
Seekor burung Pipit tidak akan dapat memangsa seekor Phoenix, itulah yang dipercaya oleh kebanyakan orang begitu juga dengan Zen.
Namun dari yang Zen lihat Lin Yan bukanlah seekor burung Pipit melainkan burung elang. Zen percaya burung elang akan dapat memangsa seekor Phoenix suatu hari nanti.
"Biar kulihat bagaimana caramu melawan harimau itu Lin Yan."
Dari atas pohon Zen terus melihat kearah Lin Yan, tubuh Lin Yan menjadi gemetar karena dia ketakutan. Meski begitu dai tetap mengeluarkan pedang miliknya, Lin Yan tau kalau kali ini Zen tidak akan membantu dirinya hingga dia hampir menuju kematian.
Harimau putih itu merasakan sebuah perasaan ancaman dari Lin Yan, harimau itu kemudian dengan cepat langsung melompat kearah Lin Yan.
Meski dia Merasa takut namun Lin Yan dapat menghindari serangan itu dengan baik. Lin Yan lalu menyerang harimau itu dan membuat sebuah luka tebasan ditubuh Harimau itu.
Harimau itu menjadi sangat marah dia dengan cepat menyerang Lin Yan dengan cakaran, namun Lin Yan lagi lagi dapat menghindari serangannya dengan mudah. Lin Yan lalu menusuk dada harimau itu dan harimau itupun mati.
Nafas Lin Yan menjadi terengah engah, ini adalah pertempuran pertamanya melawan monster. Meski dia berhasil membunuh harimau itu namun tenaga yang dia gunakan terlalu banyak.
"Lumayan Lin Yan, namun itu masih belum berakhir."
Dari atas pohon itu Zen dapat merasakan dengan jelas kalau ada beberapa monster yang menuju kearah Lin Yan dengan cepat.
"Sekarang bagaimana caramu menghadapi mereka semua Lin Yan."
Dalam waktu singkat para monster itu telah mengelilingi Lin Yan, monster itu sama seperti yang sebelumnya yaitu monster harimau putih.
Jumlah mereka lebih dari sepuluh, itu adalah jumlah yang mustahil untuk dihadapi oleh Lin Yan saat ini. Meski begitu Zen masih belum melakukan pergerakan apapun, dia masih hanya akan melihat saja.
"Yang benar saja, apa kau masih tidak ingin membantu ku Zen."
Lin Yan telah menyadari kalau para harimau putih itu telah mengelilinginya. Meski begitu dia masih belum dapat melihat pergerakan Zen.
"Apa aku benar benar harus melawan mereka semua."
Para harimau itu kemudian langsung menyerang Lin Yan, dengan tubuh yang lemas dan sulit untuk digerakkan Lin Yan berusaha semaksimal mungkin itu menghindari semua serangan harimau putih itu.
Namun karena pergerakannya sangat lambat salah satu harimau berhasil menyerang Lin Yan dengan cakarnya. Setanah harimau itu membuat luka yang cukup besar ditangan kiri Lin Yan, Lin Yan Merasakan rasa sakit yang luar biasa dan tanpa dia sadari pedang miliknya telah menusuk tubuh harimau itu dan membunuhnya.
Para harimau itu kemudian menjadi sangat marah, dengan bersamaan mereka menyerang Lin Yan. Lin Yan sendiri menyadari kalau dia tidak akan dapat membunuh semua harimau itu dan dengan kesadaran yang hampir menghilang Lin Yan mengangkat Pedangnya keatas.
"Teknik kekosongan, gerakan kedua."
Lin Yan lalu dengan cepat menurunkan pedangnya kebawah dan dalam radius 10 meter daerah disekitarnya langsung hancur.
__ADS_1
"Dia sudah dapat menggunakan gerakan kedua ya, namun itu masih belum cukup Lin Yan."
Meski gerakan itu membuat kehancuran yang cukup besar namun para harimau itu hanya mendapatkan luka kecil saja.
Lin Yan telah mengerahkan semua kekuatan yang dia miliki dalam serangan tadi, kesadaran Lin Yan secara perlahan mulai dan diapun langsung pingsan. Melihat hal itu Para harimau itu kemudian kembali menyerang Lin yang yang telah kehilangan kesadaran itu.
"Hmm, kurasa sudah cukup bermainnya."
Zen bergerak dengan cepat dan dalam hitungan detik dia telah berada didekat Lin Yan yang pingsan. Zen lalu mengeluarkan pedang miliknya dan langsung membunuh para harimau itu.
"Ah, luka itu pasti akan membekas."
Zen sekarang tidak lagi memiliki pil untuk menyembuhkan luka, meski Zen tidak menginginkannya namun dia tidak memiuoikihan lain. Zen pun langsung mengeluarkan sebuah sihir untuk menyembuhkan luka yang ada ditangan kiri Lin Yan.
Sihir Zen sangat efektif, luka luka Lin Yan telah sembuh seperti tidak pernah ada. Meski begitu Lin Yan sama sekali tidak ada menunjukan tanda tanda akan bangun.
Zen lalu langsung menggendong langsung Lin Yan dan pergi dengan cepat. Setelah cukup lama Zen menuruni gunung sambil mengendong Lin Yan, Zen akhirnya menemukan sebuah goa.
Zen langsung mendatangi goa itu, begitu Zen ingin memasukinya seekor ular raksasa langsung keluar dan menyerangnya.
"Sampah."
Zen lalu dengan cepat mengelukan pedang miliknya dan memotong kepala ular itu. Tanpa perlawanan yang berarti ular itu pun mati.
******
Hari telah berganti dan akhirnya Lin Yan pun terbangun dari tidurnya.
"Bagaimana keadaan mu Lin Yan?"
"Cukup buruk?"
"Mengapa kau bertanya kepadaku, bukankah aku yang sedang bertanya kepadamu saat ini."
"Ah, yang ku maksud terasa cukup buruk."
"Apa kau merasakan ada yang sakit pada bagian tubuhmu?"
"Tidak ada."
"Lalu apanya yang terasa cukup buruk?"
__ADS_1
"Entahlah."
"Hahh."
Zen menghelahkan nafas yang cukup dalam, dia tidak lagi mengerti apa yang sedang dimaksud oleh Lin Yan. Zen pun langsung berdiri dan berjalan menuju pintu masuk goa.
"Jika kau sudah baik baik saja maka kita akan melanjutkan perjalanan."
"Baiklah."
Lin Yan langsung berdiri dan menyusul Zen. Mereka berdua dengan cepat langsung menuruni gunung.
Setelah cukup lama mereka akhirnya sampai ke kaki gunung, Disana Zen Merasakan kehadiran orang lain dan dia langsung menyuruh Lin Yan untuk berhenti.
"Sebelumnya aku merasa khawatir mengenai uang, namun sepertinya aku cukup beruntung sekarang. Kalian keluarlah tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi."
Mendengar perkataan Zen, cukup banyak orang yang keluar dari balik pepohonan.
"Hebat juga kau bisa menyadari aura milik kami."
Salah satu orang pria yang merupakan ketuanya berbicara kepada Zen.
"Apa yang kalian inginkan?"
"Berikan semau barang milikmu dan akan kubiarkan kau pergi. Ah tapi tinggalkan wanita itu disini."
Orang orang itu tersenyum kepada Zen dan mencoba untuk mengintimidasinya.
"Apa yang akan terjadi jika aku tidak melakukannya?"
"Maka aku akan melakukannya dengan paksa."
Pria itu lalu menyuruh seseorang berbadan cukup besar untuk menyerang Zen.
"Jangan salahkan aku nak, salahkan lah dirimu karena keras kepala."
Dengan sebuah pisau kecil ditangannya, pria berbadan besar itupun mendekati Zen.
"Begitu ya."
Pria berbadan besar itu langsung menyerang Zen, Zen dapat menghindari serangan itu dengan mudah. Zen lalu dengan cepat memegang kepala pria itu dan mengangkatnya.
__ADS_1
"Dasar sampah."
Zen lalu dengan kuat menekan kepala pria itu dan membuatnya hancur.