
Bola yang kupegang ini sepertinya perwujutan dari bekah yang ada dilantai satu ini, bola ini sepertinya adalah berkah air. Untuk mendapatkannya membutuhkan pengorbanan yang cukup besar, bahkan sampai sekarang aku masih merasakan rasa sakit yang ada pada jiwaku. Tubuhku sendiri tidak ada bekas luka sedikitpun.
Meskipun aku masih merasakan sakit pada jiwaku, untung saja jiwaku tidak terluka. Berbeda dengan luka yang ada pada tubuh yang cukup mudah untuk disebuhkan, luka pada jiwa sangat sulit untuk disembuhkan. Bahkan jika seseorang bisa menyembuhkan luka yang ada pada jiwanya hal itu membutuhkan bertahun tahun lamanya, belum lagi jika jiwa seseorang terluka maka orang itu akan mudah sakit dan sulit untuk mengumpulkan mana dalam tubuhnya.
Kali ini aku sangat beruntung karena tidak mendapatkan luka pada jiwa walaupun aku merasakan sakit yang saperti itu, sepertinya untuk mendapatkan semua berkah yang ada aku harus mendapatkan rasa sakit yang luar biasa disetiap lantainya. Jadi inilah yang dimaksud nona qinyu dengan tekad dan keteguhan hati yang menentukan, memang benar jika manusia yang tekad dan hatinya lemah mengambil berkah ini maka kemungkinan besar jiwanya akan dibuat hancur oleh obak itu.
Aku jadi penasaran siapa sebenarnya nona qinyu itu, seberapa banyak hal yang dia ketahui menara ini dan apa yang ada didalamnya. Yah untuk saat ini tidak ada gunanya memikirkannya, aku harus segera menuju kelantai berikutnya tapi aku tidak melihat ada tangga disekitar sini. Disini hanyalah sebuah ruangan besar yang kosong hanya ada altar didalamnya.
Altar ini sepertinya adalah sesuatu yang cukup penting selain untuk tempat berkah disimpan. Bagitu ya akhirnya aku mengerti, setelah aku mengingat kembali tentang pintu besar yang digunakan untuk masuk kemenara. Jika pintu itu sama dengan altar ini maka dengan memasukan sihir kedalamnya mungkin dapat memunculkan tangga.
Aku memasukan manaku kedalam altar itu, mana yang diserapnya lebih besar dari pada yang kugunakan untuk membuka pintu. Setelah altar itu selesai menyerap manaku rungan ini menjadi bergetar, sebuah tangga muncul dari langit langit ruangan Sepertinya itu adalah tangga untuk menuju ke lantai dua.
"Zen"
Ziyun memanggil namaku sambil berlari mendekatiku.
"Ziyun mengapa kau kesini, Bukankah aku menyuruhmu untuk menuggu didekat pintu?"
"iya, tapi getaran tadi mebuatku khawatir jadi aku datang kesini."
Ohho, gadis polos ini ternyata cukup berani juga, meski aku telah menyuruhnya pergi jika terjadi sesuatu, dia bukannya lari malah mengkhawatirkanku disini. Tapi mungkin bukan itu alasan sebenarnya, aku rasa dia hanya sedang takut. Karena jika aku mati dia mungkin tidak akan memiliki seseorang yang bisa menemaninya. Ya Meskipun itu alasan dia sebenarnya fakta kalau dia mengkhawatirkanku tidak lah berubah.
"Ya Biarlah, ngomong ngomong ziyun ayo kita naik kelantai dua."
"Naik kelantai dua? Lewat mana?"
Aku menunjuk jariku kearah langit langit dimana tangga yang akan kami gunakan natinya sedang turun secara perlahan.
"Apa itu sebuah tangga? Jangan jangan penyebab getaran tadi adalah karena itu."
"Heh, hebat jugu kau bisa tau, sepertinya kau sudah bertambah pintar."
"Apa apaan itu, kalo cuma hal itu akupun juga bisa tau."
__ADS_1
Uwahhh, sepertinya dia merajuk karena perkataanku tadi, jika kuingat ingat lagi sepertinya ini adalah pertama kalinya dia menunjukan wajahnya yang sedang merajuk. Sejak bertemu dengannya yang sering dia lakukan hanyalah menangis dan menuruti perkataanku tanpa banyak berfikir, bahkan jumlah aku melihat senyumannya bisa dihitung hanya dengan jari. Sepertinya dia sudah mulai berkembang, ini adalah hal yang cukup membahagiakan.
"Hahaha, betul juga ya, untuk ziyun yang pintar maka untuk mengetahui hal itu adalah biasa."
"Barusan itu, hinaan ya"
"Mana mungkin, tadi itu adalah pujian dariku."
"Bohong! Jelas jelas tadi itu hinaan."
"Hahaha, ya untuk saan ini lupakan dulu itu. Tangganya sudah sampai, saatnya kita naik keatas."
"Hmp, mengalihkan pembicaraan."
Kami menaiki tangga untuk menuju lantai kedua, jika dilihat dari saat tangga ini turun tadi tangga ini terlihat cukup panjang dengan anak tangga besar, tapi begitu menaikinya anak tangga ini terlihat lebih kecil dari pada saat aku melihatnya tadi.
"Apa?"
"Apa kau masih merajuk?"
"Siapa yang merajuk?"
Ini cukup merepotkan, aku tidak menyangka dia akan merajuk selama ini. Sepetinya aku harus mencari topik yang menarik untuk membuatnya tidak merajuk lagi. Aku memang kurang tau tentang hal hal yang dia benci dan dia sukai, tapi topik yang satu ini kurasa akan membuatnya tertarik.
"Ngomong ngomong ziyun, apa kau tertarik untuk belajar sihir?"
"Sihir! Apa kau mau mengajarinya?"
Hehehe, sepertinya topik ini memang dapat membuatnya tertarik sampai sampai mengeluarkan wajah yang tampak bersemangat itu.
__ADS_1
"Ya tentu saja aku mau. Jadi apa kau mau mempelajarinya?"
"Kalau gitu sihir apa yang ingin kau pelajari?"
"Sihir apa ya. Aku kurang tau mengenai sihir jadi bagaimana kalau sihir yang dapat membantumu?"
"Sihir yang dapat membantuku ya? Coba kupikir pikir dulu."
Aku tidak tau sihir apa yang harus kuajarkan padanya, untuk saat ini aku juga kurang tau sihir apa yang dapat membantku. Aku sendiri dapat menggunakan sihir enam elemen yang kuperlukan jadi aku tidak tau sihir apa yang harus kuajarkan padanya. Untuk sihir penyerangan tentu saja aku pasti tidak akan mengajarinya saat ini, kalau begitu pilihan satu satunya adalah mengajarinya sihir tipe pembantu.
"Kalau begitu bagaimana kalau kau belajar sihir penyembuh."
"Apakah kau membutuhkan orang untuk menyembuhkanmu?"
"Tentu saja iya"
"Kalau begitu aku akan belajar sihir itu"
Maaf ziyun sebenarnya aku berbohong, aku sendiri punya banyak potion dan aku bisa menggunakan sihir penyembuh yang bisa kugunakan untuk diriku sendiri. Ya tapi tidak ada salahnya mengajarimu sihir penyembuh, mungkin suatu hari nanti aku akan membutuhkan sihir penyembuhmu.
"baiklah aku akan mengajarimu sihir penyembuh saat kita sudah melewati lantai tiga."
"Iya"
Setelah sekian lama berjalan kami akhirnya sampai juga didepan pintu tempat berkah kedua berada. Aku sendiri tidak tau berkah apa yang ada dibalik ruangan ini, tapi aku harus menyiapkan mentalku. Kemungkinan rasa sakit yang akan kurasakan untuk mendapat berkah kedua ini akan melebihi rasa sakit yang kualami sebelumnya.
"Ziyun kali ini kau harus mendegarkanku. Jangan masuk keruangan sebelum aku memanggilmu."
"Tapi zen, aku sangat khawatir."
"Tenang saja ziyun, kau harus percaya padaku. Untuk kali ini tolong dengarkan apa perkataanku, dan juga kau harus tetap bersama shiroki."
"Baiklah"
__ADS_1
Aku membuka pintu secara perlahan, berbeda dengan ruangan berkah yang pertama. Ruangan dilantai kedua ini dipenuhi oleh obor yang menyala, aku masuk kedalam untuk mengambil berkah yang kedua.