
"Zen, kemana kita akan pergi."
"Pergi ketempat Taks."
Dilorong kastil miliknya Zen berjalan dengan cepat diikuti oleh Irene dan Fernanse disampingnya. Zen sedang menuju ketempat latihan para prajurit miliknya, Alasan Zen pergi kesana adalah karena dia ingin menemui jendralnya yaitu Taks.
Zen berjalan melewati Bayak lorong yang ada dikastilnya, hingga akhirnya dia sampai ketempat latihan para prajurit. Ruangan itu terlihat seperti sebuah lapangan yang ada didalam ruangan, lantai ruangan itu terbuat dari tanah. Orang orang berkumpul ditempat latihan itu, mereka adalah para pemimpin pasukan yang merupakan bawahan dari Jendral Taks.
Ditempat latihan itu Zen melihat Taks sedang berdiri dipusat para pemimpin yang berkumpul itu. Zen berjalan kearah Taks berada, para pemimpin yang berkumpul itu merasakan keberadaan Zen begitu juga dengan Taks. Mereka semua memberikan hormat kepada Zen, setelah mereka memberikan hormat Zen menyuruh semua orang itu kecuali Taks untuk pergi.
Sesuai dengan perintah Zen, para pemimpin itu pergi meninggalkan tempat latihan itu.
"Apa yang membuat anda datang kesini yang mulia?"
"Aku hanya ingin sedikit memberimu perintah."
"Perintah apa itu yang mulia?"
"Kau tau bukan kalau para manusia akan menyerang dalam beberapa hari lagi."
"Iya, saya tau yang mulia."
"Aku ingin kau membawa beberapa prajurit keperbatasan untuk melawan mereka. Kau yang akan memimpin pasukan, apakah itu tidak masalah Taks?"
"Saya yang memimpin? Bukan anda?"
Taks bertanya kepada Zen dengan heran. Taks tau kalau pangkatnya dalam militer cukup tinggi, namun itu masih tidak sebanding dengan Zen. Bagaimanapun juga Zen adalah seorang leluhur, seorang jendral dalam militer sangat tidak sebanding dengannya.
Biasanya pada saat ada serang dikastil, seorang leluhur adalah orang yang akan memimpin pasukan. Namun kali ini Zen menyuruh Taks untuk memimpin Pasukan, karena itulah Taks menjadi sedikit binggung dengan tindakan Zen.
"Ya, kau yang akan memimpin pasukan. Bawalah sekitar dua ratus prajurit, jumlah itu seharusnya sudah cukup untuk melawan para manusia itu."
"Tapi yang mulia mengapa bukan anda yang memimpin pasukan? dan juga disisi para manusia itu ada para pahlawan. Saya tidak yakin untuk dapat mengalahkan para pahlawan itu."
"Taks, Aku tidak dapat memimpin pasukan. Ada beberapa hal merepotkan yang akan terjadi nantinya. Aku hanya akan melihat pertempuran dari jauh, dan juga kau tidak perlu khawatir mengenai para pahlawan itu.
__ADS_1
"
"Meski begitu yang mulia, mereka adalah pahlawan. Aku sendiri kurang yakin dapat megalahkan mereka atau tidak."
Kekhawatiran yang dirasakan oleh Taks adalah sesuatu yang wajar. Tidak Seperti Zen yang memiliki persentase yang tinggi akan kemenangannya, Taks tidak memiliki itu. Tidak peduli sekuat apa kekuatan yang dimiliki Taks, dia masih berada jauh dibawah pahlawan.
"Tidak perlu khawatir mengenai itu Taks, meskipun mereka adalah pahlawan tapi mereka baru saja terpanggil. Dengan kekuatanmu yang sekarang mereka bukanlah sebuah masalah."
Meski perkembanagan kekuatan para pahlawan sangat cepat namun mereka baru saja terpanggil. Para pahlawan yang saat ini belum merupakan ancaman untuk ras ras yang lain. Karena itulah Zen yakin kalau Taks masih lebih kuat dari pada para pahlawan yang saat ini.
"Apakah itu benar yang mulia?"
"Iya, tentu saja. Lagi pula jika keadaan mendesak maka aku akan langsung bergabung denganmu."
"Baiklah yang mulia jika anda berkata seperti itu. Saya akan membawa sekitar dua ratus pasukan dan segera menuju kesana."
"Kau bisa pergi sekarang, aku akan menyusul nanti."
"Baik yang mulia, kalau begitu saya permisi."
Taks menundukan kepalanya kepada Zen, lalu dia pergi berjalan meninggalkan tempat latihan itu. Begitu Taks telah pergi Fernanse dan Irene datang kearah Zen.
"Mengenai apa, Irene?"
"Tidak memberitau yang sebenarnya kepada jendral Taks?"
"Tidak apa apa, aku sudah memberitaunya sebagian besar. Lagi pula akan lebih baik baginya jika tidak mengetahui semuanya."
Kebanyakan orang akan lebih baik untuk tidak mengetahui banyak hal. Biasanya orang yang terlalu banyak mengetahui sebuah informasi akan lebih cepat mati. Entah itu mati karena dibunuh agar informasi tidak menyebar, atau mati bunuh diri karena terlalu banyak tekanan yang Seseorang terima karena informasi yang dia miliki.
Seseorang yang tidak memiliki terlalu banyak informasi juga akan hidup lebih baik dari yang lain. Itu karena mereka tidak terlalu memikirkan banyak hal, dengan begitu mereka tidak akan hidup didalam bayang bayang.
Zen memutuskan untuk tidak terlalu banyak memberikan informasi kepada Taks karena dia berfikir kalau Taks nantinya bisa tidak fokus pada pertempuran karena informasi yang dia terima dari dirinya.
"Kalau yang mulia sudah mengatakan itu, maka saya tidak akan bertanya lagi."
__ADS_1
"Jadi Zen, kapan kita akan pergi melihat pertempuran itu?
"
"Entahlah, aku masih belum memikirkannya."
"Kau tidak akan bisa berbohong kali ini Zen, setelah beberapa saat bersamamu aku menyadari sesuatu tentang dirimu. Semua tindakan yang kau lakukan selalu sesuai dengan rencana yang telah kau buat."
"Itu hanya perasaanmu saja Fernanse, mana mungkin aku selalu berjalan sesuai dengan rencanaku. Setiap saat pasti akan selalu ada beberapa hal yang terjadi begitu mendadak. Lagi pula tidak mungkin manusia dapat selalu bertindak sesuai dengan rencana yang telah dibuat, jadi bertindak sesuai dengan yang telah direncanakan itu adalah hal yang mustahil."
"Memang benar setiap saat pasti akan selalu ada beberapa hal yang terjadi begitu mendadak. Tapi menurutku bagimu itu bukanlah sebuah masalah, meski hal itu terjadi kau selalu dapat membuat rencana yang baru lagi dan bertindak sesuai dengan rencana baru itu. Dan juga memang benar kalau melakukan hal seperti itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh manusia. Tapi kau bukanlah manusia, kau adalah Vampire jadi kurasa itu adalah hal yang mudah bagimu."
Fernanse melihat kewajah Zen, begitu juga dengan Zen dia menatap Fernanse. Namun Zen hanya menatap Fernanse dengan tatapan biasa, bukan tatapan yang mengintimidasi atau merendahkan.
"Sepertinya kau mengetahui mengenai diriku dengan sangat baik Fernanse."
"Ya begitulah, setelah beberapa saat bersamamu aku jadi mengetahuinya. Lagi pula aku yakin Nona Irene juga telah mengetahui tentang itu."
Fernanse tersenyum kecil kepada Irene, Irene membalas senyuman dari Fernanse itu dengan senyumannya.
"Jadi Zen, aku bertanya sekali lagi. Kapan kita akan pergi?"
"Apa kau benar banar ingin mengetahuinya. Meskipun kau tidak mengetahuinya aku tetap akan mengajakmu bukan."
"Memang benar meski kau tidak memberitauku kapan kita akan pergi kau pasti tetap akan membawaku. Namun kali ini ada sesuatu yang ingin kupersiapkan sebelum pergi, jadi aku ingin kau memberitauku kapan kita pergi."
"Baiklah, aku akan memberitaumu. Kita akan pergi besok, jadi persiapkan lah apa yang ingin kau persiapkan. Aku tidak akab menunggumu."
"Baiklah, aku akan mempersiapkannya secepatnya."
*
*
*
__ADS_1
*
"Orang lain bilang 'Pilihlah apa yang kau inginkan dengan benar agar nantinya tidak akan ada penyesalan'. Mudah bagi mereka untuk mengatakan hal itu, Namun bagiku tidak peduli apapun yang kupilih semua itu pasti akan berakhir dengan penyesalan." Oleh: Kin Pria Yang Gugur Dalam Perperangan.