
"Yah, sesuai perkiraan kalau Cilkus pasti akan kalah."
"Mau bagaimana lagi, lagi pula lawannya adalah leluhur pertama."
Mabas dan Lepis saling berbicara begitu mereka melihat hasil dari pertarungan antara Zen dan Cilkus.
"Tapi bukankah ada yang aneh, Lapis."
"Apa yang aneh Arcel?"
"Kekuatan Zen terlihat sangat kecil. Meski dia membuat hancur hutannya, tapi gunungnya sama sekali tidak tersentuh."
"Setelah kau bilang begitu aku jadi merasa kalau kau benar Arcel."
Para leluhur vampire yang lain tau dengan jelas kekuatan besar yang dimiliki oleh leluhur pertama. Karena itulah tidak seperti Cilkus, mereka sama sekali tidak menganggap remeh Zen meskipun dia dulunya adalah seorang manusia.
"Apa yang kalian pikirkan? Bukankah itu karena dia menahan kekuatannya?"
Mabas memberikan pendapatnya kepada Lapis dan Arcel yang mengira kalau kekuatan Zen menjadi lebih lemah.
"Meski kau bilang begitu Mabas, tapi kurasa aku sangat yakin dengan perkataan dari Arcel."
"Aku juga sedikit percaya dengan apa yang dikatakan Arcel. Tapi aku sangat yakin dengan apa yang kukatakan, itu karena ada beberapa hal yang diberitaukan olehku sebelum aku menerima kekuatan leluhur keempat."
"Oleh pewaris sebelumnya?"
"Ya."
"Ngomong ngomong Mabas, bisakah kau memberi tau kepada kami apa yang diberitaukan padamu oleh pewaris sebelumnya?"
Kerena penasaran Arcel langsung bertanya kepada Mabas dengan cepat.
"Apa kau benar benar ingin tau Arcel?"
"Ya. Tapi jika kau merasa keberatan maka itu tidak masalah untukku jika kau tidak ingin memberitaunya."
"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Aku bisa memberitaunya kepada kalian."
Mendengar jawaban dari Mabas, para leluhur lain yang tadinya hanya mendengarkan dengan tenang kini mulai mendekat kearah Mabas.
"Itu terjadi sehari sebelum aku mewarisi kekuatan leluhur keempat."
Mabas mulai berbicara dengan nada yang tenang.
"Pada saat itu pewaris sebelum diriku memberitauku tentang leluhur pertama. Dia bilang leluhur pertama adalah leluhur yang tidak suka memamerkan kekuatnnya, meski begitu leluhur pertama sama sekali tidak boleh diganggu. Dia bilang kalau selama aku tidak mengganggu leluhur pertama ataupun orang yang terdekatnya, maka dia pasti tidak akan menyerangku."
Para leluhur yang lain mendengarkan perkataan Mabas dengan tenang.
"Setelah melihat kerusakan yang dibuat oleh Zen aku jadi yakin kalau yang dia katakan waktu itu benar, kalau leluhur pertama tidak suka memamerkan kekuatannya. Aku saja bisa membuat kerusakan yang lebih besat dari itu dengan kekuatanku."
Setelah Mabas selesai bercerita, para leluhur lain menjadi diam untuk sesaat.
__ADS_1
"Jadi apakah hanya itu yang diberitaukan kepadamu Mabas? "
Arcel bertanya kepada Mabas.
"Iya, hanya itu."
"Jika hanya itu akupun juga sudah diberitahu oleh pewaris yang sebelumnya."
"Eh, yang benar?"
"Aku juga diberitau tentang itu Mabas."
"Kebetulan aku juga sama."
Lapis,Arcel, dan Argare sama dengan Mabas, mereka juga telah diberitau oleh pewaris mereka yang sebelumnya mengenai leluhur pertama. Tentu saja mereka bukan takut kalau mereka akan mati jika melawan Zen, mereka hanya tidak ingin menerima kehancuran yang besar diwilayah mereka.
"Jadi sebagian dari kita telah diberitau mengenai itu ya."
"Iya, kurasa hanya Cilkus yang tidak diberitau oleh pawaris sebelum dirinya."
"Pewaris sebelum dirinya juga merupakan dari keluarga Cilius, kebanyakan dari mereka adalah orang orang sombong. Jadi adalah hal yang biasa jika Cilkus tidak diberitau mengenai hal itu."
"Ya, Kesombongan mereka sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Juga untung saja Elizabeth menghentikan Zen, jika tidak dia mungkin sudah mati sekarang."
"Benar sekali."
Para leluhur melihat kearah Elizabeth yang memegang tangan Zen untuk menghentikan Zen menusuk jantung Cilkus dengan pisau.
* * * * * * * * * * * *
"Tentu saja saya dengar Nona Fernanse."
"Apa yang membuat mereka takut dengan Zen?"
"Bukankah anda sudah mendengar apa yang mereka katakan. Yang mulia adalah seorang leluhur pertama, tentu saja mereka takut dengan kekuatannya yang dimiliki oleh yang mulia."
"Apa kekuatannya Zen benar benar semengerikan itu? Saat itu aku masih sangat kecil jadi aku tidak tau seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh kakakku."
"hmm, saya sendiri tidak terlalu tau sekuat apa kekutan yang mulia saat dalam keadaan penuh. Tapi apakah anda dapat melihat gunung yang ada disana Nona Fernanse?"
Dimalam yang gelap itu tangan Irene menunjuk sebuah gunung yang ada didepan mereka.
"Iya, aku dapat melihatnya. Itu adalah gunung yang cukup besar."
"Jika yang mulia dalam keadaan kekuatan yang penuh, maka gunung itu dapat dihancurkan dalam waktu satu kali kedipan mata."
"Bukankah itu berarti kekuatannya sangat besar?"
"Iya betul sekali."
Mendengar perkataan Irene, Fernanse mendapatkan sedikit gambaran mengenai kekuatan Zen. Fernanse berfikir kalau kekuatan yang Zen miliki mungkin akan sulit untuk dibandingkan dengan orang lain.
__ADS_1
Fernanse sendiri sudah hidup lebih dari 500 tahun sebagai roh kegelapan. Fernanse juga telah melihat berbagai mahluk hidup, berbagai Ras, namun dia belum pernah melihat orang yang memiliki kekuatan sebesar Zen.
"Irene, menurutmu berapa banyak orang yang dapat melawan Zen saat dia dalam keadaan kekuatan penuhnya?"
"Hmm, saya sendiri kurang tau berapa banyak jumlah pastinya. Tapi menurut saya ada sekitar 10 orang."
"Bukankah itu terlalu banyak Irene?"
"Tidak, itu bukan berarti setiap orangnya memiliki kekuatan yang sama dengan yang mulia. Hanya Kaisar Naga yang memiliki kekuatan yang sama dengan yang mulia, untuk sisanya adalah kekuatan gabungan dari yang mulia leluhur kedua dan kelima. Lalu jika yang mulia berhasil memberikan tujuh pelayannya kepada tujuh manusia maka para manusia itu akan setara dengan yang mulia."
"Begitu ya, jadi bisa dibilang hanya merekalah yang menjadi ancaman untuk Zen."
"Untuk sekarang mungkin benar."
Dari kejahuan Irene dan Fernanse dapat melihat Zen menuju kearah mereka dengan cepat. Dalam waktu yang singkat Zen sudah berada didepan Irene dan Fernanse. Karena kecepatannya Zen mendarat didepan Irene dan Fernanse membuat banyak debu berterbangan.
"Cepat juga kau kembali Zen."
Fernanse adalah yang pertama berbicara dengan Zen.
"Jadi bagaimana Fernanse, apakah tadi adalah pertunjukan yang menarik?"
"Ya, Sedikit menarik."
"Sedikit ya... "
"Yo Zen, tadi itu adalah pertunjukan yang sedikit menarik."
Argares datang kearah Zen dengan santai.
"Bagi andapun juga seperti itu ya."
"hmm, apanya?"
"Tidak lupakan saja."
"Begitu ya, jadi Zen apa yang akan lakukan setelah ini?"
"Saya akan segera kembali kekastil dan mencari orang yang ketujuh."
"Kalau begitu somoga kau dapat menemukannya dengan cepat.
"
"Iya, lagi pula dengan begitu anda akan bisa mengamuk sepuas anda."
Mendengar perkataan Zen, Argares menjadi tersenyum licik kepada Zen.
"Kau sangat tau dengan apa yang kuinginkan."
Zen membalas senyuman Argares dengan senyuman yang terkesan licik juga. Zen langsung membuka sebuah gate yang menuju kekastilnya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan Argares."
Zen, Irene, dan Fernanse segera masuk kedalam gate yang Zen buat.