Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Kepala Keluarga Luo


__ADS_3

Lou Qin menatap Zen dengan tajam dan sedikit mengintimidasinya.


'alam dunia dewa lapis ke 4 ya, sepertinya dia adalah kepala keluarga Luo.'


"Apa kau orang telah membunuh anakku?"


Tanpa basa basi Luo Qin langsung bertanya kepada Zen.


"Entahlah, aku juga tidak tau siapa anakmu."


"Luo Xing, kau seharusnya tidak asing dengan nama itu bukan."


Tentu saja Zen mengenal nama itu, itu adalah nama orang yang telah melukai Lin Yan dan nama orang yang terakhir kali Zen bunuh.


"Luo Xing ya, sepertinya aku telah mendengar nama itu beberapa hari yang lalu."


"Tentu saja kau telah mendengarnya karena kaulah yang telah membunuhnya."


"Itu adalah perkataan yang tidak beralasan, bagaimana bisa kau menuduh orang seperti itu. Apa kau memiliki bukti?"


"Tentu saja aku memiliki bukti. Bawa pelayan itu kesini."


Sesuai dengan perintah Luo Qin salah satu orang pelayan membawa seorang pria kehadapan Zen. Pria itu adalah orang yang Zen biarkan hidup agar dapat melaporkan apa yang terjadi kepada kepala keluarga Luo.


"Apa benar dia yang terakhir kali menemui anakku?"


"Benar tuan, dia adalah yang terakhir kali bertemu dengan tuan muda."


"Apa kau telah mendengar?"


"Begitu ya, sepertinya aku tidak lagi dapat mengelak. Memang benar aku yang telah membunuh anakmu, apa yang akan kau lakukan setelah mengetahuinya?"


"Hemp, tentu saja aku akan membuatmu merasakan neraka?"


Luo Qin dengan cepat menyerang Zen menggunakan telapak tangannya.


"Sayang sekali masih kurang kuat."


Zen menahan serang Luo Qin dengan sangat mudah, Zen lalu melakukan serangan balik kepada Luo Qin.


Pukulan Zen membuat Luo Qin terhempas sampai keluar tempat makan itu.


"Liu Yu, tolong jaga Lin Yan."


Zen meninggalkan mereka dan pergi menuju tempat Luo Qin terhempas.

__ADS_1


"Hoo, sepertinya aku terlalu lembut."


Zen dapat melihat Luo Qin yang terbaring dipuing puing bangunan yang hancur, meski begitu Luo Qin sama sekali tidak dapat menerima luka yang fatal dari Serangan Zen.


'Bagaimana ini bisa terjadi?'


Luo Qin sama sekali tidak dapat menyangka kalau Zen dapat membuatnya terhempas seperti itu. Dia berada dialam dunia dewa lapis ke 4 sedangkan Zen berada dialam dewa lapis ke 5.


Jarak kekuatan mereka seharusnya sangatlah jauh, dan akan sangat mustahil bagi Zen untuk dapat menggemaskan dirinya seperti itu.


"Sepertinya anak itu tidak sesederhana kelihatannya."


Luo Qin secara perlahan mulai bangkit, dia dapat melihat Zen yang sedang melihat dirinya sambil tersenyum dan merendahkan.


Luo Qin menjadi sangat kesal dengan tatapan itu, dia lalu dengan cepat menyerang Zen selagi dia sedang lengah.


"Aku tadi mungkin sedikit lengah, namun Tidak untuk sekarang."


Sebuah tapak tangan emas yang besar muncul di atas Zen, tapak itu dengan cepat turun dan menghancurkan apapun yang ada dibawahnya.


"Hampir saja, jika tubuhku sama seperti tubuh para seniman beladiri alam dewa lainnya mungkin aku sudah mati karena serangan tadi."


Zen membersihan debu debu yang ada dipakainya, meski serangan Luo Qin tadi sangat kuat namun serangan itu masih belum dapat membuat Zen terluka parah.


"Namamu Luo Qin bukan, apa kau pernah melihat neraka?"


Zen menjadi sedikit penasaran dengan neraka yang dimaksud oleh Luo Qin.


"Itu...."


"Sayang sekali."


Tanpa Luo Qin sadari Zen telah berada tepat didepannya.


"Padahal aku ingin melihat neraka yang kau bilang tadi, namun sepertinya kau juga belum pernah melihatnya."


Zen memukul Luo Qin dengan sangat kuat hingga dia terhempas cukup jauh.


"Pada akhirnya ini akan berakhir sama seperti yang sebelumnya."


Sebuah pertarungan tanpa perlawanan yang berarti, Zen telah bosan Merasakan hal itu didunia dengan energi spiritual ini.


"Apa kalian ingin menghalangi ku?"


Zen hendak pergi ketempat Luo Qin, namun ada cukup banyak orang yang mengelilinginya. Kebanyakan orang orang itu berada dialam dewa dan beberapa dialam dunia dewa.

__ADS_1


"Jika kalian ingin melakukan hal itu maka lupakan saja, meski jumlah Kalian banyak namun kalian tetap tidak akan dapat mengalahkanku."


Dengan kekuatan Zen yang sekarang, bahkan jika semua seniman beladiri dibenua dewa ini menyerangnya mereka tetap masih belum dapat mengalahkan Zen.


"Kau terlalu meremehkan kami, namun aku akan berterima kasih karena hal itu."


Mereka semua lalu membentuk sebuah formasi dilangit, formasi itu lalu membentuk sebuah penghalang yang mengelilingi Zen.


"Ini.... Formasi pembakar langit."


Didalam penghalang itu muncul sebuah burung Phoenix yang terbuat dari api biru yang menyala. Api itu mengandung hukum api lapis ke 3, panas api itu sendiri sudah cukup untuk membakar sebuah kota.


"Hanya lapis ke 3 ya."


Meski formasi itu sudah sangat kuat namun kekuatan formasi itu masih terlalu jauh dibawah kekuatan aslinya. Kekuatan asli formasi itu dapat menciptakan Phoenix dengan menggunakan hukum api lapis ke 6.


"Tidak peduli dari hukum api lapisan keberapa dia terbentuk, namun Pada akhirnya Phoenix itu tetaplah Phoenix palsu."


Zen mengeluarkan pedangnya dan mengayunkannya, tekanan angin yang tercipta dari ayunan pedang itu membuat Phoenix api itu terbelah menjadi dua. Namun itu hanya sementara saja, tidak lama kemudian Phoenix api itu kembali kebentuk semulanya.


"Hahaha, tidak peduli sebesar apa kekuatanmu kau tetap tidak akan dapat mengahancurkan Phoenix itu."


Phoenix itu lalu mengeluarkan api dari mulutnya, api itu membakar semua yang ada didalam penghalang itu.


"Hahaha, Inilah akhir darimu."


Seorang pria tua tertawa dengan penuh kebanggaan, dia sangat yakin akan kemenangannya dan kematian Zen.


"Kenapa kau terlihat begitu senang?"


"Apa?"


Pria tua itu langsung terkejut begitu dia mendengar perkataan Zen.


"Bagaimana mungkin?"


Pria tua itu sangat tidak percaya, api itu mengandung hukum api lapis ke 3. Panas api itu sendiri bahkan tidak akan dapat ditahan oleh tubuh seorang seniman beladiri alam dunia Dewa lapis kedua.


"Api seperti ini tidak akan dapat menghancurkan tubuhku, jika kau benar benar ingin membunuhku setidaknya cobalah untuk menggunakan api abadi."


Suhu terpanas dari api abadi dapat mencapai hukum api lapis ke 8, panas seperti itu dapat membuat tubuh Zen mengalami luka yang cukup parah.


"Ah aku lupa, api abadi bukanlah sesuatu yang bisa kalian dapatkan begitu saja. Kupikir sudah saatnya mengakhiri ini. Seni Kekosongan, pedang kekosongan."


Zen mengayunkan pedangnya, bilah bilah hitam keluar dan menghancurkan semua api yang disentuhnya.

__ADS_1


Bilah-bilah hitam itu membuat Phoenix api itu terbelah menjadi banyak bagian dan tidak dapat kembali kebentuk semulanya.


Karena bilah bilah hitam itu juga penghalang yang mengelilingi Zen pun juga ikut hancur dan formasi pembakar langit langsung menghilang.


__ADS_2