Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Pedang Aura Kegelapan


__ADS_3

Cheng Ning dengan mudah menggerakkan pedang pedang itu seperti sedang menerbangkan sebuah bulu. Pedang pedang itu terus bergerak sesuai apa yang Cheng Ning inginkan, terkadang lambat terkadang juga cepat.


Cheng Ning lalu menyebarkan semua pedang itu diatas Zen, jarak dari pedang kepedang hanya sejauh 4 cm. Cheng Ning lalu menggerakkan semua pedang itu menuju permukaan.


Melihat hal itu wajah Zen menunjukan ekspresi mesam, Tidak ada celah untuk dapat untuk menghindari pedang pedang itu. Pedang terus menuju kearah bawah dengan cepat dari atasnya, sedangkan dari depannya bola bola putih milik Cheng Ning terus bergerak menuju kearahnya.


Ini adalah pengepungan yang cukup sempurna, tidak peduli kemana Zen bergerak pada akhirnya dia akan terkena serangan pedang atau bola putih itu.


Satu satunya yang tersisa sekarang adalah melawan semua pedang atau bola putih itu. Sama seperti yang sebelumnya Zen mengeluarkan ribuan cincin hitam untuk menghentikan bola bola putih itu dan dengan pedangnya Zen menghancurkan pedang pedang yang menuju kearahnya.


Selagi Zen sibuk dengan Serangan Cheng Ning, lingkaran sihir yang dia buat secara perlahan mulai aktif. Lingkaran sihir itu berada diatas Cheng Ning, tentu saja Cheng Ning Tidak mengetahui hal itu.


Zen membuat lingkaran sihir saat pandangannya teralihkan oleh kedatangan Rubia. Lingkaran sihir itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk aktif, karena hal itu meski daya hancurnya besar namun sihir ini akan dapat dengan mudah dihindari jika ketahuan.


Lingkaran sihir yang terdiri 4 lapis pola itu lalu mengeluarkan sangat banyak petir emas, petir petir itu menghancurkan apapun yang terkena olehnya.


10 petir emas dengan cepat menuju arah Cheng Ning, Cheng Ning terlambat menyadari hal itu. Dan akhirnya dia tidak sempat menghindar dan petir itu mengenai dirinya dengan sangat kuat.


Tubuh Cheng Ning terlempar kepermukaan tanah, pedang pedang miliknya jika berhenti karena tidak dikendalikan. Tidak ada waktu bagi Zen untuk melihat keadaan Cheng Ning, sekarang adalah kesempatan baginya untuk kabur.


Zen membuka sebuah gate dan hendak memasukinya. Namun keterburuan itu adalah sesuatu yang salah, Zen mengendurkan penjagaannya. Sebagai hasilnya salah satu pedang Cheng Ning menusuk dadanya.


"Cheng Ning sialan."


Pedang itu menembus dada Zen, darah terus keluar dari mulut ataupun luka itu. Dengan penuh amarah Zen melihat kearah Cheng Ning, tubuh Cheng Ning tergeletak ditangan dengan beberapa luka.


Namun luka itu tidaklah terlalu parah, itu karena meski dia tidak dapat menghindari sihir Zen Cheng Ning setidaknya telah melapisi tubuhnya dengan energi spiritual.


Cheng Ning lalu berdiri dan melihat kearah Zen yang berada diatasnya, sebuah senyuman muncul diwajahnya. Cheng Ning tidak menyangka kalau dengan berhenti menggerakkan pernah pedang pedang itu dia jadi memiliki kesempatan untuk melukai Zen.


Setelah melihat senyuman itu, rasa kesal dan marah bercampur menjadi satu didalam Zen. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan terkena trik kecil Cheng Ning.


Rasa membunuh yang kuat muncul, namun sekarang Zen tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu. Sekarang yang harus dia lakukan adalah bagaimana cara mengatasi semua pedang yang mulai bergerak kembali itu.

__ADS_1


Akibat tusukan pedang itu Zen cukup kesulitan untuk dapat menggerakkan tubuhnya.


"Masih dapat bergerak ya."


Pedang pedang milik Cheng Ning telah dilapis oleh garis rune, garis rune itu akan aktif ketika berhasil menusuk Zen. Garis rune itu seharusnya membuat Zen tidak dapat bergerak, namun karena fisik Zen yang kuat dia jadi dapat menggerakkan tubuhnya sedikit.


Pedang pedang Cheng Ning menuju kearah Zen dengan sangat cepat. Pedang itu hanya tinggal berjarak beberapa meter dari Zen.


Sebuah bilah hitam yang besar muncul, bilah bilah itu menghancurkan semua pedang milik Cheng Ning.


"Kau seharusnya bergerak dari tadi Rubia."


Bilah bilah itu adalah milik Rubia, dia yang tadinya hanya melihat saja kini mulai bergerak karena situasinya mulai berbahaya.


"Dasar tukang ikut campur."


Semua pedang miliknya telah hancur, Cheng Ning pun dengan cepat kembali mengeluarkan ribuan pedang. Namun baru beberapa detik pedang itu muncul, Rubia Langsung kembali menghancurkannya.


Sebuah ekspresi kesal muncul diwajah Cheng Ning, dia melihat kearah Rubia yang hanya tersenyum tipis. Tatapan Rubia menunjukan kalau dia sedang melihat seorang sampah.


"Kurasa sudah saatnya kita mengakhiri ini."


Rubia lalu membuat ribuan pedang hitam, hanya saja pedang pedang itu tidak memiliki bentuk fisik seperti pedang Cheng Ning. Pedang pedang itu terbuat dari aura kegelapan yang dipadatkan, namun karena tidak memiliki bentuk fisik bukan berarti pedang itu tidak berbahaya.


Pada dasarnya pedang itu terbuat dari sihir, pedang pedang itu akan langsung meledak begitu mengenai sesuatu. Rubia mengarahkan ribuan pedang itu menuju Cheng Ning.


Cheng Ning tau bahaya dari pedang itu, dia lalu membuat sebuah penghalang berlapis lapis dari puluhan ribu pedang.


Bam Bam Bam


Sebuah ledakan yang besar terjadi setiap pedang milik Rusia menyentuh penghalang pedang Cheng Ning. Zen tidak menyianyiakan kesempatan itu, Zen lalu dengan sekuat tenaga melepaskan pedang Cheng Ning dari tubuhnya.


Butuh tenaga yang sangat banyak hingga akhirnya pedang itu terlepas, Zen lalu membuka ruang dan memasukinya.

__ADS_1


Rubia melihat Zen telah memasuki gate yang dibuat, Rubia lalu langsung berhenti menyerang Cheng Ning dan menghilang semua pedang miliknya.


"Kalian semua berhentilah bertarung, urusan disini telah telah selesai. Saatnya kita kembali."


Para roh kegelapan itu mendengar apa yang Rubia katakan, mereka meninggalkan para pejuang surga itu dan pergi ketempat Rubia berada. Rubia lalu kembali membuka gerbang menuju dunia roh.


Para roh itu memasuki gerbang itu, tidak ada pejuang surga yang mengejar para roh itu. Karena mereka tau jika mereka memasuki dunia roh maka tanpa basa basi Ciel akan langsung membunuh mereka.


Gerbang menuju dunia roh telah ditutup, sekarang hanya tinggal Rubia dan ke 4 pejuang surga itu yang tersisa.


"Bukankah sudah saatnya kalian berhenti memburunya?"


"Rahasia surga adalah sesuatu yang mutlak, tidak ada yang boleh menyelidikinya."


"Tidak peduli sebanyak apa kalian berusaha menutupinya pada akhirnya rahasia surga yang kalian maksud itu akan terungkap. Aku yakin seharusnya tidak lama lagi...."


"Apa yang kau lihat ratu roh kegelapan Rubia?"


Cheng Ning segera bertanya, dia tau apa yang dikatakan oleh Rubia bukankah omong kosong. Itu adalah sebuah kejadian yang akan terjadi dimasa depan nanti.


"Hanya sebuah kejadian yang menarik, protagonisnya adalah seorang pemuda dengan beberapa hal yang menarik didalam tubuhnya."


Kekuatan melihat masa depan adalah sesuatu yang sangat luar biasa didunia bawah sana, namun didunia atas ini itu adalah kekuatan yang sanga tidak berguna. Itu karena didunia atas mustahil untuk dapat melihat masa depan.


Namun Rubia berbeda, saat berada didunia roh dia sesekali melihat kejadian yang akan terjadi dimasa depan. Namun setelah melihat kejadian itu Rubia tidak pernah berfikir untuk mengubahnya, Melainkan dia hanya akan menyaksikan kejadian itu dengan sebuah senyuman.


"Saat ini pemuda itu telah berada didunia atas ini, dan semuanya akan dimulai setelah Zen kembali mendapatkan apa yang dia inginkan."


Rubia tidak sabar tibanya hari itu, bagaimanapun sampai akhir dia berencana hanya sebagai pengamat saja.


"Kalau begitu sampai jumpa kembali."


Rubia kembali kedunia roh meninggalkan ke 4 pejuang surga itu.

__ADS_1


__ADS_2