matang sekaligus menggoda. Sedangkan Ciel sendiri terlihat seperti seorang gadis remaja yang baru saja tumbuh, akan cukup sulit membayangkan kalau Ciel dapat menang dari Cicilia.
"Berhentilah menggodanya Cicilia, dan juga lepaskan aku."
"Hahhh, kau sangat tidak mengasikkan Zen."
Sebenarnya Cicilia masih ingin menggoda Ciel, namun karena Zen menyuruhnya untuk berhenti Cicilia pun langsung tidak memiliki pilihan lain. Cicilia langsung melepaskan pelukannya dari Zen, hanya dalam satu kali tarikan nafas Zen telah menghilang dari hadapannya.
"Seperti biasa kau sangat suka menggodanya Cicilia."
Ratu roh kegelapan muncul dibelakang Cicilia.
"Bukan kau juga senang menggodanya Rubia."
"Ya kurasa itu tidak salah."
Ciel terkadang memiliki emosi yang tidak teratur jika ada sesuatu yang berhubungan dengan Zen, kedua orang ini tau hal itu dengan baik. Karena itulah Cicilia dan Rubia terkadang menggoda Ciel ketika dia sedang dihadapan Zen.
Zen yang telah terlepas dari pelukan Cicilia kini sedang melihat rumah tempat Lin Shuming terkurung.
"Kupikir kau akan membiarkan kedua orang itu bertarung lebih lama lagi." Ucap Verdia Arcadia yang ada disebelah Zen.
__ADS_1
"Apa kau ingin melihat mereka bertarung?"
"Ya, kurasa itu akan menjadi tontonan yang menarik. Yah meskipun pemenangnya sudah dapat terlihat dengan pasti."
Jika Ciel dan Cicilia saling bertarung sudah pasti Ciel yang akan kalah. Meski didunia roh dia adalah keberadaan yang tidak memiliki tandingan namun didunia dengan kehidupan fisik ini Ciel tidak dapat menggunakan sebagian besar Kekuatannya.
"Saat ini aku sedang tidak ingin melihat mereka bertarung."
Bagi Zen yang terpenting saat ini adalah membunuh Lin Shuming, dia tidak memiliki waktu untuk yang lain.
"Bagitu ya, jadi apa kau ingin aku menghancurkan penghalang itu."
"Tidak perlu. Cicilia hilangkan penghalang mu sekarang."
"Baiklah."
Cicilia menjentikkan kedua jarinya, dan penghalang itupun langsung menghilang.
"Akhirnya ratu elf sialan itu menghilangkan penghalang nya."
Lin Shuming dengan cepat pergi keluar dari rumahnya, Lin Shuming terkejut dengan apa yang dia lihat. Banyak pemegang mahkota yang berada disekitar sana, dan wajah Lin Shuming langsung terlihat pucat setelah melihat Zen.
"Yo Lin Shuming sudah lama kita tidak bertemu."
Zen menunjukan senyuman yang terlihat sadis, tatapan matanya seperti sedang melihat seorang Mangsa yang tidak akan dilepaskan.
"Iya lama tidak berjumpa Zen."
Keringat terus mengalir ditubuh Lin Shuming, sebuah senyuman palsu yang terlihat kaku dapat dilihat diwajahnya.
"Apa yang kalian lakukan disini? Bukankah ini terlalu ramai?"
Terlalu banyak pemegang mahkota yang ada disana, terlalu banyak tekanan yang Lin Shuming terima. Lin Shuming berharap kalau ini adalah sebuah ilusi saja.
__ADS_1
"Ah kau tenang saja Lin Shuming, mereka ada disini hanya untuk menonton saja. Tidak akan ada dari mereka yang akan menyerangmu."
Zen tau apa yang Lin Shuming pikirkan saat ini, Lin Shuming kalau semua pemegang mahkota itu bekerja sama dengan Zen hendak menghancurkannya. Karena Zen tidak ingin membuat Lin Shuming salah paham diapun langsung memberitahukan tujuan para pemegang mahkota itu.
"Bagitu ya."
Lin Shuming menjadi lega, sejujurnya dia merasa sedikit ketakutan pada saat itu. Bagaimanapun para pemegang mahkota itu adalah orang yang tidak dapat Lin Shuming kalahkan.
"Lin Shuming mengapa kau tidak menunjukan tatapan dan senyuman yang kau gunakan saat itu?"
"Yang seperti apa?"
Senyuman canggung Lin Shuming semangkin terlihat dengan jelas, tentu saja dia tau apa yang dimaksud oleh Zen. Namun demi keselamatannya dia lebih memilih untuk berpura pura untuk tidak tau.
"Senyuman dan tatapan seperti ini."
Zen mempraktekkan apa yang Lin Shuming lakukan saat itu, itu adalah sebuah senyuman dan tatapan yang merendahkan orang lain. Tatapan yang terlihat seperti sedang melihat sebuah sampah, sampai hari inipun Zen masih tidak dapat melupakan tatapan itu. Tatapan Lin Shuming yang memandang rendah dirinya.
Aura membunuh yang besar keluar dari Zen, para pemegang mahkota yang lain tau arti dari keluarnya niat membunuh yang besar itu. Merekapun langsung pergi mengambil jarak dari tempat Zen dan Lin Shuming saat ini.
"Bisakah kita berbicara dengan baik baik zen?"
Lin Shuming berusaha untuk membuat Zen tenang, namun hal itu tidak berguna sekarang. Setelah dia telah merendahkan Zen pada saat itu Lin Shuming tidak akan dapat keluar dari lingkaran Kematian.
Zen mengangkat tangannya, ratusan bola api ungu muncul. Setiap bola api itu terbuat dari api abadi dengan hukum api lapis ke 5. Dari serangan dari bola api itu mungkin sudah cukup untuk melelehkan tubuh seseorang yang berada dialam dewa abadi.
Senyuman yang canggung hilang dari wajah Lin Shuming, dia tau kalau apa yang dia katakan tidak akan ada gunanya lagi saat ini. Lin Shuming lalu mengeluarkan ribuan pedang emas dari dunia pedang tak terbatas.
Bagi Lin Shuming yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara bisa membunuh Zen dan membuat dirinya tetap hidup. Lin Shuming lalu melihat kearah para pejuang surga yang lain, dia dapat melihat Ling Hao dan Hao Chen berada disana. Namun Zen telah mengatakan kalau tidak akan ada dari mereka yang akan ikut campur, Lin Shuming menjadi sedikit lebih tenang.
Tidak ada yang perlu dia khawatirkan, dia dapat menggunakan semua kekuatannya tanpa harus menahannya sedikitpun.
"Cobalah untuk menahan ini jika kau sanggup Zen Cavalier."
__ADS_1
Lin Shuming mengarahkan semua pedang miliknya ke Zen. Tidak seperti sebelumnya Zen sama sekali tidak takut dengan pedang pedang itu, hanya sebuah senyuman kecil terlihat diwajahnya. Zen lalu menggerakkan semua bola api miliknya, setiap bola api itu lalu langsung membakar pedang Lin Shuming hingga tak bersisa.