Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Sedikit Gerakan


__ADS_3

"Ini adalah benua dewa, bagian kerajaan Wei. Apa ada masalah?"


"Tidak ada sama sekali. Ngomong ngomong bisakah kau menunjukan arah menuju kota terdekat?"


"Bisa saja, tapi kau harus menjawab satu pertanyaan dariku."


"Tidak masalah, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Dari kerajaan mana kau berasal?"


Perempuan itu merasa sedikit aneh dengan Zen, normalnya jika seseorang berasal dari kerajaan Wei mereka dapat dengan mudah mengetahui dimana kota terdekat dari hutan ini.


Namun tidak hanya benua, Zen bahkan tidak tau dimana kota terdekat dari tempat dia saat ini.


"Aku tidak tau dengan pasti dari kerajaan mana aku berasal, namun aku dapat mengatakan dengan pasti kalau aku bukan berasal dari benua ini."


"Dari benua mana kau berasal?"


"Bukankah kau mengatakan hanya menjawab satu pertanyaan saja?"


Zen sedikit tersenyum kecil kepada perempuan itu.


"Anggap saja ini adalah bayaranku karena telah memberikan mu beberapa informasi. Jadi dari benua mana kau berasal?"


"Benua dongchen."


"Ah benua itu ya, lalu siapa perempuan itu?"


Perempuan itu lalu melihat Lin Yan yang sedikit bersembunyi dibelakang Zen.


"Dia murid ku."


"Murid?"


Perempuan itu sedikit bingung dengan apa yang Zen katakan, meski dia tau kalau Zen berada dialam dewa lapis pertama namun menurutnya Zen masih belum pantas untuk dapat menerima seseorang menjadi muridnya.


"Kurasa sudah saatnya kau berhenti bertanya dan memberitauku dimana kota terdekat dari sini."


"Yah kurasa kau benar, kebetulan aku juga ingin pergi ke kota jadi kau bisa mengikuti ku."


Perempuan itu lalu menurunkan pedang miliknya dan menyimpannya.


"Kalau begitu aku akan menerima tawaran darimu."


Zen dan Lin Yan berjalan mengikuti perempuan itu.


"Ngomong ngomong aku masih belum memperkenalkan diri, namaku Liu yu. Siapa namamu?'


"Zen Cavalier dan dia adalah Lin Yan."


"Nama yang cukup aneh, dan juga aku sedikit terkejut karena kau menerima tawaranku begitu saja."

__ADS_1


"Yah lagi pula tidak ada alasan bagiku untuk menolak tawaran darimu."


"Kau benar juga, lalu apa yang akan kau lakukan jika aku berniat buruk kepada kalian?"


"Sebelum kau dapat melakukan apa yang kau inginkan kurasa aku telah lebih dahulu mengambil jiwa milik mu."


"Jiwa?"


"Ah, maaf. Maksudnya roh milikmu."


Didunia dengan mana itu dikenal dengan jiwa, sedangkan didunia energi spiritual itu disebut dengan roh. Dan untuk didunia atas itu disebut dengan roh ataupun jiwa, lagi pula kedua hal itu memiliki arti yang sama.


"Itu terdengar sombong sekali. Dibenua dongchen kau mungkin kuat namun dibenua ini kau bisa dibilang masih lemah."


"Lemah ya, seperti biasa kalian para seniman beladiri sangatlah bodoh."


"Apa yang kau maksud?"


Liu Yu menghentikan langkahnya, Zen dan Lin Yan pun juga melakukan hal yang sama.


"Kalian selalu membedakan yang kuat dengan yang lemah dengan cara melihat tingkatan kultivasi."


Seperti para pengguna mana yang selalu menilai melalui tingkatan gelar, para seniman beladiri juga selalu menilai melalui tingkatan kultivasi.


Meski tingkatkan kultivasi adalah yang membedakan antara mereka yang kuat dan yang lemah, namun akan selalu muncul sebuah keberadaan yang memiliki kekuatan lebih kuat dari tingkatan kultivasinya.


"Untuk orang yang berada dialam dewa lapis pertama Perkataan mu terdengar sedikit sombong."


"Entahlah, bagaimana ya caraku mengatakannya."


Liu Yu dengan cepat menarik pedangnya dan menyerang Zen.


"Itu sedikit berbahaya kau tau."


Zen dengan mudah dapat menahan serangan Liu Yu dengan kedua jarinya. Liu Yu mencoba menarik pedangnya dari tangan Zen, namun dia sama sekali tidak dapat melakukannya.


"Kau terlalu lemah."


Zen lalu mengeluarkan aura miliknya, aura itu membuat tubuh Liu Yu gemetaran dan sulit untuk digerakkan. Zen lalu mengeluarkan pedang miliknya dan dengan cepat langsung menyerang Liu Yu.


Pedang Zen berhenti tepat didepan leher Liu Yu, jika dia menggerakkannya beberapa mili lagi maka leher Liu Yu pasti akan terluka.


"Seperti aku terlalu berlebihan."


Zen lalu berhenti mengeluarkan aura miliknya, dia juga menarik kembali pedangnya dan menyimpannya.


Liu Yu langsung terduduk ditanah dengan tubuh yang masih bergetar.


"Mungkin aku sebaiknya tidak melakukan hal itu."


Zen lalu melihat kebelangnya, disana dia melihat Lin Yan yang telah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Lin Yan."


Zen dengan cepat langsung mendekati Lin Yan, dan dia langsung menggendongnya. Zen lalu berjalan kearah Liu Yu dan menyentuh kepalanya.


"Sadarlah Liu Yu."


Tubuh Liu Yu yang tadinya bergetar kini telah kembali tenang.


"Tunjukan padaku jalam menuju kota sekarang."


Zen dekat harus merawat Lin Yan yang pingsan itu, jika benua ini sama seperti benua dongchen Zen bisa saja mencari sebuah goa dan merawat Lin Yan disana.


Namun dari informasi yang dia dapatkan dari Duan Jie, monster yang ada dibenua ini jauh lebih berbahaya. Akan sangat beresiko baginya jika merawat Lin Yan didalam goa yang dapat diserang monster kapanpun.


Liu Yu melihat Lin Yan yang sedang digendong Zen, secara kadar dia dapat menebak pada yang terjadi. Tanpa banyak berfikir Liu Yu pun langsung pergi menuju kota dengan Zen mengikutinya.


Mereka berdua sama sama Berada dialam dewa, dengan kecepatan mereka berdua tidak akan membutuhkan waktu lama untuk sampai ke kota. Hanya dalam beberapa menit saja mereka telah sampai digerbang kota.


"Tunjukan padaku penginapan terdekat."


"Baiklah."


Liu Yu langsung menunjukan penginapan terdekat, begitu sampai Zen langsung memesan sebuah kamar dan membawa Lin Yan kesana.


"Untuk sekarang kau pergilah, jika ada yang ingin kau katakan kau bisa menemui ku besok disini."


Zen tidak membiarkan Liu Yu masuk kedalam kamar itu, dia mengusir Liu Yu dengan cukup halus.


"Bagaimana dengan perempuan itu?"


Liu Yu sedikit khawatir dengan keadaan Lin Yan saat ini.


"Dia hanya pingsan, kau tidak perlu khawatir."


"Tapi...."


Tentu saja Liu Yu tidak percaya dengan apa yang Zen katakan, meski Lin Yan terlihat sedang pingsan namun dimatanya entah kenapa dia terlihat sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"Jangan membuatku mengulangi perkataan yang sama."


Zen menatap Liu Yu dengan sangat tajam, melihat tatapan itu Liu Yu tiba tiba merasaka kedinginan.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Namun aku akan kembali lagi besok."


Meski Liu Yu tidak dapat mempercayai apa yang Zen katakan, namun untuk sekarang dia tidak memiliki pilihan lain.


"Lakukanlah sesukamu."


Sebelum Liu Yu pergi meninggalkannya, Zen telah lebih dahulu menutup pintu kamar itu. Zen lalu berjalan kearah Lin Yan yang terus mengeluarkan keringat itu.


"Sial, bagaimana ini bisa terjadi begitu cepat."

__ADS_1


Dengan penuh kecemasan Zen mengelus sebuah pil dan memasukannya kedalam mulut Lin Yan.


__ADS_2