
-Kau bilang itu adalah tubuhku?-
-Ya.-
-Tidak, kau pasti berbohong padaku. Ini sangat tidak masuk akal, sebelumnya kau bahkan tidak tau dimana tubuhku berada dan sekarang kau berkata kalau gadis kecil itu adalah tubuhku. Apa kau mempunyai bukti?-
Roh kegelapan terus menerus menyangkal perkataan Zen. Roh kegelapan yang sudah lama tidak memiliki tubuh dan ingatan saat masih hidup kini diberitau kalau itu adalah tubuhnya. Tentu saja Dia sangat tidak bisa menerima fakta yang Zen katakan padanya.
Namun meskipun roh kegelapan terus menolak fakta itu Zen masih tetap tenang. Dia berjalan mendekati kristal itu, dan menyentuhnya.
-Roh kegelapan Apakah kau ingin mendengar sebuah cerita?-
-Cerita apa?-
-Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang kakak yang sangat menyayangi adik kecilnya.-
-Kau...Jangan bilang cerita itu.. -
-Tepat seperti yang kau pikirkan. Pada zaman dahulu, zaman dimana perang antar ras adalah hal biasa hidup seorang gadis Bangsawan. Gadis itu hidup didalam kacaunya perperangan, gadis itu terus mencoba melindungi adiknya yang sangat dia sayangi. Gadis itu adalah Leluhur pertama, pewaris ke 5. Namanya adalah Saeliya. Untuk cerita lebih lebih lengkapnya mungkin lebih baik jika kau sendiri yang mengingatnya.-
Zen melukai jarinya dan mengambar sebuah lingkaran sihir pada kristal itu dengan menggunakan darahnya. Selain Zen dan pewaris yang sebelumnya, tidak ada seorangpun yang tau mengenai lingkaran sihir itu. Lingkaran sihir itu adalah lingkaran sihir khusus yang dibuat oleh leluhur kelima agar suatu hari nanti adiknya dapat kembali kedalam tubuhnya.
Leluhur pertama adalah keberadaan yang sangat berbeda dengan leluhur lainnya. Pewaris leluhur pertama dapat menggunakan semua kemampuan yang dapat digunakan oleh para pewaris sebelumnya. Pewaris leluhur pertama juga dapat mewarisi semua pengetahuan dari pewaris sebelumnya, entah itu pengetahuan berpedang, sihir, etika, pengendalian kekuatan, ataupun semua informasi penting lainnya.
Karena itulah Zen dapat mengetahui keberadaan tubuh roh kegelapan dan menggambar lingkaran sihir itu.
Setelah selesai menggambar lingkaran sihir itu, Zen menusukkan lima jarinya keperutnya. Dia membaca sebuah mantra dengan menggunakan sebuah bahasa kuno. Kelima jarinya menusuk lebih dalam lagi keperutnya. Setelah cukup lama, Zen menarik kembali kelima jarinya.
DiTangan Zen tidak hanya ada bekas darah, Tetapi juga ada sebuah api hitam. Tidak, mungkin kurang tepat jika mengatakan kalau itu adalah api karena itu tidak mengeluarkan panas. Itu adalah jiwa dari roh kegelapan.
Zen mengarahkan jiwa roh kegelapan itu kearah lingkaran sihir yang dia gambar dikristal itu.
"Sekarang kembalilah ketubuh aslimu roh kegelapan. Tidak, kembalilah ketubuhmu FERNANSE!"
Zen menekan jiwa roh kegelapan itu kearah lingkaran sihir itu. Begitu jiwa roh kegelapan mengenainya, Lingkaran sihir mengeluarkan sebuah respon. Semua energi sihir yang berada diruangan itu masuk kelingkaran sihir itu. Darah Zen yang tadinya digunakan untuk menggambar lingkaran sihir itu entah mengapa kini berubah bentuk.
Darah yang tadinya hanya sedikit kini menjadi sangat banyak, bahkan darah itu kini menutupi semua kristal itu. Kristal yang tadinya transparan itu kini dalamnya tidak dapat dilihat karena tertutup oleh darah.
"Yah, aku telah melakukan apa yang diperlukan. Sekarang semua tergantung padanya, apakah dia dapat kembali ketubuhnya atau tidak!."
__ADS_1
*******
Disebuah ruangan besar ada dua orang yang sedang duduk disebuah sofa.
"Kakak, kakak. Setelah perang ini selesai, apa yang ingin kau lakukan?"
Seorang gadis kecil bertanya kepada seorang perempuan cantik dengan rambut merah yang menyala seperti warna sebuah api yang membara. Perempuan itu adalah leluhur pertama, pewaris ke 5, Saeliya. Dan gadis kecil itu adalah adik kesayangannya, namanya adalah Fernanse.
"Hmm, apa yang ingin kakak lakukan ya."
"Apakah kakak tidak tidak memiliki keinginan yang ingin dilakukan setelah perang ini selesai?"
Fernanse bertanya kepada Saeliya dengan wajah yang polos. Dihadapan kepolosan itu, Saeliya tidak dapat menolak pertanyaan dari adik yang sangat dia sayangi itu.
"Tentu saja kakak punya, tapi kakak tidak dapat mengatakannya sekarang."
"Kenapa?"
"Karena itulah adalah sebuah kejutan. Fernanse sendiri apakah memiliki keinginan yang ingin dilakukan setelah perang ini berakhir?"
"Iya, Fernanse punya."
"Setelah perang ini berakhir, Fernanse sangat ingin melihat dunia luar."
"Heh, kalau begitu kakak akan berusaha agar Fernanse dapat mewujudkan keinginan itu."
Mendengar perkataan Saeliya, Fernanse menjadi sangat senang. Dia mengeluarakan senyum yang menis kepada Saeliya, Saeliya pun membalas senyuman itu.
Ditengan suasana senang itu, seorang prajurit datang menuju kearah mereka berdua.
"Yang mulia sudah waktunya."
"Baiklah, kau boleh pergi. Ada sesuatu yang harus kulakukan terlebih dahulu."
"Baik Yang mulia."
Prajurit itu pergi meninggalkan Saeliya dan Fernanse.
"Ayo Fernanse. Kita akan pergi ketempat yang menyenangkan."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Ya."
Dengan polosnya Fernanse pergi mengikuti Saeliya. Mereka pergi menuju kekamar Saeliya, bergitu sampai kekamarnya Saeliya segera membuka sebuah pintu menuju ruangan bawah tanah.
Fernanse yang mempercayai perkataan kakaknya terus mengikutinya hingga akhirnya mereka berada disebuah ruangan yang besar. Didalam ruangan itu terdapat sebuah lingkaran sihir yang besar.
"Fernanse berdirilah disitu, dan apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkan tempat itu."
Mengikuti perintah kakaknya, Fernanse berdiri dipusat lingkaran sihir. Saeliya melukai tanganya dan megalirkan darahnya kelingkaran sihir itu.
"Kakak. Kakak tidak apa apa?"
"Jangan bergerak Fernanse!."
"Tapi.. "
"Kakak bilang jangan bergerak."
Tidak berani melawan perkataan kakaknya, Fernanse pun tetap diam ditempatnya. Darah Saeliya terus mengalir, darah itu kini membentuk sebuah pola yang sama dengan lingkaran sihir itu.
Begitu darah itu sepenuhnya membentuk seperti pola lingkaran sihir itu, Saeliya mulai membaca sebuah mantra. Sebuah kristal muncul dari kaki Fernanse, kristal itu membuat Fernanse tidak dapat menggerakan kakinya sedikitpun.
"Kakak, kakak."
"Tenang saja Fernanse, Kau tidak perlu khawatir."
Kristal itu terus menerus menutupi tubuh Fernanse sampai akhirnya seluruh tubuh Fernanse tertutup oleh kristal itu.
Kini tubuh Fernanse telah sepehunya tertutup oleh kristal. Saeliya sakarang menggambar sebuah lingkaran sihir pada kristal itu. Dia mengambil jiwa milik Fernanse, Saeliya membuat jiwa itu tetap hidup sebagai roh. Hanya saja Saeliya membuat roh itu tidak memiliki ingatan saat dia masih memiliki tubuh. Dan Saeliya membuat roh itu memiliki sebuah informasi yang tentang ingatannya, informasi yang menberitau roh itu kalau dia akan mendapatkan kembali semua ingatannya jika dia kembali ketubuhnya.
Saeliya membawa Jiwa yang telah menjadi roh itu keluar dari ruangan bawah tanah itu. Sesampainya diluar Saeliya langsung melepaskan roh itu. Dia membuat roh itu menjauh dari dirinya dengan menggunakan sebuah burung.
"Kuharap suatu hari nanti salah satu penerusku akan membuatmu kembali kedalam tubuh aslimu. Selamat tinggal adikku yang tersayang."
Saeliya menerbangkan burung itu. Setelah burung itu pergi cukup jauh, Saeliya langsung pergi menuju pintu gerbang kastil.
Didepan pintu gerbang kastil itu terdapat banyak pasukan yang berkumpul. Itu adalah pasukan Saeliya yang siap untuk melakukan pertempuran yang terakhir.
__ADS_1