Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Orang Ketujuh


__ADS_3

Didunia ini sihir adalah sesuatu yang normal, untuk dapat menggunakan sihir seseorang harus memiliki mana yang merupakan bahan bakar untuk sihir. Semangkin banyak mana yang dimiliki oleh seseorang maka semangkin kuat sihir yang dapat dia gunakan.


Ada tiga cara untuk dapat menggunakan sihir, cara pertama adalah dengan membaca mantra. Ini adalah cara yang biasanya digunakan oleh ras seperti manusia. Karena jarang ada manusia yang memiliki banyak mana, jadi mereka harus membaca mantra agar dapat menggunakan sihir. Dengan membaca mantra maka mana yang diperlukan untuk menggunakan sihir tidak terlalu besar, tentu saja itu tergantung dengan level sihirnya.


Cara kedua adalah dengan tanpa membaca mantra, cara ini biasanya digunakan oleh mereka yang memiliki banyak mana. Tanpa membaca mantra mereka dapat membuat lingkaran sihir dalam waktu singkat, tentu saja saat sedang pertempuran cara ini lebih berguna dari pada menggunakan mantra.


Cara yang ketiga adalah dengan menggunakan alat sihir, biasanya berbentuk pedang atau tongkat. Cara ini lebih mudah digunakan dari pada dua cara sebelumnya, dengan alat sihir seseorang dapat menggunakan sihir hanya dengan mengalirkan sedikit mana mereka kedalam alat sihir. Namun sayangnya alat sihir tidak dapat digunakan terus menerus, tergantung dengan kualitas. Alat sihir dengan kualitas yang tinggi mungkin hanya dapat digunakan sekitar tiga kali.


Cara yang digunakan oleh Roh cahaya adalah cara yang kedua, sedangkan yang digunakan oleh Fernanse adalah cara yang ketiga.


Ribuan anak panah cahaya menuju kearah Fernanse dan Zen. Namun tidak ada satupun anak panah yang dapat mengenai Zen ataupun Fernanse. Sihir Fernanse membuat anak anak panah itu menjadi hilang begitu mereka mengenai dinding hitam yang Fernanse buat.


Dinding ini berbeda dengan penghalang milik Zen. Penghalang milik Zen menetralkan sihir secara paksa, sedangkan dinding Fernanse membuat anak anak panah sihir itu menuju ke kehampaan. Dengan kata lain dinding Fernanse mengirim anak anak panah sihir itu menuju ketempat yang tidak ada didunia ini.


"Penghalang yang merepotkan."


Roh cahaya itu membuat sebuah lingkaran sihir besar diatas Fernanse. Lingkaran sihir itu mengeluarkan sebuah petir emas yang besar, bahkan suaranya sangat kuat. Namun sama dengan anak panah cahaya itu, Petir emas itu juga tidak dapat mencapai Fernanse.


"Bukankah itu kekuatan yang mengerikan, Fernanse?"


"Meski tidak semengerikan kekuatanmu."


"Haha, kau suka sekali bercanda Fernanse."


"Tidak, tidak. Aku sedang tidak bercanda, bagaimanapun kau adalah seorang monster."


Fernanse melihat kearah Zen dengan sedikit tersenyum mengejek kepadanya.


"huft, tingkah lakumu sama sekali tidak cocok dengan tubuhmu Fernanse. Padahal kau akan sangat manis jika hanya diam saja."


"Ya mau bagaimana lagi, lagi pula jiwaku sudah hidup selama lima ratus tahun lebih."


"Kurasa kau benar. Jadi apa yang akan kau lakukan? Aku sudah mulai bosan berada didalam sihirmu ini."


"Tenang saja, ini akan segera berakhir."


Seperti yang Fernanse katakan, tidak lama kemudian semua lingkaran sihir milik roh cahaya menghilang. Bukan karena roh cahaya menyerah untuk menyerang Fernanse, namun ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya.

__ADS_1


Roh cahaya itu memegang dada kirinya, ekspresinya menunjukan kalau dia sedang merasa kesakitan. Melihat itu Fernanse segera menghilangkan sihir nya, Fernanse kemudian berbicara dengan roh cahaya itu.


"Gadis itu bahkan tidak dapat menahan sepersepuluh kekuatanmu, jika kau terus menggunakan tubuh gadis itu kau tidak akan pernah dapat membunuhku. Jadi mengapa kau tidak langsung datang kedunia ini dengan tubuh aslimu?"


"Itu tidak perlu, lagi pula tujuanku datang kedunia ini bukan untuk membunuhmu melainkan untuk sesuatu yang lain."


"Oh begitu, lalu kau kembalilah dengan tenang kedalam tubuh gadis itu. Lagi pula tubuh manusia itu sangatlah lemah."


"Aku akan melakukan itu nanti, namun sebelum itu ada yang ingin kutanyakan kepada orang yang ada disebelahmu itu. Apa kau tidak masalah dengan itu?"


"Ya, tidak ada masalah sedikitpun denganku."


"Kalau begitu aku akan bertanya kepadanya."


Roh cahaya itu melihat kearah Zen.


"Leluhur pertama vampire, berapa lama kau akan hidup dengan menanggung berkah sekaligus hukuman itu?"


Roh cahaya itu bertanya kepada Zen sambil menahan rasa sakitnya. Semangkin lama dia menggunakan tubuh Ziyun, maka akan semangkin besar rasa sakit yang akan dia rasakan.


"Ya kurasa begitu. Mungkin kau harus bertanya kepada perempuan yang berhubungan cukup dekat denganmu itu. Dengan kekuatannya kurasa dia sudah sedikit melihat akhir darimu."


"Sayangnya Sebisa mungkin aku tidak ingin bertanya kepadanya mengenai masalah itu."


"begitu ya. Kuharap kau segera menemukan kematianmu."


Roh cahaya itu perlahan mulai kembali kedalam tubuh Ziyun, warna rambut Ziyun pun kini telah kembali berwarna pirang.


"Kurasa keinginanmu itu sedikit sulit untuk dikabulkan, lagi pula aku ini abadi."


"Ya kurasa keinginannya itu sedikit merepotkan. Tapi mungkin saja dia telah melihat akhir darimu Zen."


"Ya kurasa begitu. Tapi tidak ada yang perlu kukhawatirkan mengenai itu, lagi pula masa depan itu tidak hanya satu. Mereka selalu berubah ubah setiap saat."


"Benar juga. Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya Zen?"


"Aku akan memberikan pelayanku kepada orang itu sekarang. Lagi pula kita tidak bisa berlama lama disini, para pahlawan yang lain sedang menuju kesini. Dan juga tamu yang tidak diundang itu sudah mulai mendekat."

__ADS_1


Sebenarnya Tamu tidak diundang itulah yang membuat Zen datang keperperangan ini. Namun karena Zen melihat sesuatu yang menarik jadi dia ikut bergabung kedalam perang ini.


"Kalau begitu lakukanlah sekarang, aku akan menunggumu disini."


"Baiklah."


Zen bergerak dengan cepat, dalam hitungan detik dia sudah sampai ketempat Sieg. Disitu Zen dapat melihat Sieg yang terbaring sekarat itu, bahkan Sieg mungkin sudah hampir tidak dapat membuka mulutnya sedikitpun lagi.


"Ah sayang sekali, kurasa aku akan mengambil pedang ini."


Zen mengambil pedang terkutuk yang ada didekat Sieg, tidak ada yang dapat menghentikan Zen. Accua dan Kufa terluka dengan berat, sedangkan Sieg sudah hampir kehilangan kesadarannya.


"Tenang saja, aku akan membayar untuk pedang ini."


Zen menyimpan pedang terkutuk itu, lalu Zen mengeluarkan pedang suci dan pelayan ketujuh miliknya.


"Aku akan memberikanmu pedang ini, dan juga pelayan ini."


Zen menancapkan pedang suci itu tanah, lalu Zen melukai tangannya dan memberikan darahnya kepada Sieg. Luka luka ditubuh Sieg mulai pulih kembali.


"Sebagai leluhur pertama aku memeritahmu. Pelayan ketujuh Satein, Mulai sekarang dia akan menjadi tuanmu."


Mendengarkan perintah Zen, Satein mulai melepaskan diri dari Zen dan memasuki tubuh Sieg.


"Dengan begini semua bidaknya sudah lengkap."


Zen kemudian berpindah dari tempat Sieg ketempat Kufa.


"Ini Hadiah untukmu Kufa, jika kau ingin membunuhku maka kau harus mengumpulkan orang orang ini."


Zen memberikan sebuah kertas kepada Kufa, Zen lalu kembali ketempat Fernanse.


"Ayo kita kembali Fernanse."


Zen membuka sihir gerbang miliknya. Zen dan Fernanse memasuki sihir gerbang itu, dan sihir gerbang itu mulai menutup.


Begitu sihir gerbang itu menutup sepenuhnya, para pahlawan yang lainnya berserta dengan Baal sampai ketempat Kufa dang yang lainnya berada.

__ADS_1


__ADS_2