
"kalian manusia rendahan, apa kalian mencoba membuatku marah."
Zen menatap sang raja dengan tajam sambil mengeluarkan aura membunuh yang cukup besar.
Sang raja yang melihat tatapan Zen menjadi sangat ketakutan, dan para prajurit yang merasakan aura yang dikeluarkan oleh Zen sama sekali tidak dapat bergerak.
"Tolong bisakah anda sedikit tenang."
Meskipun dipenuhi oleh rasa takut sang putri tetap berbicara kepada Zen dengan lembut.
Zen Mendengarkan apa yang dikatakan sang putri, lagi pula dia juga tidak terlalu ingin membuat banyak masalah. Zen kemudian berhenti mengeluarkan aura miliknya, Dan para prajurit yang berada disekitarnya pun dapat kembali bergerak.
"Jadi Putri, saya akan bertanya sekali lagi. Apa yang anda inginkan?"
"Menurut anda dari kedua pilihan tersebut, mana yang lebih baik untuk saya?"
"Jika untuk anda maka saya akan menyarankan untuk menit skill saja."
Pedang yang ada didepan Zen belum tentu akan dapat digunakan oleh sang putri, bagaimanapun pedang itu hanya bisa digunakan oleh orang yang cocok dengannya.
Sedangkan skill pasti akan langsung dapat digunakan oleh sang putri, ya meskipun jika sang putri menginginkan skill tingkat tinggi maka dia harus tetap berlatih.
"kalau begitu saya akan memilih skill."
"lalu kepada siapa saya harus memberikan skillnya?"
"Anda bisa memberikan nya kepada ayah saya."
"Tidak, skill itu akan diterima oleh Tifa."
Zen hendak berjalan kearah sang raja, namun sang raja tiba tiba berbicara.
"Apa anda yakin ayah?"
"Ya, kau lebih membutuhkannya dari padaku."
"Terima kasih ayah."
Sang putri langsung berdiri dari kursinya dan dengan anggun berjalan kearah Zen.
"Bagaimana cara saya untuk menerima skill dari anda?"
"Anda cukup berdiri saja, dan saya akan sedikit menyentuh dahi anda."
"Baiklah, anda bisa melakukan nya sekarang."
Zen meletakkan jarinya didahi sang putri.
"Ngomong ngomong putri, apakah anda dapat menggunakan sihir?"
"Ya, saya dapat menggunakannya."
__ADS_1
"Bagaimana dengan senjata?"
"Saya dapat sedikit menggunakan sebuah tombak."
"Bagitu ya."
Zen mulai memberikan beberapa skill kepada sang putri. Sebenarnya itu bukankah memberikan sebuah skill, melainkan Zen memberikan sedikit ingatannya kepada sang putri.
Dengan ingatan itu, sistem secara otomatis mengubahnya menjadi sebuah skill.
Zen telah selesai memberikan beberapa ingatannya, dia lalu menarik kembali jarinya.
"Saya sudah selesai putri, anda bisa melihatnya distatus anda."
Sang putri langsung melihat status miliknya, ada 3 pemberitahuan disana. Sang putri pun langsung melihat pemberitahuan itu.
[Skill sihir angin gelap didapatkan.]
[Skill Tombak penghancur didapatkan]
[Skill mata kebenaran didapatkan]
"Bukankah ini terlalu banyak?"
Pada awalnya sang putri mengira kalau Zen hanya memberikannya 1 skill saja. Dia tidak menyangka kalau Zen akan memberikannya 3 skill sekaligus.
"Tidak apa, anggap saja ini sebagai hadiah untuk anda."
Dengan memberikan 3 skill itu Zen sama sekali tidak Merasakan rugi sedikitpun, lagi pula ke 3 skill itu sangat tidak berguna bagi Zen.
Zen kembali menyimpan semua pedang yang dia keluarkan.
"Kalau begitu bisakah anda menunjukan jalan masuknya kepada saya?"
"Saya akan menunjukannya, anda bisa mengikuti saya."
Sang putri pergi meninggalkan ruangan itu, Zen mengikutinya dari belakang. Sang raja sedikit khawatir dengan sang putri, diapun menyuruh beberapa prajurit untuk mengikuti mereka.
Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai ke pintu ruang bawah tanah.
"Apa anda akan pergi dengan saya putri?"
"Ya, lagi pula saya adalah penunjuk jalan untuk anda. Apakah anda keberatan."
"Tidak, hanya saja mungkin akan sedikit berbahaya untuk anda."
"Saya sudah sering merasakan sesuatu yang berbahaya."
Meski dia bukanlah orang yang akan mewarisi tahta, namun sang putri telah sering merasakan banyak hal yang membahayakan nyawanya.
"Jika anda berisi keras anda bisa mengikuti saya, namun mereka harus tinggal disini."
__ADS_1
"Baiklah."
Sang putri kemudian menyuruh para prajurit untuk menjaga pintu masuk, mereka tidak berani membantah perintahnya dan berjaga di pintu.
Mereka berdua terus berjalan didalam lorong yang gelap dengan cahaya yang dibuat oleh Zen.
Mereka akhirnya sampai ketempat akashic record berada, banyak batu yang berdiri disana. Dan ada juga beberapa batu yang bercahaya.
Zen berjalan kearah batu besar yang memiliki sebuah ukiran dan menyentuh nya.
"Apa anda tau apa isi dari akashic record tuan putri?"
"Tidak, sejauh ini tidak ada yang tau isi dari akashic record."
"Kalau begitu dari jutaan kehidupan yang terlahir didunia ini mungkin anda adalah orang pertama yang akan membaca isinya."
Zen melukai jarinya dan mengoleskan darahnya kebatu besar itu. Sebuah layar muncul dihadapan Zen, namun sebelum Zen sempat melihat isinya waktu dunia telah dihentikan.
Zen melihat kearah sang putri yang tidak dapat bergerak kerena waktu dunia telah dihentikan. Sebuah hawa kehadiran yang kuat muncul diruangan itu.
Zen melihat kearah hawa kehadiran itu berasal, tidak ada wujud fisik disana karena hawa kehadiran itu adalah milik kehendak dunia.
"Kau hanyalah kehendak dunia yang baru berusia ribuan tahun, apa kau ingin membuatku menghancurkan mu?"
Zen mengeluarkan sebagian besar aura miliknya sambil terus menatap kehendak dunia yang tidak memiliki wujud fisik itu.
Kehendak dunia merasakan sebuah bahaya dari Zen, dia kemudian mengalirkan kembali waktu yang terhenti dan dia langsung menghilang.
Kehendak dunia telah pergi, Zen berhenti mengeluarkan aura miliknya Dan kembali melihat layar besar yang ada didepan nya.
"Yang tadi itu apa?"
Dengan sedikit gemetaran Sang putri bertanya kepada Zen.
"Apa yang anda maksud tuan putri?"
"Tadi itu, sesuatu yang muncul tadi."
"Walau waktu berhenti tapi anda tetap dapat melihat apa yang terjadi ya."
"Waktu terhenti?"
"Iya, bukankah Anda tidak dapat bergerak tadi? Alasan anda masih dapat melihat apa yang terjadi mungkin karena skill mata kebenaran yang saya berikan."
"Sebenarnya skill seperti apa kata kebenaran itu?"
"Anda harus mencari taunya sendiri, lagi pula saya sedikit sibuk sekarang."
Sebuah cahaya kemudian muncul dari layar yang ada didepan Zen. Setelah cahaya itu menghilang Zen menjadi sedikit tersenyum.
"Akhirnya muncul juga, akashic record."
__ADS_1