
Setelah belasan hari berlayar, kapal yang dinaiki oleh Zen dan Grim akhirnya sampai kebenua Arca. Zen dan Grim segera turun dari kapal.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Untuk sekarang, bagaimana jika kita beristirahat."
"Baiklah."
Zen dan Grim berjalan dikota yang sangat asing bagi mereka berdua, meski begitu Zen tetap tenang karena dia telah sering mengalami hal yang seperti ini.
Setelah cukup lama berjalan dikota, mereka akhirnya sampai kedepan sebuah bangunan.
"Bukankah ini guild petualang?"
Dengan nada yang sedikit binggung Grim bertanya kepada Zen.
"Tapi dari kebanyakan orang yang kita tanya mereka merekomendasikan tempat ini."
Saat berkeliling dikota mereka bertanya kepada orang orang mengenai tempat istirahat yang bagus, lalu kebanyakan orang menunjuk kearah bangunan yang sekarang berada didepan mereka berdua.
"Apa kita bisa beristirahat disini?"
guild Petualang bukanlah tempat yang tenang, didalamnya pasti banyak orang orang yang berisi.
"Entahlah, tapi untuk sekarang mari kita masuk."
Dengan sedikit keraguan mereka berdua masuk kedalam guild petualang.
"Selamat datang."
Dari dalam seorang gadis cantik menyambut mereka, Gadis itu menyambut mereka berdua dengan Mambawa beberapa makanan dan minuman.
"Apa ini benar benar guild petualang?"
Grim sedikit binggung dengan apa yang dia lihat, isi dalam bangunan ini hampir sama dengan penginapan meskipun ini adalah guild Petualang.
Grim telah datang keberbagai guild petualang dibenua Arcana namun ini adalah pertama kalinya dia melihat guild petualang yang seperti ini.
"Aku tidak peduli ini guild Petualang atau bukan, yang lebih penting ayo kita beristirahat sebentar."
"Baiklah."
Mereka berdua langsung duduk di kursi yang kosong, dan tidak lama kemudian seorang pelayan perempuan datang ketempat mereka.
"Apa yang anda pesan?" Tanya pelayan itu.
"Tolong bawakan makanan dan minuman yang anda rekomendasikan."
Zen sama sekali tidak tau mana makanan dan minuman yang enak, dia lebih memilih untuk mendapatkan makanan yang direkomendasikan oleh yang ahli.
"Baiklah, kalau begitu tolong tunggu sebentar."
Pelayan itu pergi untuk mengambil pesanan Zen.
"Grim, mengenai yang kita bicarakan sebelumnya. Bagaimana caramu menempa pedang tanpa alat?"
Sejauh ini Zen masih sama sekali belum ada melihat alat yang akan digunakan oleh Grim untuk menempa pedang yang dia minta.
__ADS_1
"Ah, mengenai itu....."
"Terima kasih telah menuggu."
Pelayan perempuan itu datang kembali dengan membawa makanan dan minuman yang dia rekomendasikan.
Pelayan itu meletakkan makanan dan minumannya dimeja mereka dan langsung pergi.
Grim yang sudah kelaparan langsung memakannya sebelum dia menyelesaikan perkataanya yang sebelumnya.
"Jadi apa yang ingin kau katakan tadi?"
"Ah, mengenai itu. Kita akan pergi ketempat penempa senjata dan menyewa alat miliknya."
"Heh??"
Zen memasang Ekspresi yang terlihat sedikit masam.
"Ada apa emangnya?"
"Kau tau Grim, aku tidak mempunyai banyak uang."
Pada awalnya Zen menerima 100 koin emas dari Irene, namun kini jumlah koin emas yang dia miliki kurang dari 30 koin. Zen tidak tau apakah jumlah koin emas yang dia miliki sekarang dapat bertahan sampai dia mendapatkan pecahan kekuatannya yang ada di kuil abadi.
"Kau tenang saja, untuk masalah uang aku bisa membantumu."
"Terima kasih Grim."
Mereka berdua kembali makan, dan tiba tiba seorang pria dengan badan yang besar dan kekar berdiri dibelakang Zen dengan beberapa orang berada dibelakangnya.
"Bisakah kau menyingkir, aku ingin duduk disini."
Zen hanya diam sambil terus makan, Orang orang yang ada disana tidak ada yang berani membantu Zen, mereka bersikap seolah olah tidak ada yang terjadi.
"Hoi apa kau mendengarkan ku?"
Pria itu menekan pundak Zen dengan kuat, namun karena kekuatan miliknya masih jauh dibawah Zen tekanan pria itu sama sekali bukan sebuah masalah bagi Zen.
"Kau tidak melihat kalau aku sedang makan? Kau bisa pergi kesana jika kau sangat ingin duduk."
Dengan sendok ditangannya Zen menunjuk sebuah meja kosong yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang.
"Aku tidak akan kesana, aku menginginkan tempat ini."
"Kalau begitu tunggulah sampai aku selesai."
Dengan santai Zen kembali melanjutkan makan, pria itu menjadi sangat kesal perilaku Zen terhadap dirinya. Dia kemudian dengan kuat memukul meja Zen dan membuat makan menjadi berantakan.
"Kau ingin mati manusia rendahan."
Zen menjadi sangat kesal, dia mengeluarkan aura membunuh yang cukup besar. Zen kemudian menjentikkan jarinya dan sebuah rantai mengikat pria itu dengan kuat.
"Sialan apa yang kau lakukan?"
Para pengikut pria itu menjadi kesal dan mencoba untuk menyerang Zen.
"Bergeraklah dan kalian akan mati."
__ADS_1
mendengar kata ancaman dari Zen, Para pengikut itu langsung mengurungkan niat mereka untuk menyerang Zen.
"Pilihan yang bijak."
Zen lalu berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekati pria itu.
"Zen, jangan terlalu berlebihan."
Grim tau kalau sudah terlambat untuk menghentikan Zen, jadi setidaknya dia memberitau Zen untuk tidak terlalu membuat kekacauan.
Zen mengeluarkan sebuah belati, dengan belati itu dia membuat sebuah goresan dipipi pria itu.
"Apa ada yang ingin kau katakan untuk yang terakhir kalinya?"
Zen secara perlahan menurunkan belatinya sampai ke lehernya, Zen membuat sedikit goresan dia leher pria itu.
Merasakan aura yang Zen keluarakan, pria itu manjadi sangat ketakutan. Dia merasa kalau kematian sangat dekat dengannya.
"Berhenti."
Dari kejauhan seorang pria dengan wajah yang terlihat sangar menyuruh Zen untuk berhenti, Zen lalu menatap pria itu dengan tajam.
Sama dengan pria yang terikat rantai itu, pria yang melihat tatapan Zen itu menjadi ketakutan dan hampir tidak dapat bergerak.
"Bagaimana jika kita membicarakan hal ini baik baik?"
Dengan ketakutan yang mengelilinginya, pria itu meminta Zen untuk sedikit tenang.
"Bagaiman jika kita mendengarkan apa yang dia katakan Zen, mungkin itu akan menguntungkan bagi kita."
Grim memberikan saran kepada Zen, lagipula pria dengan muka yang sangar itu terlihat seperti orang yang penting.
"Baiklah, kurasa tidak ada salahnya mendengarkan apa yang akan dia katakan."
Zen menyimpan kembali belati miliknya, dan dia berhenti mengeluarkan aura membunuhnya.
Dia kemudian menjentikkan jarinya dan rantai yang mengikat pria itupun langsung menghilang.
Zen melihat pria yang sangat ketakutan itu, sebuah genangan air dapat terlihat dibawahnya dan Zen menjadi sangat jijik.
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran."
'Ba... Ba.... Baik."
Pria itu langsung pergi dengan beberapa pengikutnya.
"Lalu apa yang ingin kau katakan?"
Zen kembali menatap pria yang tadi menyuruh dirinya untuk berhenti. Pria itu dengan cepat langsung mendekati Zen.
"Mungkin kurang baik jika kita membicarakannya disini. Bagaimana jika kita berbicara diruanganku?"
"Baiklah."
Pria itu mulai berjalan menuju keruangannya.
"Ayo Grim."
__ADS_1
"Baiklah."
Zen dan Grim dengan santai mengikuti pria itu dari belakangnya.