Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Pola penghalang


__ADS_3

Siegfried terkena pukulan Vlad dengan sangat kuat, dia terus menerus mengeluarkan darah dari mulutnya. Sekarang perhatian Vlad terfokus pada Siegfried dan Zen langsung mengambil kesempatan dari hal itu.


Zen mengumpulkan banyak kekuatan ditangannya, dan dengan sangat kuat Zen memukul wajah Vlad. Pukulan itu sangatlah kuat, akibatnya meskipun dengan kekuatan Magea Erebea Vlad terhempas sejauh ratusan kilometer.


"Setidaknya ini dapat sedikit mengulur waktu."


Dengan kekuatan Vlad yang sekarang, dia hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk kembali ketempat ini.


Zen berharap semua ini telah selesai, namun harapan itu menghianatinya. Puluhan bola hitam yang sama dengan sebelumnya muncul dilangit, dan bola bola hitam itu secara perlahan mulai mengecil.


"2 perempuan yang bodoh. Jika begini terus maka kuil itu akan hancur."


Zen hendak pergi ketempat Alice dan Amel berada, namun Siegfried menghalanginya.


"Aku tidak akan membiarkanmu mengahalangi mereka berdua."


Dengan kesadaran yang hampir menghilang Siegfried memegang kaki Zen dengan sangat kuat.


"Kau bodoh, jika begini terus kuil itu akan hancur."


"Aku tidak peduli, itu jauh lebih baik dari pada membiarkan pecahan kekuatan yang ada disana diambil oleh orang seperti kalian."


Bola bola hitam itu telah menjadi sebesar bola kasti, dan hanya tinggal beberapa detik lagi sebelum meledak.


Zen dengan sekuat tenaga berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan Siegfried, bahkan dia juga telah mencoba untuk memotong tangan Siegfried namun itu semua tidak berguna.


"Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain."


Zen berhenti untuk mencoba melepaskan diri dari Siegfried, dia kemudian memasang puluhan lapis pelindung pada tubuhnya.


"Mari kita mati bersama."


Siegfried menunjukkan sebuah senyuman kecil kepada Zen, Zen menjadi sedikit kesal melihat senyuman itu.


"Matilah sendiri manusia bodoh."


Pada saat yang bersamaan puluhan bola hitam itu meledak, ledakan itu menciptakan getaran dan kehancuran yang besar.


Disisi lain, Vlad yang terkena pukulan Zen terhempas sampai kastil kekaisaran Zilion.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, cepat lindungi yang mulia."


Para prajurit menjadi sangat waspada begitu Vlad terjatuh didalam ruang singgasana. Vlad yang tidak memiliki kesadaran itu melihat kesekitarnya, dan dia langsung membunuh para prajurit yang mengarahkan senjata kepadanya.


Dalam sekejap semua prajurit itu telah mati, dan Vlad menuju ketempat sang kaisar duduk. Vlad hendak menyerang sang kaisar itu, namun sebuah getaran yang hebat dapat dia rasakan.


Vlad kemudian langsung melompat dengan kuat, hentakan kakinya membuat kastil menderita kerusakan yang sangat parah. Vlad kemudian terbang menuju ketempat Zen berada.


Disisi lain Zen menderita luka yang cukup parah akibat ledakan itu. Ledakan itu mungkin mengahancurkan semua hal dalam radius puluhan kilometer.


Meski ledakan itu sangat kuat, namun karena penghalang disekitarnya kuil abadi masih tidak hancur dan tetap utuh.


"Mereka benar benar Gila."


Sekarang Zen tidak dapat melihat keberadaan Siegfried, ada dua kemungkinan yang pada Siegfried sekarang. Kemungkinan pertama adalah tubuhnya menjadi hancur tak tersisa karena ledakan itu, dan kemungkinan yang kedua adalah tubuhnya masih utuh namun karena ledakan itu dia terhempas sangat jauh.


"Saatnya membalas perbuatan kalian."


Zen mengeluarkan pedang miliknya dan menuju ketempat Amel dan Alice berada. Mereka berdua menyadari kedatangan Zen, namun sekarang mereka menderita luka yang sangat parah karena sihir yang mereka keluarkan.


Meski mereka telah mengorbankan diri, namun mereka tidak dapat menyerasikan tugas mereka. Mereka hanya dapat mati dalam penyesalan, dengan pedangnya Zen menyerang mereka berdua.


"Apa yang kau lakukan Theresia."


Zen tau kalau itu adalah rantai milik Theresia, karena dia sendiri yang membuat sihir itu dan memberikannya kepada Theresia.


Zen sama sekali tidak mengerti mengapa Theresia menghentikannya, Zen berusaha untuk menghancurkan rantai itu namun dia tidak dapat melakukannya.


Zen akhirnya menyerah, dan berhenti berniat untuk membunuh mereka berdua. Theresia yang ada didalam tubuh Zen sedikit tersenyum dan menghilangkan semua rantai itu.


"Kalian berdua cukup beruntung."


Zen meninggalkan mereka berdua dan bejalan menuju kuil abadi. Setelah beberapa saat Zen akhirnya sampai ketempat penghalang berada, meski tidak dapat melihatnya Zen dapat menyentuhnya.


Zen lalu mengalirkan mana miliknya dan sebuah pola terbentuk dipenghalang itu.


"Dimana aku pernah melihat penghalang seperti ini?"


Zen dapat ingat kalau dia pernah melihat sebuah penghalang dengan pola yang sama seperti yang ada didepannya ini.

__ADS_1


Zen juga tau kalau untuk dapat melewati penghalang ini bukanlah kekuatan yang diperlukan, Melainkan harus menggambar sebuah pola pada penghalang.


Zen lalu melukai ujung jarinya, dan dengan darah miliknya Zen menggambar sebuah pola pada penghalang. Dan dalam hitungan menit Zen selesai menggambar sebuah pola yang berfungsi sebagai kunci masuk.


Setelah selesai Zen dapat masuk dengan mudah Seperti sama sekali tidak ada penghalang.


Zen merasakan aura milik Vlad menuju kearahnya dengan cepat, Zen lalu melihat kelangit tempat aura itu berada. Dan Zen dapat melihat kalau Vlad terbang dengan sangat cepat.


Tanpa peduli dengan sekitar nya, Vlad terus menuju kearah Zen dengan cepat hingga dia menabrak penghalang yang ada pada kuil abadi.


Vlad menjadi kesal karena penghalang itu, dengan sekuat tenaga dia terus mencoba menghancurkan penghalang itu namun dia sama sekali tidak dapat menghancurkannya.


"Bodoh."


Zen menggerakkan jarinya dan sebuah cincin bercahaya muncul, cincin itu lalu menyerang Vlad. Serangan cincin itu sangatlah kuat, bahkan meski dengan kemampuan Magea Erebea Vlad langsung memuntahkan darah begitu terkena cincin itu.


Sekarang Zen telah memastikan kalau hanya dia yang dapat melewati penghalang itu, Dan Zen pun kembali melanjutkan perjalanannya.


Mengikuti arah yang dia rasakan dari pecahan kekutan miliknya Zen memasuki sebuah ruangan bawah tanah.


Diujung ruang bawah tanah itu terdapat sebuah pintu yang sangat besar, Zen mencoba mendorong pintu itu namun pintu itu sama sekali tidak bergerak.


"Yah, tentu saja tidak akan dapat terbuka dengan mudah bukan."


Zen lalu mencoba untuk mencari petunjuk dengan mengalikan mana miliknya kedalam pintu. Pintu menunjukkan sebuah respon dan memunculkan sebuah pola yang sama dengan penghalang yang ada diluar.


"Pola yang sama lagi ya."


Sama seperti yang sebelumnya, Zen melukai tangannya sang mulai menggambar sebuah pola.


Pintu langsung terbuka begitu Zen selesai menggambar. Puluhan Api biru langsung menyala begitu Zen memasuki ruangan itu.


Karena api biru itu Zen dapat melihat dengan jelas apa yang ada didalam ruangan, dan Zen terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Yang benar saja, bagaimana Cara mereka membawa mahluk itu kedunia bawah ini."


Ditengah ruangan itu tertidur sebuah monster, monster itu memiliki bentuk seekor singa dengan sebuah tanduk banteng di kepalanya.


Monster itu menyadari kedatangan Zen dan membuka matanya.

__ADS_1


__ADS_2