Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Bahan Untuk Menempa


__ADS_3

"jadi apa yang ingin kau bicarakan?"


Mereka telah berada diruangan pria itu, dan Zen segera bertanya kepadanya.


"Sebelum itu izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Griadin guliad. Aku adalah seorang guild master, dan dia adalah...."


"Saya adalah rosvelt, saya adalah sekretarisnya."


Seorang wanita cantik yang berada disamping Griadin memperkenalkan dirinya.


"Namaku Zen Cavalier, dan dia adalah...."


"Grim, Grim Vanevara."


"Kalau begitu Zen dan Grim, aku ingin meminta maaf atas perbuatan orang yang tadi."


"Kenapa aku harus meminta maaf untuk dirinya?"


"Itu karena dia adalah seorang petualang dari guild ini, jadi mewakili dirinya aku meminta maaf kepada kalian atas perbuatannya."


"Aku bisa saja memaafkan dirinya, tapi kau harus memberikan apa yang kami inginkan."


"Apa yang kau inginkan? Selama itu masih dalam jangkauanku aku dapat memberikan nya."


"Itu mudah, berikan aku peta benua ini dan pinjamkan aku sebuah tempat untuk menempa senjata."


"Apa hanya itu?"


Griadin sedikit terkejut dengan permintaan Zen, sebelumnya dia berfikir kalau Zen akan meminta sesuatu yang akan sulit untuk dia berikan. Namun apa yang dia pikirkan itu salah, Zen tidak meminta sesuatu yang seperti itu.


"Ya, apa kau kesulitan memberikan apa yang kuminta?"


Bagi Zen kedua hal itu adalah yang terpenting untuk saat ini, karena dia baru saja datang kebenua ini dia sama sekali tidak mengetahui dimana letak kekaisaran Zilion yang merupakan tempat pecahan kekuatannya berada.


Begitu juga dengan tempat menempa, menurut Zen jika mereka dapat menggunakan alat menempa dengan gratis maka mereka mereka tidak perlu lagi memikirkan tentang uang.


"Tidak, tidak, aku dapat memberikannya."


Dengan posisinya sebagai guild master sangat mudah bagi Griadin untuk memberikan apa yang diminta oleh Zen.


"Rosvelt cepat ambilkan peta yang kita punya."


"Baik."


Rosvelt mendengarkan perintah Griadin, Rosvelt langsung mengambil peta dunia yang mereka punya.


"Mengenai tempat menempa nya, di guild ini kami memilikinya apa kau tidak keberatan untuk menggunakannya?"


"Aku tidak keberatan, apa kau keberatan Grim?"


"Tidak, selama alatnya masih dapat digunakan dengan baik maka aku sama sekali tidak keberatan."

__ADS_1


"Seperti yang telah kau dengar."


"Baiklah kalau begitu silahkan ikuti saya."


Mereka bertiga hendak berdiri dari kursi, namun Rosvelt telah kembali dengan peta benua Arca ditangannya.


"Ini ketua."


"Terima kasih Rosvelt."


Griadin kemudian memberikan peta itu kepada Zen, Zen menerima peta itu dan langsung menyimpannya.


"Apa kau tidak ingin melihat isinya terlebih dahulu?"


"Aku bisa melakukannya nanti."


"Hmm, kalau begitu ayo kita pergi."


Mereka berempat pergi meninggalkan ruangan itu, setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai ketempat menempa senjata.


Ditempat itu sudah ada orang yang sedang menempa sebuah pedang. Grim tertarik dengan orang itu, diapun Langsung datang dan melihatnya menempa pedang itu.


"Kau tertarik padanya Grim?"


"Iya, sangat jarang melihat orang seperti dirinya. Dan juga lihatlah pedang itu sudah selesai."


Sesuai dengan apa yang Grim katakan, tidak lama mereka disana pria itu telah menyelesaikan pedangnya.


"Oh hoo, hampir saja bukan."


"Pedang itu hampir setara dengan pedang milikmu."


"Yah kurasaka kau tidak salah, itu hanya satu tingkat lebih rendah."


Senjata milik Grim adalah senjata senjata rare epic tingkat 1, sedangkan pedang yang baru saja pria itu selesaikan adalah senjata rare epic tingkat 2. Pedang itu hanya satu 1 dibawah pedang milik Grim.


Meski begitu pria penempa itu sangat puas dengan senjata yang dia buat, ekspresi puas dapat terlihat diwajahnya.


Setelah beberapa saat menatapi pedang miliknya, sang pria itu akhirnya sadar aku ada orang lain yang sedang melihatnya. Diapun langsung mengambil ekspresi tenang dan mulai berbicara.


"Apa kalian kesini untuk menempa sebuah senjata?"


"Iya, bisa dibilang begitu."


"Kalau begitu maaf, aku tidak menerima tempahan."


Dengan penuh percaya diri pria itu berbicara kepada Grim. Grim yang mendengar perkataan pria itu pun hampir tertawa, Grim tidak tau dari mana kepercayaan diri pria itu datang. Namun Grim menahan tawanya, itu karena Grim adalah orang yang tidak terlalu suka merendahkan orang lain.


"Sepertinya anda salah paham, memang benar kami kesini untuk menempa senjata. Namun kami tidak memintanya kepada anda, kami akan membuatnya sendiri."


"Oh, kalau begitu silahkan."

__ADS_1


Pria itu bergeser dan membiarkan Grim untuk mulai bekerja.


"Ngomong ngomong Zen, mana bahan yang kau katakan?"


"Aku bisa saja memberikannya sekarang, hanya saja...."


Zen melihat kearah Griadin, Rosvelt dan pria penempa itu.


"Bisakah kalian berjanji kepadaku?"


"Berjanji apa?"


Mewakili mereka bertiga Griadin bertanya, dia sama sekali tidak menemukan alasan mengapa Zen menyuruh mereka untuk berjanji.


"Bisakah kalian berjanji untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang apa yang kalian lihat disini. Jika tidak bisa maka kalian harus keluar."


"Kami berjanji."


"Baiklah kuharap kalian tidak mengingkari janji itu."


Zen langsung mengeluarkan sepuluh pedang miliknya dan sebuah pecahan dari batu akashir record.


"Zen, apa kau bercanda denganku? Apa bahan yang kau maksud adalah semua pedang itu?"


Tidak hanya Grim, namun Griadin dan yang lainnya juga terkejut ketika Zen mengeluarkan 10 pedang itu. Meski tidak melihat dari dekat, namun mereka tau kalau itu bukanlah pedang biasa.


"Griadin apa aku salah lihat?"


"Jika kau salah lihat maka aku pasti juga."


Mereka tidak mencerna dengan baik apa yang mereka lihat. Bagaimanapun ke sepuluh pedang itu adalah pedang yang sangat langka di dunia ini. Bahkan biasanya setiap negara hanya memiliki satu saja, namun sekarang mereka melihat ada sepuluh pedang didepan mata.


"10 pedang dan pecahnya batu itu adalah bahannya."


"Apa kau bercanda? Kau pikir api biasa dapat melelehkan pedang itu?"


Tentu saja api biasa tidak akan dapat melelehkan pedang itu, Grim sendiri bahkan tidak tau api apa yang akan dapat melelehkan pedang itu.


"Kau tenang saja Grim, aku yang akan melelehkan pedang itu."


"Haa, kalau begitu terserahmu lah."


Grim sama sekali tidak dapat memahami Zen, bagi Grim pedang milik Zen sudah sangatlah bagus. Bahkan dia sendiri tidak dapat membuat pedang yang seperti itu, namun sekarang Zen ingin melelehkan pedang itu dan menyuruh dirinya untuk membentuknya kembali menjadi sebuah pedang.


Grim menjadi sedikit kurang percaya diri, dan juga dia sedikit binggung dengan batu yang Zen maksud. Ini adalah pertama kalinya bagi dirinya mendengar kalau sebuah batu dapat diubah menjadi sebuah pedang.


'Tapi yasudah lah, aku hanya harus mengubahnya menjadi pedang saja.'


"Kalau begitu aku akan melelehkannya sekarang."


Dari tangannya Zen mengeluarkan sebuah api kecil berwarna ungu, meski api itu sekecil bola kasti namun Grim dapat merasakan panas api itu. Grim sedikit terkejut karena api sekecil itu dapat mengeluarkan panas yang hebat, diapun langsung bertanya kepada Zen.

__ADS_1


"Tunggu sebentar Zen, api apa itu?"


"Ah ini. ini adalah api abadi."


__ADS_2